Imam Super Cepat, Makmum Tidak Sempat Baca al Fatihah, Bagaimana Solusinya?

Jika bacaan imamnya benar-benar cepat, dan makmum yang bacaannya sedang tidak cukup waktu untuk menyempurnakan Fatihah sebelum imam ruku’, maka makmum wajib membaca al fatihah secukupnya, lalu memotong bacaan fatihahnya lalu mengikuti imam ruku’, dan bacaan al fatihahnya ditanggung oleh imam, hal ini berlaku untuk semua rakaat (dia dihukumi masbuq di semua rakaat).

Jika makmum (yang bacaannya lambat) menjumpai waktu yang cukup untuk membaca al fatihah (sesuai bacaan orang yang sedang membacanya) sebelum imam ruku’, maka ia wajib menyempurnakan bacaan al fatihahnya, dan dima’afkan dia ketinggalan 3 rukun dari imam.

Dengan kata lain, jika imam bacaannya benar-benar cepat, namun masih ada cukup waktu bagi makmum yang bacaannya sedang untuk menyelesaikan bacaan al fatihahnya, maka makmum yang bacaannya lambat harus menyelesaikan bacaannya, walau dia bisa jadi telat dari imam sebanyak 3 rukun.

Hal diatas itu untuk madzhab Syafi’i *), adapun madzhab Hanbali dan Maliki menyatakan bahwa makmum tidak wajib membaca al Fatihah[1], cukup bagi makmum mendengarkan baca’an al fatihah imam. Allaahu A’lam. [M. Taufik NT].

Baca Juga:

Rujukan: hasil ‘ngaji mata’ di kitab:

Tuhfatul Habîb ‘ala Syarhil Khatîb (Hasyiyah al Bujairimi), juz 2, hal 155[2]:

وَأَمَّا لَوْ أَسْرَعَ الْإِمَامُ حَقِيقَةً بِأَنْ لَمْ يُدْرِكْ مَعَهُ الْمَأْمُومُ زَمَنًا يَسَعُ الْفَاتِحَةَ لِلْمُعْتَدِلِ فَإِنَّهُ يَجِبُ عَلَى الْمَأْمُومِ أَنْ يَرْكَعَ مَعَ الْإِمَامِ وَيَتْرُكَهَا لِتَحَمُّلِ الْإِمَامِ لَهَا وَلَوْ فِي جَمِيعِ الرَّكَعَاتِ

Nihayatuzzain (karya Syaikh Nawawi Banten) hal 124:

وَإِن وجد الإِمَام فِي الْقيام قبل أَن يرْكَع وقف مَعَه فَإِن أدْرك مَعَه قبل الرُّكُوع زَمنا يسع الْفَاتِحَة بِالنِّسْبَةِ للوسط المعتدل فَهُوَ مُوَافق فَيجب عَلَيْهِ إتْمَام الْفَاتِحَة وَيغْتَفر لَهُ التَّخَلُّف بِثَلَاثَة أَرْكَان طَوِيلَة كَمَا تقدم.

*) Solusi lainnya adalah makmum ‘mufaroqoh’ (memisahkan diri) dari imam, ini wajib dilakukan jika makmum memandang bacaan al fatihah imam tidak sah, selanjutnya untuk sholat berikutnya imamnya diganti/diubah cara membacanya.


[1] Mausu’ah al Fiqhiyyah al Kuwaytiyyah, 27/64

[2] Juga di I’anatuththolibin juz 2 hal. 40

Posted on 13 Juni 2016, in Ibadah, Ikhtilaf and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s