Tiga Shalat yang Wajib Diqodho’ Oleh Wanita Haid

Saat haid berlangsung seorang wanita haram mengerjakan shalat dan puasa, mereka wajib mengqodho puasa, namun tidak wajib mengqodho’ shalat, kecuali dalam 3 waktu, yakni 1) saat datangnya haidh, 2) saat berhentinya haidh dan 3) saat sebelum berhentinya haidh (menurut Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad).

Dalam hal ini udzur yang lain (nifas, gila, anak-anak menjadi baligh, kafir masuk islam) disamakan hukumnya.

Secara rinci ketentuannya sebagai berikut[1]:

1. Bila datangnya haidh telah masuk waktu shalat sekira cukup menjalankan shalat plus bersucinya (wudhu, tayammum atau mandi) secepat mungkin, tetapi ia belum mengerjakan shalat tersebut, maka dia wajib mengqodhonya.

Contoh: masuk waktu dzuhur jam 12:30, sampai jam 12:45 si A belum shalat dzuhur lalu datang haidh, maka saat suci nanti dia wajib mengqodho shalat dhuhurnya.

2. Bila berhentinya haidh masih menyisakan waktu shalat sekedar takbiratul ihram, maka ia wajib mengqodho’nya.

Contoh: si A berhenti haidh jam 15:35, sedangkan waktu ashar jam 15:37 sedangkan si A tidak sempat lagi bersuci (mandi dan wudhu) lalu shalat, maka dia wajib mengqodho’ shalat dzuhur yang ketinggalan tersebut.

3. Diwajibkan mengqadha shalat sebelum berhentinya haidh bila memenuhi memenuhi syarat:

a. Sholat sebelumnya dapat di jama’ dengan sholat yang dirinya berhenti haid.

Contoh: si A berhenti haidh pada waktu ashar maka wajib baginya shalat asar dan mengqodho sholat dzuhur. Si B berhenti haidh pada waktu atau isya’ maka dia wajib shalat isya dan mengqodho shalat maghrib. Namun jika ia berhenti haid pada waktu shubuh, magrib, atau dhuhur maka tidak wajib baginya menqodho sholat sebelumnya.

b. Masih menyisakan waktu shalat sekedar takbiratul ihram.[2]

c. Tidak kembali keluar darah haidh dalam waktu minimal cukup untuk mengerjakan dua sholat fardhu dan bersucinya. 

Baca juga:

Rujukan:

1. Imam Al-Haramain, Nihayatul Mathlab fi Diraayatil Mazhab, jilid 1 hal 398:

ثم يتفق انقطاعُ الحيض في آخر النهار، فيجب قضاءُ الظهر مع العصر

Kemudian mereka bersepakat jika darah haid sudah berhenti di akhir siang hari, maka wajib baginya qadha’ shalat Dhuhur dan Ashar

2. Imam al Mawardi (w. 450 H), Al Hawi al Kabîr, juz 2 hal 33 dst:

قال الشافعي: ” وَالْوَقْتُ الْآخَرُ هُوَ وَقْتُ الْعُذْرِ وَالضَّرُورَةِ فَإِذَا أُغْمِيَ عَلَى رَجُلٍ فَأَفَاقَ وَطَهُرَتِ امْرَأَةٌ مِنْ حيض أو نفاس وأسلم نصراني وبلغ صبي قبل مغيب الشمس بركعة أعادوا الظهر والعصر، وكذلك قبل الفجر بركعة أعادوا المغرب والعشاء، وكذلك قبل طلوع الشمس بركعة أعادوا الصبح وذلك وقت إدراك الصلوات في العذر والضرورات وَاحْتَجَّ بِأَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم – قال: ” من أدرك ركعة قَبْلَ أَنْ تَغْرُبَ الشَّمْسُ فَقَدْ أَدْرَكَ الْعَصْرَ ومن أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الصُّبْحِ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشمس فقد أدرك الصبح “

….

فَصْلٌ : وَأَمَّا الْفَصْلُ الثَّانِي فِي إِدْرَاكِ الصَّلَاةِ الْمَجْمُوعَةِ إِلَيْهَا كَإِدْرَاكِ الظُّهْرِ بِإِدْرَاكِ الْعَصْرِ، وَإِدْرَاكِ الْمَغْرِبِ بِإِدْرَاكِ عِشَاءِ الْآخِرَةِ. فَإِنْ قُلْنَا: إِنَّهُ يُدْرِكُ الْعَصْرَ بِقَدْرِ الْإِحْرَامِ عَلَى أَحَدِ قَوْلَيْهِ فِي الْجَدِيدِ فَقَدْ أَدْرَكَ الظُّهْرَ، لِأَنَّ مِنْ مَذْهَبِهِ فِي الْجَدِيدِ أَنَّ كُلَّ مَنْ أَدْرَكَ الْعَصْرَ أَدْرَكَ الظُّهْرَ فَعَلَى هَذَا يَصِيرُ مُدْرِكًا لِلظُّهْرِ وَالْعَصْرِ بِقَدْرِ الْإِحْرَامِ مِنْ وَقْتِ الْعَصْرِ.

3. Al Hafidz Ibnu Abdil Barr (w. 463 H), at Tamhîd, juz 3 hal 283 dst: (tanda titik tiga (…) itu adalah potongan untuk ringkasnya saja)

فَقَالَ مَالِكٌ إِذَا طَهُرَتِ الْمَرْأَةُ قَبْلَ الْغُرُوبِ فَإِنْ كَانَ بَقِيَ عَلَيْهَا مِنَ النَّهَارِ مَا تُصَلِّي خَمْسَ رَكَعَاتٍ صَلَّتِ الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ بَقِيَ مِنَ النَّهَارِ مَا تُصَلِّي خَمْسَ رَكَعَاتٍ صَلَّتِ الْعَصْرَ وَإِذَا طَهُرَتْ قَبْلَ الْفَجْرِ وَكَانَ مَا بَقِيَ عَلَيْهَا مِنَ اللَّيْلِ قَدْرَ مَا تُصَلِّي أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ ثَلَاثًا لِلْمَغْرِبِ وَرَكْعَةً مِنَ الْعِشَاءِ صَلَّتِ الْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ وَإِنْ لَمْ يَبْقَ عَلَيْهَا إِلَّا مَا تُصَلِّي فِيهِ ثَلَاثَ رَكَعَاتٍ صَلَّتِ الْعِشَاءَ


وَقَالَ الشَّافِعِيُّ إِذَا طَهُرَتِ الْمَرْأَةُ قَبْلَ مَغِيبِ الشَّمْسِ بِرَكْعَةٍ أَعَادَتِ الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ وَكَذَلِكَ إِنْ طَهُرَتْ قَبْلَ الْفَجْرِ بِرَكْعَةٍ أَعَادَتِ الْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ … وَلِلشَّافِعِيِّ فِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ قَوْلَانِ آخَرَانِ أَحَدُهُمَا مِثْلُ قَوْلِ مَالِكٍ سَوَاءٌ فِي مُرَاعَاةِ قَدْرِ خَمْسِ رَكَعَاتٍ لِلظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَمَا دُونَ إِلَى رَكْعَةٍ لِلْعَصْرِ وَمِقْدَارِ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ لِلْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ وَمَا دُونَ ذَلِكَ لِلْعِشَاءِ وَآخِرُ الْوَقْتِ عِنْدَهُ فِي هَذَا الْقَوْلِ لِآخِرِ الصَّلَاتَيْنِ وَالْقَوْلُ الْآخَرُ قَالَهُ فِي الْكِتَابِ الْمِصْرِيِّ قَالَ فِي الْمُغْمَى عَلَيْهِ إِنَّهُ إِذَا أَفَاقَ وَقَدْ بَقِيَ عَلَيْهِ مِنَ النَّهَارِ قدر ما يكبر فيه تكبيرة الْإِحْرَامَ أَعَادَ الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ


وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ وَأَصْحَابُهُ وَهُوَ قَوْلُ ابْنُ عُلَيَّةَ من طهر من الحيض أو بلغ من الصبيان أَوْ أَسْلَمَ مِنَ الْكُفَّارِ لَمْ يَكُنْ عَلَيْهِ أَنْ يُصَلِّيَ شَيْئًا مِمَّا فَاتَ وَقْتُهُ وَإِنَّمَا يَقْضِي مَا أَدْرَكَ وَقْتَهُ بِمِقْدَارِ رَكْعَةٍ فَمَا زَادَ وَهُمْ لَا يَقُولُونَ بِالِاشْتِرَاكِ (فِي الْأَوْقَاتِ)

4. Majmu’ Fatawa, jilid 2 hal 347:

إنَّ الْمَرْأَةَ الْحَائِضَ إذَا طَهُرَتْ قَبْلَ طُلُوعِ الْفَجْرِ صَلَّتْ الْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ. وَإِذَا طَهُرَتْ قَبْلَ غُرُوبِ الشَّمْسِ صَلَّتْ الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ.وَهَذَا مَذْهَبُ جُمْهُورِ الْفُقَهَاءِ كَمَالِكٍ وَالشَّافِعِيِّ وَأَحْمَدَ.

Seseungguhnya seorang wanita yang haidh ketika sudah suci sebelum fajar, maka ia wajib shalat maghrib dan isya. apabila ia suci sebelum terbenamnya matahari maka wajib baginya shalat Dzuhur dan Ashar. Inilah pendapat dari jumhur ahli fiqh seperti Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad.

5. Mushonnaf Ibnu Syaibah 2/122 No 7206-7208 :

7206 – حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ، عَنْ مُغِيرَةَ، وَعُبَيْدَةَ، أَخْبَرَاهُ عَنْ إِبْرَاهِيمَ، وَعَنْ حَجَّاجٍ، عَنْ عَطَاءٍ، وَالشَّعْبِيِّ، وَعَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ، عَنْ عَطَاءٍ فِي الْحَائِضِ «إِذَا طَهُرَتْ قَبْلَ غُرُوبِ الشَّمْسِ صَلَّتِ الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ، وَإِذَا طَهُرَتْ قَبْلَ الْفَجْرِ صَلَّتِ الْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ»

7207 – حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ، عَنْ يَزِيدَ، عَنْ مِقْسَمٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، مِثْلَهُ

7208 – حَدَّثَنَا ابْنُ عُيَيْنَةَ، عَنِ ابْنِ أَبِي نَجِيحٍ، عَنْ عَطَاءٍ، وَطَاوُسٍ، وَمُجَاهِدٍ، قَالُوا: «إِذَا طَهُرَتْ قَبْلَ غُرُوبِ الشَّمْسِ صَلَّتِ الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ، وَإِذَا طَهُرَتْ قَبْلَ طُلُوعِ الْفَجْرِ صَلَّتِ الْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ»

Inti redaksinya (matannya):

“Bila wanita haid suci sebelum terbenamnya matahari (masih waktu ashar) maka dia (wajib) sholat dhuhur dan ashar dan bila suci sebelum fajar (masih waktu isya’) maka dia (wajib) sholat maghrib dan isya’ “


[1] Ada ikhtilaf dalam hal ini terkait jeda waktunya (yang saya bold itu pandangan Syafi’iyyah).

[2] Terjadi ikhtilaf tentang kadar waktu yang tersisa, bisa dilihat di bagian rujukan, di kitab at tamhiid

Posted on 19 Juni 2016, in Fiqh, Ibadah, Ikhtilaf, Syari'ah and tagged . Bookmark the permalink. 15 Komentar.

  1. Asssalamu’alaikum, mau tanya unstd menegenail tiga sholat yang wajib diqoda wanita haid apa tidak aa dalilnya ustad dari hadis Rasulullah atau pur Alquran, terima kasih ustd atas jawaban nya.

    Suka

  2. Asalamualaikum pak ustad, minalaidzinwalfaidzin. Mohon maap lahir dan batin. Jika boleh saya mau sedikit bertanya dan bercerita. Mungkin bukan soal agama, tetapi pak ustad yang lebih berpengalaman dan pernah muda sama seperti saya, saya harap pak ustad berkenan untuk menjawab bberepa pertanyaan dari saya. . Begini pak ustad, saya mencintai seseorang, menyayangi lebih dari diri saya sendiri, akan tetapi yang saya rasakan peria tersebut biasa2 saja terhadap saya, cuek , dan sebagainya. Mungkin saya juga salah terlalu menghambakan cinta, hingga ahirnya saya jatuh terlalu dalam dan mendalam. Saya sebenarnya tidak tahu dia maunya seperti apa . Kadang datang . Menghilang dan pergi. Setiap waktu terus saja begitu. Saya coba untuk mempertanyakan apa maunya, tapi tak pernah ada jawaban. Saya coba membicarakan semua yang saya rasakan.awalnya saya enjoy aja. Tetapi ternyata Sebagai perempuan saya butuh kepastian.kesabaran saya tentu terbatas.saya sudah menjabarkan perasaan saya , saya berkata pada peria tersebut, kalo sudah ngga bisa sama saya tolong tinggalkan,namun dia malah menanggapinya bahwa dia penghalang saya dengan yang lain. Padahal maksud saya bukan seperti itu .seperti yang saya katakan, saya butuh kepastian. 3 tahun lebih saya sabar menghadapi sikapnya. Namun ahir2 ini saya sedikit lelah. Hingga ahirnya saya selalu mempertanyakan bagaimana kedepannya? Tetapi semuanya sama. Tak pernah di jawab , saya selalu tersiksa oleh perasaan saya sendiri. Lalu saya berpikir jika dia terus begitu saya sendiri yang akan pergi dan menghilang dari kehidupannya. Saya merasa hati saya di tarik diulur, pernah Pertanyaan saya pak ustad akankah peria tersebut merasa kehilangan jika saya pergi?. Akankah dia sadar bahwa saya begitu menyayanginya dan perduli terhadapnya?. Pak ustad tentu lebih mengenal cinta dari pada saya. Mohon penjelasannya pak ustad

    Suka

    • Wa’alaikumussalaam…. nggih sama-sama. Sebaiknya panjenengan berhenti memikirkan pria tersebut, apalagi sudah talak 3, ada saya tulis ini: https://mtaufiknt.wordpress.com/2016/08/11/mengobati-derita-cinta-yang-tak-kunjung-berakhir/ moga manfaat untuk panjenengan. Aamiin.

      Suka

      • Assalamu’alaikum ustd, mohon maaf sebelumnya ustad saya harus bertanya lagi, tapi diluar tajuk yang ada di postingan ini. dan kami tidak punya situs khusus untuk bertnya dengan ustad, maka melalui kolom kmntar inilah saya sampaikan. begini ustad..apa perbedaan kedudukan bacaan Alfatihah dalam ketika sholat sunnah rawatib atau sholat sunnah lainnya dengan sholat wajib.sepangetahuan saya ALFATIHAH adalah rukun sholat, jadi tidak boleh salah dan bacaanya harus fasih. saya rasa begitu juga ALFATIHAH dalam sholat sunat ” ini pendapat kami ustad ” tapi kenyataanya ada perbedaan limit waktu dalam pelaksanaanya antara sholat wajib dan sholat sunnah tadi, sholat sunnahnya cepat dan sholat wajibnya agak lambat siktit, kalau kami perhatikan nampaknya dari segi bacaannya teruma surat Alfatihah dalam sholat sunnah agak dipercepat. apa memang begitu adanya ustd..mohon pencerahahnnya ustad, terimakasih sebelumya…wassalam

        Suka

  3. Terima kasih Ustad atas jawaban yang diberikan, dan ling yang ustad berikan sudah saya baca.

    Suka

    • nggih, sama-sama

      Suka

      • Assalamu’alaikum ustad, semoga ustad sekeluarga slalu dalam lindungan Allah SWT. saya mau tanya lagi ustad bagai cara orang yang sedang terbaring skit untuk melaksanakan sholat karna ada sebahagian tubuh tidak bia digerakkan, tidak bisa berwuduk ataupun tyamum. kalau harus diqoda bagaimana cara mengqodhanya ustad. Wassalam……terimakasih sebelumnya.

        Suka

        • Wa’alaikumussalaam…wudhu/tayamumnya bisa dibantu orang lain, sakit bukan udzur yang membolehkan sholat diluar waktunya. Udzurnya sholat hanya kalau lupa atau tertidur yang diqodho dengan sholat ketika ingat atau bangun. Meninggalkan shalat dg sengaja juga wajib qodho’, cara mengqodho dg melakukan sholat seperti biasanya namun dengan niat qodho’, adapun waktunya tidak mengikat. Allaahu A’lam

          Suka

  4. Asalamualaiqum pak ustad, tepatnya bulan muharam nanti saya akan menikah, sebelumnya saya dan calon suami saya proses pengenalan dulu, karena sya di jodohka, saya merasa kurang srek, sayapun belom kpengen mnikah. Saya menolak lamaran pria tersebut, saya berkata jika ingin menikah dgn saya tunggu saja saya tahun depan. Akan tetapi pria tersebut malah datang kerumah dan melamar saya. Mau bagaimana lagi ahirnya saya terima lamaran tersebut, singkat cerita saya berangkat kerja di antar sodara, akan tetapi setengah jam setelah saya sampai tujuan sodara saya mengalami kecelakaan dan meninggal dunia. Saya terpukul karena saya tidak bisa melihat sodara saya dimakamkan. Saya tertekan. Saya berusaha untuk menceritakan apa yg saya rasakan kepada calon suami saya tersebut, saya telp berakali2 tak ada jawaban. Setelah itu dia kirim sms dan minta maap karena tidak angkat telp dari saya, lalu saya berkata tadinya saya mau cerita apa yang saya alami, respon dia cuma begini ia saya sudah tau. Lalu dari situ saya mulai kesal, saya minta dia agar dia tidak mengganggu saya dulu. Karena saya tidak mau berkata apa2 lagi. Karena pada saat itu saya dalam keadaan marah, sedih kecewa dan sebagainya. Tetapi pria tersebut tidak mengerti malah trus menerus mengganggu saya, setiap waktu. Saya mikirin kerjaan, belom laggi tertekan dan disitu amarah saya mulai memuncak hingga saya berkata2 kasarpun dia tidak mengerti . Kesabaran saya terbatas pak ustad berhubung saya tidak menyukai pria tersebut dan dalam keadaan emosi yg tidak setabil saya memutuskan untuk tidak bersedia menikah dgn dia. Sampai saya bicara seperti itupun dia tetap mengganggu saya. Emosi saya tentunya meningkat lalu saya mengucapkan sumpah , saya bersumpah saya tidak akan membahagiakan kamu, lahir ataupun batin saya. Saya tidak akan pernah menggangap kamu suami saya. Dan respon dia cuma bilang saya tak peduli. Sampai ahirnya saya mengganti no telp saya . Sampai skrg saya masih eneg terhadap dia. Pertanyaan nya pak ustad jika seandainya pernikahan itu terjadi , lalu lama2 saya jatuh cinta pada suami saya, saya harus bagaimana?. Disisi lain ada kewajiban saya yang harus saya jalani, disisi lain ada sumpah yang harus saya tepati. Karena dalam pikir saya menjalankan sumpah saya , saya dosa akan kewajiban saya. Dan begitupun sebaliknya. Mohon pak ustad untuk memberikan pencerahan

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s