Bolehkah Menggugurkan Kandungan 2 Bulan dengan Alasan Ekonomi?

…ana punya anak 3, … slm menempuh perkawinan kurang lebih 10 tahun ana memgalami pasang surut ekonomi. yg paling terasa 2 tahun ini…dg anak 3 ini jujur ana merasa sangat berat ust. (yaa Allah lindungi ulun dari kekufuran nikmat). makanya ana bersefakat dg istri bila berhubungan maka akan melakukan ‘azel (kb tanpa obat). namun Allah berkehendak lain, rencana ana untuk tdk mempunyai anak lagi sementara waktu ternyata dikasih (hamil).

ana bersama istri baru dtg dr bidan, dr keterangan beliau umur kandungan ga nyampe 2 bln. yg menjadi pertanyaan :

1. umur brp janin ditiupkan ruhnya?

2. bolehkah ana menyuruh istri menggugurkan kandungan dg pertimbangan ekonomi?.

3. tolong penjelasan bagaimana stts hukkumnya [0853**94****]

 

Semoga Allah melapangkan rizki dan hati sampiyan dan keluarga, hingga mampu bersabar atas kehidupan dunia yang sementara ini.

Hal pertama yang mendesak diselesaikan adalah masalah keyakinan (i’tiqad) tentang rizki, bukan masalah aborsi/pengguguran janin, apalagi masalah ekonomi. Yakinlah bahwa secara hakiki bukanlah kita yang memberi rizki anak kita, setiap yang bernyawa itu menjadi tanggungan Allah untuk memberinya rizki.

وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ

“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kami lah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu.” (QS. Al Isra’: 31)

Sikap dan keyakinan inilah yang harus senantiasa dipupuk direlung hati kita. Kan belum tentu jika kita tidak punya anak lantas ekonomi kita membaik, begitu juga sebaliknya. Setiap anak lahir membawa rizkinya sendiri-sendiri, sang ayah hanyalah salah satu “keran air” yang menyalurkan ke mereka, ‘ajaibnya, walaupun hanya menyalurkan, jika sang ayah melakukannya dengan ikhlas dan benar, dia akan memperoleh pahala shadaqah.

Hal kedua, jika ingin Allah kayakan kita, maka hal terpenting yang harus dilakukan adalah mencoba melayakkan diri untuk siap diamanahi kekayaan, karena bisa jadi Allah memandang kita tidak siap kaya, hingga jika diberi kekayaan berlebih bisa merusak agama kita. Berapa banyak orang yang menyimpang dari kebenaran justru ketika dia diberi banyak harta? Allah berfirman:

وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ

“Dan jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS. Asy Syûrâ: 27)

Imam Ibnu Katsir menjelaskan:

لَوْ أَعْطَاهُمْ فَوْقَ حَاجَتِهِمْ مِنَ الرِّزْقِ، لَحَمَلَهُمْ ذَلِكَ عَلَى الْبَغْيِ وَالطُّغْيَانِ مِنْ بَعْضِهِمْ عَلَى بَعْضٍ، أَشَرًا وَبَطَرًا

“Seandainya Allah memberi merekarizki lebih dari apa yang mereka perlukan, niscaya hal itu akan mendorong mereka untuk bersikap melampaui batas dan berlaku sewenang-wenang satu dengan yang lain, dengan penuh kejahatan dan keangkuhan.

Di bagian lain, beliau mengutip hadits qudsi:

إِنَّ مِنْ عِبَادِي لَمَنْ لَا يُصْلِحُهُ إِلَّا الْغِنَى، وَلَوْ أَفْقَرْتُهُ لَأَفْسَدْتُ عَلَيْهِ دِينَهُ، وَإِنَّ مِنْ عِبَادِي لَمَنْ لَا يُصْلِحُهُ إِلَّا الْفَقْرُ، وَلَوْ أَغْنَيْتُهُ لَأَفْسَدْتُ عَلَيْهِ دِينَهُ

“Sesungguhnya di antara hamba-hamba-Ku benar-benar terdapat orang yang tidak pantas baginya kecuali hanya kaya. Seandainya Aku jadikan dia miskin, tentulah Aku (dengan kemiskinan itu) akan merusak agamanya. Dan sesungguhnya di antara hamba-hamba-Ku benar-benar terdapat orang yang tidak layak baginya kecuali hanya miskin. Seandainya Aku jadikan dia kaya, niscaya Aku (dengan kekayaannya itu) akan merusak agamanya. ” [1]

Adapun berkaitan dengan pertanyaan sampiyan:

Peniupan ruh kepada janin terjadi saat janin berusia 4 bulan, berdasarkan hadits:

إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا، ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَبْعَثُ اللَّهُ إِلَيْهِ مَلَكًا بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ، فَيُكْتَبُ عَمَلُهُ، وَأَجَلُهُ، وَرِزْقُهُ، وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ، ثُمَّ يُنْفَخُ فِيهِ الرُّوحُ،

“Sesungguhnya setiap kamu terkumpul kejadiannya dalam perut ibumu selama 40 hari dalam bentuk ‘nuthfah’, kemudian dalam bentuk ‘alaqah’ selama itu pula, kemudian dalam bentuk ‘mudghah’ selama itu pula, kemudian ditiupkan ruh kepadanya.” [HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ahmad, dan Tirmidzi].

Oleh karena itu para ahli fiqh sepakat bahwa aborsi (pengguguran kandungan) setelah kandungan berumur 4 bulan adalah haram, karena berarti membunuh makhluk yang sudah bernyawa.

Adapun aborsi sebelum janin berusia 4 bulan, para ahli fiqh berbeda pendapat. Pendapat yang dikuatkan oleh Syaikh Abdul Qadim Zallum adalah haram melakukan aborsi jika janin sudah berusia 40 hari[2], berdasar hadits:

إِذَا مَرَّ بِالنُّطْفَةِ ثِنْتَانِ وَأَرْبَعُونَ لَيْلَةً، بَعَثَ اللهُ إِلَيْهَا مَلَكًا، فَصَوَّرَهَا وَخَلَقَ سَمْعَهَا وَبَصَرَهَا وَجِلْدَهَا وَلَحْمَهَا وَعِظَامَهَا، ثُمَّ قَالَ: يَا رَبِّ أَذَكَرٌ أَمْ أُنْثَى؟ فَيَقْضِي رَبُّكَ مَا شَاءَ،.

“Jika nutfah (setelah tercampur dg sel telur) telah lewat empat puluh dua malam, maka Allah mengutus seorang malaikat padanya, lalu dia membentuk nutfah tersebut; dia membuat pendengarannya, penglihatannya, kulitnya, dagingnya, dan tulang belulangnya. Lalu malaikat itu bertanya (kepada Allah), ‘Ya Tuhanku, apakah dia (akan Engkau tetapkan) menjadi laki-laki atau perempuan?’ Maka Allah kemudian memberi keputusan sesuai apa yang Dia kehendaki…” [HR. Muslim dari Ibnu Mas’ud r.a.].

Dalam riwayat lain, Rasulullah Saw bersabda:

أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

“(jika nutfah telah lewat) empat puluh malam…”[3]

Hadits di atas menunjukkan bahwa permulaan penciptaan janin dan penampakan anggota-anggota tubuhnya, adalah sete¬lah melewati 40 atau 42 malam. Dengan demikian, penganiayaan terhadapnya adalah suatu penganiayaan terhadap janin yang sudah mempunyai tanda-tanda sebagai manusia yang terpelihara darahnya (ma’shumud dam).

Jadi, buanglah pemikiran untuk menggugurkan janin tersebut, sebaliknya mantapkan hati, dan mohon pertolongan, bekerja, tawakkal dan juga senantiasa berdzikir dan berdo’a kepada Allah agar dilapangkan dan diberkahi rizki sampiyan dan dzuriyat sampiyan. Allaahu A’lam. [M. Taufik NT]

Baca Juga:


[1] Tafsir Ibnu Katsir, 7/206, Maktabah Syamilah

[2] Hukmus Syar’i fil Istinsyâkh…, bab Al Ijhâdl, dokumen pribadi, beliau menyatakan:

والذي يغلب على ظننا أن الإسقاط إن حصل بعد أربعين يوماً، أو اثنين وأربعين يوماً من الحمل، وعند بدء التخلق للجنين، فإنه يكون حراماً

[3] إِنَّ النُّطْفَةَ تَقَعُ فِي الرَّحِمِ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً، ثُمَّ يَتَصَوَّرُ عَلَيْهَا الْمَلَكُ» قَالَ زُهَيْرٌ: حَسِبْتُهُ قَالَ الَّذِي يَخْلُقُهَا ” فَيَقُولُ: يَا رَبِّ أَذَكَرٌ أَوْ أُنْثَى، فَيَجْعَلُهُ اللهُ ذَكَرًا أَوْ أُنْثَى،

Posted on 15 Juli 2016, in Afkar, Fiqh, Ikhtilaf, Rumah Tangga, Syari'ah and tagged , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Masih banyak saudara kita yg menginginkan anak tetapi Allah belum berkehendak untuk memberinya.. Jgn berpikir untuk menggugurkan,, yaa allah berilah hamba keturunan yg sholih/sholihah

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s