Penjilat Haram, Penjilat Sunnah

Imam Sufyan ats Tsaury (w. 161 H)  rahimahullah berkata:

إِذَا رَأَيْتَ الْقَارِئَ مُحَبَّبًا فِي جِيرَانِهِ، مَحْمُودًا عِنْدَ إِخْوَانِهِ، فَاعْلَمْ أَنَّهُ مُدَاهِنٌ.

 “Apabila kamu melihat seseorang qâri (‘ulama) disukai oleh (semua) tetangganya dan dipuji oleh (semua) teman-temannya, maka ketahuilah bahwa dia adalah penjilat (penipu).” [Imam Abu Laits (w. 373 H), Tanbîhul Ghâfilîn, hal 95]

Aneh kalau ada kyai justru menasehati agar bersikap seperti “musang berbulu ayam”, kepada orang yang menginginkan diterapkannya hukum syari’ah dia menyatakan mendukungnya, di sisi lain ketika berjumpa dengan orang yang menolak hukum syari’ah dia cocok pula,  pelaku kemunkaranpun bisa ‘ngefans’ karena memang tidak diingatkan kemungkarannya. Mungkin dibenaknya teringat kata-kata jama’ah pelaku riba yang jadi anekdot: “sejak saya mendengar ceramah ustadz x yang mengharamkan riba, sejak itu pula saya berhenti” …. maksudnya bukan berhenti aktivitas ribanya, namun berhenti mendengar ceramah ustadz x.

Suatu kali sahabat Mu’awiyah r.a menulis surat kepada Aisyah r.a:

اكْتُبِي إِلَيَّ كِتَابًا تُوصِينِي فِيهِ وَلَا تُكْثِرِي عَلَيَّ

Tulislah surat yang berisi nasihat untukku dan jangan terlalu banyak (panjang). Maka Aisyah ra menulis surat kepada Muawiyah:

سَلَامٌ عَلَيْكَ أَمَّا بَعْدُ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ الْتَمَسَ رِضَا اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ وَمَنْ الْتَمَسَ رِضَا النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ

“Salamun ‘alaika, Amma ba’du, sesungguhnya aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, ‘Barangsiapa mengejar ridha Allah meskipun manusia marah, niscaya Allah akan mencukupkannya dari kebergantungan kepada manusia. Dan barangsiapa mengejar ridha manusia dengan kemarahan Allah, niscaya Allah akan menyerahkannya kepada manusia. Wassalamu’alaika”. (HR at-Tirmidzi)

Hanya saja, ada menjilat yang hukumnya sunnah, sebagaimana riwayat dari Jabir bin Abdullah radliyallahu anhu berkata; aku pernah  mendengar  Rosulullah  Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَحْضُرُ أَحَدَكُمْ عِنْدَ كُلِّ  شَيْءٍ مِنْ شَأْنِهِ حَتىَّ يَحْضُرَهُ عِنْدَ طَعَامِهِ فَإِذَا  سَقَطَتْ مِنْ أَحَدِكُمْ اللُّقْمَةُ فَلْيُمْطِ مَا كَانَ بِهَا مِنْ  أَذًى ثُمَّ لِيَأْكُلْهَا وَ لاَ يَدَعْهَا لِلشَّيْطَانِ فَإِذَا فَرَغَ  فَلْيَلْعَقْ أَصَابِعَهُ فَإِنَّهُ لاَ يَدْرِى فىِ أَيِّ طَعَامِهِ  تَكُوْنُ اْلبَرَكَةُ

“Sesungguhnya setan mendatangi salah seorang dari kalian pada setiap  keadaannya, hingga akan mendatanginya disaat makan. Sebab itu apabila  jatuh sepotong makanan, maka hendaklah ia membuang (membersihkan)  kotorannya lalu memakannya. Dan hendaklah ia tidak membiarkannya dimakan  oleh setan dan jika telah selesai makan, hendaklah ia menjilati jari  jemarinya, karena ia tidak tahu pada bahagian makanan yang manakah  adanya berkah”. [HR Muslim]. [M.Taufik N.T]

Baca Juga:

Posted on 23 Mei 2016, in Dakwah. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s