Khutbah Jum’at -Waria, ‘Fitrah’ atau Penyimpangan?

Beberapa hari lalu, sebuah harian umum nasional disomasi oleh Forum Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, Interseks, Questioning (LGBTIQ) karena memberitakan perilaku seks menyimpang dalam judul “LGBT Ancaman Serius”. Sebelumnya, menristek juga disomasi gara-gara persoalan yang sama.

Dalam sistem kehidupan di Indonesia, komunitas LGBT tumbuh dengan subur[1], tidak terkecuali di kampus Islam, bahkan ada pesantren yang berinisiatif menjadi pesantren waria, dan sedang berupaya menyusun “fiqh waria”.

Dalam kecenderungan hubungan seksual, Allah telah menjadikan lelaki condong kepada perempuan, begitu pula perempuan condong kepada laki-laki, itulah fitrah manusia. Allah mengecam penyimpangan dari fitrah ini dalam firman-Nya:

إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ

Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas. (QS. Al A’râf: 81)

Kerusakan perilaku seksual kaum Luth ini juga ditegaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي عَمَلُ قَوْمِ لُوطٍ

“Sesungguhnya hal yang paling aku takutkan menimpa umatku adalah perbuatan kaum Luth.” (HR at-Tirmidzi, al-Hakim, Ibn Majah).

“Fiqh” Waria

Waria (mukhannats) berbeda dengan khuntsa. Waria adalah laki-laki baik fisik maupun kelaminnya, namun menyerupai perempuan dalam kelembutan, cara bicara, melihat, gerakannya dan lain-lain[2], jika sejak lahir dia memang diciptakan begitu, maka tidaklah dia berdosa. Namun jika dia diciptakan normal, namun meniru-niru wanita, inilah yang dilaknat.

Adapun khuntsa ialah:

مَنْ لَهُ آلَتَا الرِّجَال وَالنِّسَاءِ، أَوْ مَنْ لَيْسَ لَهُ شَيْءٌ مِنْهُمَا أَصْلاً، وَلَهُ ثُقْبٌ يَخْرُجُ مِنْهُ الْبَوْل

“Orang yang mempunyai dua alat kelamin (yakni) lelaki (penis) dan wanita (vagina) atau orang yang tidak ada alat kelaminnya, dan memiliki lobang tempat keluarnya urine.”[3]

Khuntsa yang lebih dominan alat lelakinya ketika lahir dihukumi sebagai lelaki, sedangkan yang lebih dominan alat kewanitaannya ketika lahir dihukumi sebagai wanita, disisi ini masalah telah selesai. Namun khuntsa yang kedua alatnya sama-sama dominan, atau tidak ada alat kelaminnya sama sekali (khuntsa musykil), inilah yang menjadi masalah yang para ‘ulama berbeda pendapat tentangnya.[4]

Khuntsa baik yang musykil atau tidak, maupun waria (mukhannats) yang terjadi sejak lahir merupakan qadha’ (ketetapan) Allah yang tidak bisa dipilih oleh manusia, sehingga manusia tidak berdosa karenanya. Akan tetapi jika seseorang terlahir normal sebagai lelaki/perempuan, lalu sengaja bergaya tidak semestinya, atau menikah dengan sesama jenisnya inilah yang merupakan penyimpangan yang dilaknat dalam Islam.

Islam Mengatasi LGBT

Islam telah memberikan aturan yang jika aturan itu diterapkan akan mencegah terjadinya penyimpangan tersebut di masyarakat, sekaligus ‘mengobati’ perilaku menyimpang yang sudah terlanjur ada.

Dalam hal pendidikan, Islam mengatur pemisahan tempat tidur anak-anak sejak mereka berumur 10 tahun, Islam juga melarang laki-laki berprilaku seperti wanita atau wanita berprilaku seperti pria, serta memerintahkan agar mereka tidak tinggal di rumah kita. Imam al Bukhary meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a yang berkata:

لَعَنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُخَنَّثِينَ مِنْ الرِّجَالِ وَالْمُتَرَجِّلَاتِ مِنْ النِّسَاءِ وَقَالَ أَخْرِجُوهُمْ مِنْ بُيُوتِكُمْ قَالَ فَأَخْرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فُلَانًا وَأَخْرَجَ عُمَرُ فُلَانًا

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat para laki-laki yang menyerupai wanita dan para wanita yang menyerupai laki-laki. Sabdanya: “Keluarkanlah mereka dari rumah kalian.”Ibnu Abbas melanjutkan; ‘Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengeluarkan seorang fulan begitu juga dengan Umar.’ (HR. al Bukhary).

Berkaitan dengan sanksi, jumhur fuqaha berpandangan bahwa pelaku homoseksual (liwath) dikenakan had zina, yakni dicambuk 100 kali bagi yang belum menikah, dan dirajam bagi yang sudah pernah menikah[5]. Ini jika terjadi hubungan seksual sejenis, jika tidak terjadi hubungan seksual, maka hukumannya adalah ta’zir yang beratnya tergantung pertimbangan kepala negara.

Sungguh dosa adalah pangkal kerusakan, dan perilaku menyimpang seperti lesbian, gay, terlebih homoseksual adalah dosa besar, namun pembelaan terhadap mereka dengan mengatasnamakan HAM, bahkan mengatasnamakan Islam, mencari-cari celah dalil untuk melegalkan mereka, turut mendukung bahkan mendanai mereka adalah kerusakan yang jauh lebih besar, yang akan mendatangkan murka Allah jika dibiarkan berkembang. Allaahu A’lam. [M. Taufik N.T]

Download versi khutbah Jum’atnya <<<di sini>>>


Baca Juga:

[1] Lima tahun lalu, menurut Ridho Triawan, pengurus LSM Arus Pelangi, sebuah yayasan yang menaungi lesbian, gay, waria dan transjender, setidaknya ada 5000 gay serta lesbian yang hidup di Jakarta. http://www.eramuslim.com/berita/analisa/di-balik-keberanian-kongres-gay-di-surabaya.htm Sabtu, 27/03/2010

[2] الْمُخَنَّثُ بِفَتْحِ النُّونِ: هُوَ الَّذِي يُشْبِهُ الْمَرْأَةَ فِي اللِّينِ وَالْكَلاَمِ وَالنَّظَرِ وَالْحَرَكَةِ وَنَحْوِ ذَلِكَ

[3] ابن عابدين 5 / 464، ونهاية المحتاج 6 / 31. ط مصطفى البابي الحلبي، والمغني 6 / 253، 677. ط الرياض، العذب الفائض 2 / 53، حاشية الدسوقي على الشرح الكبير 4 / 489. (الموسوعة الفقهية الكويتية)

[4] Yakni bagaimana mereka menikah, waris, khalwat, dsb.

[5] الموسوعة الفقهية الكويتية ج 35 ص 340

Posted on 13 Februari 2016, in Khutbah Jum'at and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s