Beberapa Hal Terkait Nadzar

Pengertian Nadzar

النَّذْرُ لُغَةً: هُوَ النَّحْبُ، وَهُوَ مَا يَنْذِرُهُ الإِنْسَانُ فَيَجْعَلُهُ عَلَى نَفْسِهِ نَحْبًا وَاجِبًا[1]

Nadzar secara bahasa berarti an nahbu (himmah/keinginan yang kuat), dan nadzar adalah apa-apa yang manusia berjanji akan melakukannya sehingga menjadikannya sebagai kewajiban atas dirinya sendiri

وَالنَّذْرُ اصْطِلاَحًا: إِلْزَام مُكَلَّفٍ مُخْتَارٍ نَفْسَهُ لِلَّهِ تَعَالَى بِالْقَوْل شَيْئًا غَيْرَ لاَزِمٍ عَلَيْهِ بِأَصْل الشَّرْعِ[2]

Nadzar secara istilah: pewajiban seorang mukallaf atas pilihannya sendiri terhadap dirinya sendiri karena Allah Ta’ala dengan mengatakan sesuatu yang tidak wajib atasnya pada pokok syari’at.

Masyru’iyyatu An Nadzr

Tidak ada perbedaan pendapat para ‘ulama bahwa nadzar itu disyari’atkan dalam Islam, diantara alasannya adalah Allah mensifati orang-orang shalih dengan firman-Nya:

يُوفُونَ بِالنَّذْرِ وَيَخَافُونَ يَوْمًا كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيرًا

“Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana.” (QS. Al Insan: 7)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيعَ اللَّهَ فَلْيُطِعْهُ، وَمَنْ نَذَرَ أَنْ يَعْصِيَهُ فَلاَ يَعْصِهِ

“Barangsiapa yang bernazar untuk ta’at pada Allah, maka hendaklah ia ta’at (sesuai nadzarnya), dan barangsiapa yang bernazar untuk bermaksiat pada Allah, maka janganlah ia bermaksiat kepada-Nya.” (HR. al Bukhary).

Hukum Nadzar

Para ‘ulama berbeda pendapat tentang status hukum nadzar. Malikiyyah, Syafi’iyyah dan Hanabilah memandang bernadzar hukumnya makruh, sedangkan Hanafiyyah memandang bernadzar hukumnya sunnah.[3]

Nadzar itu termasuk diantara amalan pendekatan diri kepada Allah (al qurubât), hanya saja yang lebih utama adalah seseorang melakukan amal tanpa mengikatkan dirinya dengan nadzar. Sedekah yang dilakukan tanpa nadzar lebih afdhol daripada sedekah karena nadzar (Al Fiqh Al Manhaji ‘Ala Madzhab Al Imam As Syafi’i, 3/22)[4].

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَنْذُرُوا فَإِنَّ النَّذْرَ لاَ يُغْنِى مِنَ الْقَدَرِ شَيْئًا، وَإِنَّمَا يُسْتَخْرَجُ بِهِ مِنَ الْبَخِيلِ

“Janganlah bernazar. Karena nazar tidaklah bisa menolak takdir sedikit pun. Hanyalah dikeluarkan (harta) dari orang yang pelit dengan adanya nadzar tsb.” (HR. Muslim)

Jenis Nadzar

Ada tiga jenis nadzar[5], yaitu:

Nadzr al Lajâj, yaitu nadzar yang terjadi ketika marah, seperti pernyataan “jika aku berbicara kepada fulan, maka aku akan berpuasa sebulan”.

Nadzr Mujâzâh (Mukâfa-ah), yaitu nadzar yang digantungkan dengan tercapainya suatu tujuan bagi yang bernadzar. Misalnya seorang berkata: “jika aku sembuh dari penyakitku ini, aku akan bersedekah seekor kambing”

Nadzr Muthlaq, yaitu nadzar tanpa dikaitkan dengan sesuatu apapun, misalnya seseorang berkata “aku nadzar puasa hari senin dan kamis”.

Nadzar kedua dan ketiga biasa disebut juga dengan Nadzr Tabarrur karena yang bernadzar dengan nadzarnya menuntut untuk melakukan kebaikan (al birr).

Syarat-Syarat Nadzar[6]

Orang yang bernadzar disyaratkan:

  1. Islam, orang kafir tidak sah nadzarnya
  2. Taklif, anak-anak dan orang gila tidak sah nadzarnya
  3. Ikhtiyar, tidak sah nadzar karena dipaksa

Yang dinadzarkan syaratnya:

  1. Qurbah, yakni mandub atau fardhu kifayah, tidak sah nadzar untuk suatu yang mubah atau makruh, atau haram (kalau bernadzar mau berzina, maka tdk sah nadzarnya dan tetap saja haram bagi dia berzina)..[7]
  2. Bukan wajib ‘ain. Jika bernadzar mau shalat dzuhur, maka nadzarnya bathil.

Efek Nadzar

Jika nadzarnya sah, yakni terealisir syarat-syaratnya, maka wajib bagi yang bernadzar untuk menunaikan nadzarnya jika hajatnya terpenuhi (untuk nadzar bergantung). Begitu juga nadzar muthlaq, wajib dia penuhi nadzarnya tersebut, afdholnya disegerakan pelaksanaannya.

Shighot Nadzar

Shighot nadzar hendaklah dengan lafadz yang menunjukkan nadzar, tidak cukup hanya niat saja. Disamakan dengan lafadz adalah tulisan yang mengungkapkan nadzar disertai dengan niat nadzar, atau isyarat orang bisu yang bisa difahami bahwa itu maksudnya adalah bernadzar[8]. Allaahu A’lam. [M. Taufik NT]


Baca Juga:

 

[1] لِسَان الْعَرَبِ، وَالْمِصْبَاح الْمُنِير. (الموسوعة الفقهية الكويتية)

[2] كَشَّاف الْقِنَاع عَنْ مَتْن الإِْقْنَاع 6 / 273، وَالشَّرْح الصَّغِير 2 / 249، وَمُغْنِي الْمُحْتَاج 4 / 354، وَالاِخْتِيَار 4 / 76 – 77، وَالْبَدَائِع 5 / 82 (الموسوعة الفقهية الكويتية)

[3] Mausu’ah al Fiqhiyyah al Kuwaytiyyah, 40/38 dst

[4] إن النذر مشروع، وهو من نوع القربات، ولذلك قال الفقهاء: إنه لا يصحّ من الكافر.

إلا أن الأفضل أن يباشر الإنسان القربة التي يريدها بدون أن يلزم نفسه بها، ويجعلها عليه نذراً.

فالصدقة التي يتقرّب بها الإنسان إلى الله تعالى اختياراً، أفضل من الصدقة التي يلتزمها نذراً.

[5] Al Fiqh Al Manhaji ‘Ala Madzhab Al Imam As Syafi’i, 3/22-23

[6] Al Fiqh Al Manhaji ‘Ala Madzhab Al Imam As Syafi’i, 3/24-26

[7] ودليل ذلك ما رواه البخاري في [الأيمان والنذور ـ باب ـ النذر فيما لا يملك وفي معصية، رقم: 6326] عن ابن عباس رضي الله عنهما قال: بينما النبي – صلى الله عليه وسلم – يخطب، إذ هو برجل قائم، فسأل عنه، فقالوا: أبو إسرائيل، نذر أن يقوم ولا يقعد، ولا يستظل، ولا يتكلم، ويصوم، فقال النبي – صلى الله عليه وسلم -: ” مره فليتكلم، وليستظل، وليقعد، وليتمّ صومه”.

وإنما أمره بإتمام الصوم، لأن الصوم طاعة، ويلزمه الوفاء بها إذا نذرها.

وكذلك لا نذر في المحرمات: كالقتل، والزنى …

ولا في المكروهات: كأن نذر أن يترك السُنن الرواتب مثلاً، لأن فعل المحرم، أو المكروه ليس مما يبتغي به وجه الله عزّ وجلّ.

قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم -: ” لا نذر في معصية الله “. رواه مسلم في [النذر ـ باب ـ لا وفاء لنذر في معصية الله، رقم: 1641] وقد سبق ما رواه البخاري في [الأيمان والنذور ـ باب ـ النذر في الطاعة، رقم: 6318] عن عائشة رضي الله عنها: ” … ومن نذر أن يَعصِيَه، فلا يعصِهْ”.

وقال عليه الصلاة والسلام: ” لا نذر إلا فيما ابُتغِيَ به وجه الله “. رواه أبو داود في [الأيمان والنذور ـ باب ـ اليمين في قطيعة الرحم، رقم: 3273].

[8] وَيَقُومُ مَقَامَ اللَّفْظِ الْكِتَابَةُ الْمَقْرُونَةُ بِنِيَّةِ النَّذْرِ، أَوْ بِإِشَارَةِ الأَْخْرَسِ الْمُفْهِمَةِ الدَّالَّةِ أَوِ الْمُشْعِرَةِ بِالْتِزَامِ كَيْفِيَّةِ الْعُقُودِ (1) .

وَلاَ خِلاَفَ بَيْنَ الْفُقَهَاءِ فِي أَنَّ مَنْ نَذَرَ فَصَرَّحَ فِي صِيغَتِهِ اللَّفْظِيَّةِ أَوِ الْكِتَابِيَّةِ بِلَفْظِ (النَّذْرِ) أَنَّهُ يَنْعَقِدُ نَذْرُهُ بِهَذِهِ الصِّيغَةِ، وَيَلْزَمُهُ مَا نَذَرَ (الموسوعة الفقهية الكويتية ج 40 ص 140)

Posted on 18 Mei 2016, in Syari'ah. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s