Muslim Menikahi Wanita Kristen/Yahudi, Bolehkah?

 

Mayoritas ‘ulama (mazhab Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad), telah sepakat tentang bolehnya seorang laki-laki muslim menikahi wanita Ahli Kitab[1], yaitu wanita beragama Yahudi dan Nashrani (Kristen), sesuai firman Allah SWT :

وَالْمُحْصَنَاتُ مِنْ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنْ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ

(Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan[2] di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, (QS Al Mâ`idah : 5).

Berbeda halnya jika wanita muslimah menikah dengan lelaki non muslim maka haram hukumnya berdasarkan surat al Mumtahanah ayat :10[3].

Hanya saja, Imam as Syafi’i membatasi kebolehan tersebut hanya untuk wanita Ahli Kitab dari kalangan Bani Israil saja, sesuai dengan atsar Atha’ bin Abi Rabah:

لَيْسَ نَصَارَى الْعَرَبِ بِأَهْلِ كِتَابٍ إنَّمَا أَهْلُ الْكِتَابِ بَنُو إسْرَائِيلَ وَاَلَّذِينَ جَاءَتْهُمْ التَّوْرَاةُ وَالْإِنْجِيلُ فَأَمَّا مَنْ دَخَلَ فِيهِمْ مِنْ النَّاسِ فَلَيْسُوا مِنْهُمْ

“Orang-orang Nashrani Arab bukanlah Ahli Kitab, Ahli Kitab itu hanyalah orang-orang Bani Israil yang datang kepada mereka kitab Taurat dan Injil. Adapun siapa saja (bukan bangsa Bani Israil) yang masuk ke dalam (agama) mereka, maka mereka itu tidaklah termasuk golongan mereka (Ahli Kitab).” (Al Umm, juz 5 hal 8)

Kalangan Syafi’iyyah juga mensyaratkan bahwa ahlul kitab tersebut  masuk ke agama Yahudi/Nashrani pada saat kitab mereka (Taurat/Injil) belum mereka ubah-ubah atau simpangkan. [4]

Adapun jumhur (mayoritas) ulama  membolehkan laki-laki muslim menikahi wanita Ahli Kitab secara mutlak, baik wanita itu dari Bani Israil maupun bukan Bani Israil. Alasannya bahwa ayat 5 dalam surat Al Maidah tersebut berlaku mutlak, yaitu membolehkan menikahi wanita muhshanat yang diberi Al Kitab sebelum umat Islam, tanpa menyinggung sama sekali bahwa mereka itu harus dari keturunan Bani Israil. Berkaitan dengan ini Syaikh Wahbah az Zuhaili berkata :

والراجح لدي هو قول الجمهور، لإطلاق الأدلة القاضية بجواز الزواج بالكتابيات، دون تقييد بشيء

“Pendapat yang rajih bagiku adalah pendapat jumhur, karena kemutlakan dalil-dalil yang memutuskan bolehnya menihaki wanita-wanita Ahli Kitab, tanpa ada taqyiid (pembatasan) dengan sesuatu (syarat).”[5]

Begitu juga tindakan Rasulullah SAW dalam memperlakukan Ahli Kitab adalah berdasar agamanya, bukan nenek moyangnya, tidak ditemukan riwayat bahwa beliau SAW meneliti apakah nenek moyang mereka itu ketika pertama kali masuk Yahudi/Nashrani kitabnya masih asli ataukah sudah mengalami perubahan dan pergantian.

Alasan berikutnya, ayat-ayat Al Qur`an yang turun berkaitan dengan Yahudi dan Nashrani pada zaman Nabi SAW, sudah menggunakan panggilan “Ahli Kitab” kepada mereka, padahal mereka pada saat itu sudah menyimpang dari agama asli mereka, bukan orang-orang yang masih menjalankan kitabnya yang murni/asli.

Oleh sebab itu, menurut jumhur ‘ulama selain Syafi’iyyah, seorang lelaki muslim boleh menikahi wanita Ahli Kitab secara mutlak, tanpa memandang apakah dia  bangsa Israil atau tidak, juga tanpa memandang apakah kitabnya sudah berubah atau tidak.

Hanya saja, jika seseorang menduga kuat bakalan condong hatinya kepada agama wanita tersebut, maka menikahinya bisa jadi haram. Di sisi lain hukum asalnya tetap boleh/mubah.

Itu dari sisi kebolehan, namun hal yang harus diperhatikan adalah bahwa sebaik-baik wanita adalah wanita yang beriman, sebaik-baik pernikahan adalah pernikahan dalam rangka keta’atan, saling membantu meraih ridha Allah SWT. Beberapa shababat memang menikahi wanita ahlul kitab, menolong dan mendakwahi wanita tersebut dan akhirnya biidznillaah wanita tersebut masuk Islam, atau minimal wanita tersebut atau keluarga besarnya menjadi mengerti akan keagungan Islam.

Rasulullah saw pernah berkata:

لِيَتَّخِذْ أَحَدُكُمْ قَلْبًا شَاكِرًا، وَلِسَانًا ذَاكِرًا، وَزَوْجَةً مُؤْمِنَةً، تُعِينُ أَحَدَكُمْ عَلَى أَمْرِ الْآخِرَةِ

“Hendaknya salah seorang dari kalian menjadikan hati yang bersyukur, lisan yang berdzikir dan isteri mukminah yang menolong salah seorang dari kalian dalam urusan akhiratnya.” [HR. Ibnu Majâh]

Diriwayatkan pula bahwa Rasulullah pernah bersabda:

لَا تَزَوَّجُوا النِّسَاءَ لِحُسْنِهِنَّ، فَعَسَى حُسْنُهُنَّ أَنْ يُرْدِيَهُنَّ، وَلَا تَزَوَّجُوهُنَّ لِأَمْوَالِهِنَّ، فَعَسَى أَمْوَالُهُنَّ أَنْ تُطْغِيَهُنَّ، وَلَكِنْ تَزَوَّجُوهُنَّ عَلَى الدِّينِ، وَلَأَمَةٌ خَرْمَاءُ سَوْدَاءُ ذَاتُ دِينٍ أَفْضَلُ

“Janganlah kalian menikahi wanita karena kecantikannya, bisa jadi kecantikannya itu merusak mereka[6]. Janganlah menikahi mereka karena harta-harta mereka, bisa jadi harta-harta mereka itu membuat mereka sesat. Akan tetapi nikahilah mereka berdasarkan agamanya. Seorang budak wanita berkulit hitam yang telinganya sobek tetapi memiliki agama adalah lebih utama.” [HR. Ibnu Majâh][7]. [M.Taufik N.T]

Baca Juga:


[1] Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 7/143-144.

[2]Muhsanat ada yang mengartikan wanita merdeka, sebagaimana dalam tafsir al Qurthuby:

وَرُوِيَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى:” وَالْمُحْصَناتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتابَ”. هُوَ عَلَى الْعَهْدِ دُونَ دَارِ الْحَرْبِ فَيَكُونُ خَاصًّا. وَقَالَ غَيْرُهُ: يَجُوزُ نِكَاحُ الذِّمِّيَّةِ وَالْحَرْبِيَّةِ لِعُمُومِ الْآيَةِ. وَرُوِيَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ:” الْمُحْصَناتُ” الْعَفِيفَاتُ الْعَاقِلَاتُ. وَقَالَ الشَّعْبِيُّ: هُوَ أَنْ تُحْصِنَ فَرْجَهَا فَلَا تَزْنِي، وَتَغْتَسِلُ مِنَ الْجَنَابَةِ. وَقَرَأَ الشَّعْبِيُّ” وَالْمُحْصِنَاتُ” بِكَسْرِ الصَّادِ، وَبِهِ قَرَأَ الْكِسَائِيُّ. وَقَالَ مُجَاهِدٌ:” الْمُحْصَناتُ” الْحَرَائِرُ، قَالَ أَبُو عُبَيْدٍ: يَذْهَبُ إِلَى أَنَّهُ لَا يَحِلُّ نِكَاحُ إِمَاءِ أَهْلِ الْكِتَابِ، لِقَوْلِهِ تَعَالَى:” فَمِنْ مَا مَلَكَتْ أَيْمانُكُمْ مِنْ فَتَياتِكُمُ الْمُؤْمِناتِ” «3» ] النساء: 25] وَهَذَا الْقَوْلُ الَّذِي عَلَيْهِ جُلَّةُ الْعُلَمَاءِ.

[3] Al Mumtahanah ayat 10:

فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ مُؤْمِنَاتٍ فَلَا تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ لَا هُنَّ حِلٌّ لَّهُمْ وَلَا هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ

“maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka.”

[4] Di dalam Takmilah al Muthi’i atas al Majmu’ Syarh alMuhadzdzab, diperjelas dan ditambahkan tentang keharaman menikahi wanita ahlul kitab saat kitab taurat dan injilnya telah berubah:

ومن دخل في دين اليهود والنصارى بعد التبديل لا يجوز للمسلم أن ينكح حرائرهم ولا أن يطأ اماءهم بملك اليمين لانهم دخلوا في دين باطل فهم، كمن ارتد من المسلمين، ومن دخل فيهم ولا يعلم أنهم دخلوا قبل التبديل أو بعده كنصارى العرب وهم تنوخ وبنو تغلب وبهراء لم يحل نكاح حرائرهم ولا وطئ امائهم بملك اليمين، لان الاصل في الفروج الحظر فلا تستباح مع الشك.

[5] Al Fiqh Al Islami wa Adillatuhu, 9/147

[6] Karena ‘ujub dan sombong dengan kecantikan

[7] Syarh :

[شرح محمد فؤاد عبد الباقي]

[ش (أن يرديهن) أي يوقعهن في الهلاك بالإعجاب والتكبر. (تطغيهن) أن توقعهن في المعاصي والشرور. (خرماء) أي مقطوعة بعض الأنف ومثقوبة الأذن. (أفضل) أي من الحرة. وهذا مثل قوله تعالى ولأمة مؤمنة خير من مشركة] .

Posted on 12 Juli 2016, in Rumah Tangga, Syari'ah and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s