Hukum Arisan

Arisan (al jam’iyyah/al jumu’ah)[1] sebenarnya masuk dalam kategori al qordh[2] (hutang-piutang) yang hukum asalnya boleh. Disebut jam’iyyah karena mereka seperti organisasi/kumpulan, disebut al jumu’ah karena dulu biasanya para wanita melakukan ‘arisan’ ini tiap hari Jum’at.

Dalam Hasyiyah Al Qolyûby, 2/258 dinyatakan:

فرع: الجمعة المشهورة بين النساء بأن تأخذ إمرأة من كل واحدة من جماعة منهم قدراً معيناً في كل جمعة أو شهر وتدفعه لواحدة بعد واحدة إلى آخرهن جائزة كما قاله الولي العراقي

(Far’un) Jumu’ah yang masyhur dikalangan para wanita, yaitu seorang wanita mengambil dari setiap wanita dari jama’ah para wanita sejumlah (uang) tertentu pada setiap hari Jum’at atau setiap bulan dan menyerahkan keseluruhannya kepada salah seorang, sesudah yang lain, sampai orang terakhir dari jamaah tersebut adalah boleh sebagaimana pendapat Al-Wali al-‘Iraqi.

Diantara hal yang harus diperhatikan adalah tidak boleh menarik keuntungan, yakni total jumlah yang disetorkan harus sama dengan jumlah yang diperoleh. Dalam I’anatut Thalibin, 3/53 dinyatakan:

وَاَمَّا الْقَرْضُ بِشَرْطِ جَرِّ نَفْعٍ لِمُقْرِضٍ فَفَاسِدٌ لِخَبَرِ “كُلُّ قَرْضٍ جَرَّنَفْعًا فَهُوَ رِبَا”

Adapun pinjaman dengan syarat menarik keuntungan (manfaat) bagi orang yang meminjamkan, maka hukumnya tidak sah. Berdasarkan hadits, “Setiap pinjaman yang menarik manfaat adalah riba.”

Karena itu, alangkah baiknya bila jamuan pertemuan arisan ditanggung bersama, hingga tidak adalagi syubhat/kesamaran lagi terjerumus kedalam riba, yakni yang menghutangi mengambil manfaat dengan menikmati jamuan orang yang dihutangi. Begitu hati-hatinya imam Al Hasan rahimahullah, hingga beliau menyatakan:

إِذا كَانَ لَك على رجل دين فَمَا أكلت من بَيته فَهُوَ سحت

Jika engkau punya piutang kpd orang lain, maka apa yang engkau makan dari rumahnya adalah haram. (al Kabâ-ir, hal 64). Moga Allah menghindarkan kita dari hal-hal tersebut. Allâhu A’lam. [M. Taufik N.T]

Baca Juga:

[1] الجمعية معناها : أن يجتمع مثلاً هؤلاء الموظفون ويقولون : نريد نقتطع من راتب كل واحد منا ألف ريال , نعطيه للأول , والشهر الثاني للثاني , والشهر الثالث للثالث ، حتى تدور عليهم كلهم، وكانت تسمى قديماً بـ “الجمعة” باعتبار أنهم يجمعون المال كل جمعة .

[2] Syafi’iyah mendefinisikan al qordh dengan:

تمليك شيء مالي للغير على أن يردّ بدله من غير زيادة.

Pemindahan suatu harta kepada orang lain dengan ketentuan untuk dikembalikan gantinya kepadanya tanpa adanya tambahan (al Fiqh al Manhaji , 6/101). Senada dengan Sayyid Sabiq yang mendefinisi qardh dengan:

الْقَرْضُ هُوَ الْمَالُ الَّذِيْ يُعْطِيْهِ الْمُقْرِضُ لِلْمُقْتَرِضُ لِيَرُدَّ مِثْلَهُ إِلَيْهِ عِنْدَ قُدْرَتِهِ عَلَيْهِ

“Al-qardh adalah harta yang diberikan oleh pemberi hutang (muqrid) kepada penerima utang (muqtarid) untuk kemudian dikembalikan kepadanya (muqridh) seperti yang diterimanya, ketika ia telah mampu membayarnya.” (Fiqh As-Sunnah, juz 3, hal 128.)

Posted on 6 Agustus 2016, in Ekonomi, Fiqh, Syari'ah and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s