Meninggalkan Yang Tidak Berguna

 “Diantara tanda ‘berpalingnya’ Allah Ta’ala dari seseorang yaitu apabila orang itu sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna (bagi kepentingan akhiratnya)” [Imam Al Hasan]

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ

“Sebagian dari kebaikan keislaman seseorang ialah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya”. (HR. at Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Hal yang tidak berguna bisa berupa perbuatan maupun perkataan. Suatu ketika seorang sahabat meninggal dunia, seseorang berkata, أَبْشِرْ بِالجَنَّةِ (“Berilah kabar gembira dengan surga”), maka Rasulullah saw. bersabda:

أَوَلَا تَدْرِي فَلَعَلَّهُ تَكَلَّمَ فِيمَا لَا يَعْنِيهِ أَوْ بَخِلَ بِمَا لَا يَنْقُصُهُ

“Apakah kalian tidak tahu, mungkin ia pernah mengucapkan perkataan yang tidak mendatangkan manfaat atau bakhil terhadap sesuatu (harta) yang sebenarnya tidak akan berkurang (jika disedekahkan).” (HR Tirmidzi).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ قِلَّةَ الْكَلاَمِ فِيمَا لاَ يَعْنِيهِ

“Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah mengurangi berbicara dalam hal yang tidak bermanfaat” (HR. Ahmad dari Al Husain bin ‘Ali r.a).

Oleh karena itu, alangkah beruntungnya orang-orang yang senantiasa menghitung-hitung perkataannya. Umar bin Abdul Aziz r.h berkata:

مَنْ عَدَّ كَلَامَهُ مِنْ عَمَلِهِ، قَلَّ كَلَامُهُ إِلَّا فِيمَا يَعْنِيهِ

“Siapa yang menghitung perkataannya dibanding amalnya, maka ia akan sedikit bicara kecuali dalam hal yang bermanfaat” (Ibnu Rajab (w. 795 H), Jâmi’ al ‘Ulûm wa al Hikam, 1/291).

Ketika kita tidak berupaya menyibukkan diri bersiap-siap menghadapi kehidupan akhirat kelak, maka Allah bisa memberikan kesibukan lain yang tidak bermanfaat untuk kehidupan kita. Ketika kita tidak sibuk menyerukan dakwah Islam, kita akan dibuat sibuk berbicara menyerukan yang lain, padahal ini adalah diantara tanda bahwa Allah tidak senang dengan kita. Imam Al Hasan  berkata:

من علامة إعراض الله تعالى عن العبد أن يجعل شغله فيما لا يعنيه.

“Diantara tanda ‘berpalingnya’ Allah Ta’ala dari seseorang yaitu apabila orang itu sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna (bagi kepentingan akhiratnya)”. (Ibn Daqîq al ‘îd (w. 702H), Syarh al Arba’in an Nawawiyyah, hal 62)

Ada orang yang ketika diajak mengaji selalu beralasan sibuk, namun ternyata masih sempat meunjun (memancing) berjam-jam lamanya, padahal dia tidak termasuk orang yang kekurangan lauk untuk makan. Ada orang yang bergelimang harta, namun ‘tidak ada waktu’ untuk menenggelamkan diri beribadah kepada Allah Ta’ala, anehnya sebagian besar waktunya habis untuk bekerja mengumpulkan harta lagi, padahal harta yang sudah Allah berikan kepadanya tidak akan mampu dia habiskan. Na’udzubillaah

Download pdfnya versi khutbah Jum’at di <<<sini>>>

Baca Juga:

Posted on 9 Mei 2016, in Khutbah Jum'at, Mutiara Hadits and tagged , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Alhamdulillah, ambil lagi materi dari sini.. moga jadi amal jariyah..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s