Mustahil Kesulitan Bisa Mengalahkan Kemudahan

“Seandainya kesulitan datang, lalu masuk ke dalam batu ini, niscaya kemudahan akan datang dan masuk ke dalamnya, lalu (kemudahan) akan mengeluarkannya”.

Membuat dan menetapkan aturan dengan berlepas dari hukum Allah, walau mungkin terlihat memudahkan banyak orang, namun pada hakikatnya telah menyusahkan kehidupan orang banyak

***

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا – إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al Insyiroh: 5-6).

Diriwayatkan bahwa Anas bin Malik r.a berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَالِسًا وَحِيَالَهُ حجر، فقال: لو جاء العسر فدخل هذا الحجر لَجَاءَ الْيُسْرُ حَتَّى يَدْخُلَ عَلَيْهِ فَيُخْرِجَهُ

Nabi Saw. duduk dan di hadapannya terdapat sebuah batu, maka beliau Saw. bersabda: “Seandainya kesulitan datang, lalu masuk ke dalam batu ini, niscaya kemudahan akan datang dan masuk ke dalamnya, lalu (kemudahan) akan mengeluarkannya”.[1]

Al Hasan menceritakan:

خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا مَسْرُورًا فَرِحًا وَهُوَ يَضْحَكُ، وَهُوَ يَقُولُ: “لَنْ يَغْلِبَ عُسْرٌ يُسْرَيْنِ، لَنْ يَغْلِبَ عُسْرٌ يُسْرَيْنِ، فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا، إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Suatu hari Nabi Saw. keluar dalam keadaan senang dan riang seraya tersenyum, lalu bersabda: Satu kesulitan tidak akan dapat mengalahkan dua kemudahan, satu kesulitan tidak akan dapat mengalahkan dua kemudahan. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”.[2]

Abu ‘Ubaidah bin Al Jarrah r.a pernah menulis surat kepada ‘Umar bin al Khattab r.a, memberitakan tentang besarnya kekuatan kaum Romawi yang mereka hadapi, maka ‘Umar bin Al Khattab membalas surat tersebut, yang diantara isinya:

أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّهُ مَهْمَا يَنْزِلُ بِعَبْدٍ مُؤْمِنٍ مِنْ مَنْزِلِ شِدَّةٍ، يَجْعَلِ اللَّهُ بَعْدَهُ فَرَجًا، وَإِنَّهُ لَنْ يَغْلِبَ عُسْرٌ يُسْرَيْنِ، وَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ فِي كِتَابِهِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصابِرُوا وَرابِطُوا، وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Amma ba’du, sesungguhnya tidaklah Allah menurunkan kesulitan pada seorang mukmin melainkan setelah itu Allah akan datangkan kegembiraan padanya. Dan sesungguhnya, tidak akan terjadi satu kesulitan mengalahkan dua kemudahan. Dan sesungguhnya Allah Ta’ala berkata dalam kitab-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصابِرُوا وَرابِطُوا، وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (QS. Ali Imron: 200)”[3]

Bila kesulitan dihadapi dengan tekad yang sungguh-sungguh dan berusaha dengan sekuat tenaga dan pikiran untuk melepaskan diri daripadanya sesuai dengan ketentuan (syari’ah) yang Allah turunkan, tekun dan sabar serta tidak mengeluh atas ‘kelambatan’ datangnya kemudahan, pasti kemudahan itu akan tiba.

Sebaliknya, jika mencari jalan penyelesaian yang lain, bukan dengan penyelesaian yang telah Allah syari’atkan, mungkin saja dia merasa mendapatkan berbagai kemudahan, namun dibalik kemudahan yang tidak syar’i itu telah melilit berbagai kesulitan.

Berpacaran itu sepintas mudah, tak perlu tanggung jawab yang lebih, namun dibalik itu berbagai kesulitan menghadang, mulai bisa terjadi ‘kecelakaan’ hingga aborsi yang berujung hidup dibalik terali besi, patah hati yang tak kunjung teratasi, hingga yang terberat adalah murka Allah swt, Dzat yang tidak bisa diajak kompromi dengan suap dan kolusi.

Berzina dengan pel**ur sepintas terlihat lebih mudah daripada menikah, ‘untuk menikmati sate kambing, tidak usah repot-repotlah memelihara kambing’ kata orang yang hobbynya ‘begitu’, namun walaupun demikian, lihat saja betapa sempitnya hidup mereka, mesti masih didunia, jiwanya senantiasa merasa kurang, kurang, dan kurang, tingkat kepuasannya (mungkin) juga senantiasa merosot tajam sehingga akhirnya tidak puas hanya dengan satu pel**ur, harus dengan dua, lama-lama tidak puas dengan wanita, harus dengan lelaki, lama-lama lagi tdk puas dengan manusia, harus dengan binatang…apalagi kelak kesulitan yang akan dihadapi setelah mati.

Mengatur masyarakat dengan demokrasi, hukum ditentukan oleh manusia sendiri, kelihatannya mudah, namun dibaliknya kesulitan dan bencana sudah menanti dan terlihat nyata. Hukum dibuat, lalu dicabut, buat lagi, cabut lagi, … serta terjadinya pertentangan kepentingan hawa nafsu manusia, hingga yang kuat dialah yang pada hakikatnya membuat hukum, sementara rakyat hanya jadi simbol saja. Efek secara ekonomi, sosial dan agama sudah bisa kita rasakan saat ini.

Oleh sebab itu, kemudahan dalam ayat ini hanya jika hidup ini dijalani dengan aturan yang memudahkan, yakni aturan dari Pencipta alam semesta ini.

فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى، وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى

“barang siapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (QS. Thaha: 123 – 124).

Membuat dan menetapkan aturan dengan berlepas dari hukum Allah, walau mungkin terlihat memudahkan banyak orang, namun pada hakikatnya telah menyusahkan kehidupan orang banyak, hingga termasuk yang didoakan oleh Rasulullah saw:

اللهُمَّ، مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ، فَاشْقُقْ عَلَيْهِ، وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ ، فَارْفُقْ بِهِ

“Ya Allah, barangsiapa memimpin umatku, lalu dia menyusahkan mereka, maka susahkanlah dia. Barangsiapa memimpin umatku, lalu dia bersikap lemah lembut terhadap mereka, maka bersikaplah lemah-lembut terhadapnya”. (HR. Muslim). Allaahu A’lam. [M.Taufik NT]

Baca Juga:


[1] Tafsir Ibnu Katsir, 8/431. Hadits tsb adalah riwayat al Hakim dalam al Mustadrak, 2/255, sebagian riwayat menyandarkan ini pada perkataan Ibnu Mas’ud r.a : وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَوْ كَانَ الْعُسْرُ فِي حَجَرٍ، لَطَلَبَهُ الْيُسْرُ حَتَّى يَدْخُلَ عَلَيْهِ، وَلَنْ يَغْلِبَ عُسْرٌ يُسْرَيْنِ

[2] Tafsir Ibnu Katsir, 8/432

[3] Tafsir al Qurthuby, 20/107-108

Posted on 2 Juli 2016, in Khutbah Jum'at, Tafsir and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s