Istri Tidak Wajib Mengurus Rumah?

Setelah sibuk bekerja, menjelang petang, Ahmad[1] pun sampai di rumah. Ada suasana yang berbeda sore itu, tidak biasanya sang istri menyambut dengan mesra, pakaiannya rapi, baunya harum, sambil tersenyum manja lalu menggandeng tangan suaminya memasuki rumah. Akan tetapi Ahmad terkejut ketika melihat isi rumah, Hamid dan Mahmud, anak mereka, masih belepotan lumpur habis bermain, lantai rumah juga penuh dengan kotoran, ketika ke dapur tidak didapati secuilpun makanan yang siap mengganjal perut, tidak juga minuman. Ketika membuka kulkas, semua bahan makanan yang dia beli tadi pagi masih utuh tertata dengan rapi.

Sang istri yang melihat keheranan suaminya, dengan tersenyum manis mengatakan: “sayangku, tidak usah heran, aku sudah makan, tadi menelepon teman untuk membelikan nasi bungkus, sebelumnya aku membaca ada tulisan ustadz yang cukup terkenal, bahwa istri tidak wajib mengurus rumah, kewajiban istri dalam rumah tangga hanyalah ‘melayani’ suami. Aku sudah mandi, bersolek dan beristirahat seharian, sekarang aku siap menjalankan kewajibanku sebagai istri”. Demikianlah sang istri memberikan ‘tausiyah petang’ sambil menyodorkan artikel disebuah web yang  diantara isinya:

Madzhab Hanafi : “Seandainya suami pulang membawa bahan pangan yang masih harus dimasak dan diolah, namun istrinya enggan memasak atau mengolahnya, maka istri itu tidak boleh dipaksa. Suaminya diperintahkan untuk pulang membawa makanan yang siap santap.” (Imam al-Kasani dalam kitab al-Badai)

Mazhab Maliki : Wajib atas suami melayani istrinya walau istrinya punya kemampuan untuk berkhidmat, … bila suami tidak pandai memberikan pelayanan, maka wajib baginya untuk menyediakan pembantu buat istrinya (asy-Syarhul Kabir oleh ad-Dardiri)

Mazhab Syafi’i : Tidak wajib bagi istri membuat roti, memasak, mencuci, dan bentuk khidmat lainnya untuk suaminya, … Karena yang ditetapkan (dalam pernikahan) adalah kewajiban untuk memberi pelayanan seksual (istimta’), sedangkan pelayanan lainnya tidak termasuk kewajiban (al-Muhadzdzab oleh asy-Syairozi).

Mazhab Hanbali: Seorang istri tidak diwajibkan untuk berkhidmat kepada suaminya, baik berupa mengadoni bahan makanan, membuat roti, memasak, dan yang sejenisnya, termasuk menyapu rumah, menimba air di sumur, … Karena aqadnya hanya kewajiban pelayanan seksual. Dan pelayanan dalam bentuk lain tidak wajib dilakukan oleh istri, seperti memberi minum kuda atau memanen tanamannya (Imam Ahmad bin Hanbal).

Ahmad mengangguk-angguk lalu tersenyum kepada istrinya, dan berkata: “terima kasih sayangku, aku senang kalau dirimu taat dengan syari’at Allah azza wa jalla, abang belum mandi, biarlah ‘kewajiban’mu engkau tunaikan malam nanti saja setelah anak kita tidur ”

***

Siang itu, seorang wanita setengah baya mengetok pintu rumah pak Ahmad, istrinya segera membukakan pintu , sebelum dia sempat bertanya, wanita tersebut sudah menjelaskan: “saya diminta pak Ahmad untuk menjadi pembantu di rumah ini”…. Agak sore datang lagi dua orang lelaki membawa pesan: “kami mau mengambil kulkas, AC dan mesin cuci, pak Ahmad telah menjualnya kepada kami”….

Ketika pak Ahmad datang, sebelum ditanya istrinya, dia menjelaskan: “maaf istriku, kulkas, AC dan mesin cuci kujual untuk membayar pembantu, saya juga membaca bahwa suami tidak wajib menyediakan kulkas, AC dan mesin cuci”…..

Hari-demi hari berlalu, ketika sang istri sakit, suaminya sedang sibuk bekerja, sang istri menelepon minta diantarkan berobat ke rumah sakit, suaminya menjawab: “ sayang, yang sabar ya, Allah akan memberikan pahala kepada yang sabar menghadapi sakit, lagi pula, menurut jumhur ‘ulama, berobat itu hukumnya sunnah, bukan wajib, dan menurut jumhur ulama suami tidak wajib memberikan pengobatan kepada istri….(bersambung[2])

***

Di era tersebarnya faham emansipasi, tidak menutup kemungkinan ilustrasi seperti di atas benar-benar terjadi, bahkan mungkin lebih ‘seram’. Tidak tahu adanya pendapat yang menyatakan istri tidak wajib berkhidmat pada suami saja sudah banyak wanita yang menganggap suaminya seperti pembantu, apalagi jika keinginannya itu memiliki ‘pijakan’ yang syar’i, tentu bisa lebih parah.

Benarkah empat madzhab sepakat bahwa istri tidak wajib berkhidmat kepada suami? Bagaimana mendudukkan peran istri dalam rumah tangga?

Tidak Benar

Tidak benar bahwa empat madzhab sepakat bahwa istri tidak wajib berkhidmat kepada suami.

Jumhur ‘Ulama (Madzhab Syafi’i dan Hanbali) menyatakan bahwa istri tidak wajib berkhidmat kepada suami; membuat adonan roti, menggiling tepung, memasak, dll, ini juga pendapat sebagian madzhab Maliki.[3] Hanya saja yang lebih utama menurut mereka adalah istri melaksanakan apa saja yang menurut adat merupakan pekerjaan istri[4].

Akan tetapi, Madzhab Hanafi & Jumhur Ulama Madzhab Maliki, juga abu Tsaur, Ibnu Abi Syaibah, Abu Ishaq al Juzajâny, juga Ibnu Taymiyyah menyatakan bahwa istri wajib berkhidmat kepada suami[5] (Mausu’ah al Fiqhiyyah, 19/44). Hanafiyyah memandang bahwa Allah telah mewajibkan istri untuk berkhidmat pada suami sehingga ia tidak boleh meminta gaji dari suami karena telah berkhidmat tersebut. Malikiyyah menyatakan kewajiban istri berkhidmat hanya untuk urusan dalam rumah yang sudah jadi kebiasaan itu dikerjakan oleh istri, bukan untuk urusan luar rumah.

Adapun kutipan “yang ditampilkan istrinya pak Ahmad” itu adalah kutipan yang kurang lengkap untuk menisbahkannya kepada Madzhab Maliki maupun Hanafi. Dalam Mausu’ah al Fiqhiyyah, 30/126 dinyatakan:

وَذَهَبَ الْمَالِكِيَّةُ إِلَى أَنَّهُ يَجِبُ عَلَى الْمَرْأَةِ خِدْمَةُ زَوْجِهَا فِي الأَعْمَال الْبَاطِنَةِ الَّتِي جَرَتِ الْعَادَةُ بِقِيَامِ الزَّوْجَةِ بِمِثْلِهَا إِلاَّ أَنْ تَكُونَ مِنْ أَشْرَافِ النَّاسِ فَلاَ تَجِبُ عَلَيْهَا الْخِدْمَةُ، إِلاَّ أَنْ يَكُونَ زَوْجُهَا فَقِيرَ الْحَال (بدائع الصنائع 4 / 192، الخرشي على مختصر خليل 4 / 186، وفتح الباري 9 / 324، 506، تحفة المحتاج 8 / 316، كشاف القناع 5 / 195.)

Malikiyyah berpendapat bahwa wajib bagi seorang istri berkhidmat (melayani) kepada suami dalam urusan dalam rumah yang biasa dilakukan oleh istri, kecuali jika istrinya merupakan orang terpandang maka tidak wajib baginya melakukan khidmat, kecuali jika suaminya faqir (maka walaupun terpandang tetap wajib berkhidmat). (merujuk ke Badâ’i Shanâ’i, 4/192… Fathul Bâry, Kasysyâf al Qina, …).

Pandangan Syaikh Taqiyuddin an Nabhani

Syaikh Taqiyuddin an Nabhani, dalam kitab Nidzômul Ijtimâ’i fi al Islam hal menyatakan: “Seorang istri bukanlah mitra (syarîkah) suami dalam kehidupan. Istri lebih merupakan sahabat (shâhibah) suami. Pergaulan di antara keduanya bukanlah pergaulan dalam konteks kemitraan. Mereka tidak pula dipaksa untuk menjalani pergaulan sepanjang kehidupannya. Pergaulan di antara keduanya adalah pergaulan dalam konteks persahabatan. Satu sama lain merupakan sahabat sejati dalam segala hal. Persahabatan yang dibangun oleh keduanya adalah persahabatan yang dapat memberikan kedamaian satu sama lain.

Istri bukanlah pembantu apalagi budak suami, istri bukan pula relasi bisnis suami, hubungan suami istri bukan hubungan yang mendasarkan pada untung-rugi secara materi, bukan pula hubungan antara bos dan karyawan.

Hanya saja dalam kaitannya dengan pelaksanaan berbagai pekerjaan rumah tangga, seorang istri wajib melayani suaminya, seperti membuat adonan roti, memasak, membersihkan rumah, menyediakan minuman jika diminta, menyiapkan makanan untuk dimakan, serta melayani suaminya di dalam seluruh perkara yang sudah semestinya ia lakukan di dalam rumah. Sebaliknya, suami wajib memenuhi apa saja yang dibutuhkan oleh istrinya yang mengharuskan dirinya untuk keluar rumah, seperti menyediakan air atau melakukan apa saja yang diperlukan untuk membersihkan kotoran.

Oleh karena itu, mengurus kuda, mencari rumput, berkebun, dll sebagaimana yang dilakukan Asma binti Abu Bakar merupakan kebaikan istri keada suai, namun tidak wajib dilakukan.

Dalil/Alasan

Pihak yang mewajibkan beralasan kepada firman Allah SWT:

وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَا

Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian[6] kepada para ibu dengan cara yang makruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. (QS. Al Baqarah : 233)

Adapun pihak yang mewajibkan istri berkhidmat kepada suaminya memahami ayat tersebut hanya berkaitan dengan nafkah yang wajib diberikan suami, adapun tentang pelayanan (khidmat) dan pembagian tugas suami istri, Rasulullah telah menyatakan dalam banyak riwayat, antara lain:

قَضَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى ابْنَتِهِ فَاطِمَةَ بِخِدْمَةِ الْبَيْتِ، وَقَضَى عَلَى عَلِيٍّ بِمَا كَانَ خَارِجًا مِنَ الْبَيْتِ مِنَ الْخِدْمَةِ

Rasulullah SAW. menetapkan terhadap anak perempuannya, Fatimah r.a, mengerjakan pekerjaan di dalam rumah, sedangkan kepada Ali bin Abi Thalib pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan di luar rumah. (Ibnu Abi Syaibah (w. 235 H), Al Mushonnaf Fi Al Ahâîts Wa Al Âtsâr, 6/10).

Adakah wanita sekarang ini yang lebih mulia dari Fâthimah r.a? namun beliau mengerjakan pekerjaan rumah sendiri; menarik alat untuk menyirami tanaman hingga membekas pada tangannya, menggendong geriba hingga membekas pada lehernya, membuat tepung dan adonan roti hingga ‘ngapal’ tangannya, suatu pekerjaan rumah yang sangat berat dibandingkan dengan sekarang; mengambil air tinggal memutar kran, mencuci tinggal memasukkannya ke mesin cuci, memasak tinggal memasukkan nasi ke rice cooker tanpa menumbuk padi (gabah lebih dahulu), tinggal memutar kompor gas untuk memasak, tinggal memasak ikan yang sudah dibersihkan di pasar,…. Ketika beliau mengadukan hal ini kepada Rasulullah untuk meminta pembantu (Ali r.a, suami Fâthimah, termasuk orang yang miskin), maka Rasulullah menjawab:

اتَّقِي اللهَ يَا فَاطِمَةُ، وَأَدِّي فَرِيضَةَ رَبِّكِ، وَاعْمَلِي عَمَلَ أَهْلِكِ، فَإِذَا أَخَذْتِ مَضْجَعَكِ، فَسَبِّحِي ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ، وَاحْمَدِي ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ، وَكَبِّرِي أَرْبَعًا وَثَلاَثِينَ، فَتِلْكَ مِئَةٌ، فَهِيَ خَيْرٌ لَكِ مِنْ خَادِمٍ

“Bertakwalah engkau kepada Allah wahai Fathimah, dan tunaikanlah kewajiban Tuhanmu, dan laksanakanlah pekerjaan keluagamu. Kemudian apabila engkau bersiap untuk tidur maka bertasbihlah tiga puluh tiga kali, bertahmidlah tiga puluh tiga kali, dan bertakbirlah tiga puluh empat kali, sehingga berjumlah seratus. Maka hal tersebut lebih baik bagimu daripada seorang pembantu.” (HR. Abu Dawud).

Dalam shahih Muslim juga diceritakan tentang Asma binti Abu Bakar, seorang wanita mulia, istri sahabat Zubair bin ‘Awwam r.a, yag ketika itu tidak memiliki banyak harta kecuali seekor kuda. Asma berkata:

فَكُنْتُ أَعْلِفُ فَرَسَهُ وَأَكْفِيهِ مَئُونَتَهُ وَأَسُوسُهُ وَأَدُقُّ النَّوَى لِنَاضِحِهِ وَأَعْلِفُهُ وَأَسْتَقِي الْمَاءَ وَأَخْرُزُ غَرْبَهُ وَأَعْجِنُ

“maka akulah yang memberi makan kudanya, memenuhi dan melayani kebutuhannya(Zubair), menumbuk biji kurma untuk makan, menyediakan makan dan minumnya, menjahit (menambal) embernya dan membuat adonan roti…”

Selain itu, Rasulullah saw. juga sering meminta kepada istri-istri beliau mengerjakan pekerjaan-pekerjaan di dalam rumah, seperti meminta air minum, makanan, dsb. Dari Abu Salamah bin ‘Abdurrahman dari Ya’isy bin Thakhfah bin Qais Al Ghifari ia berkata, “Bapakku termasuk ahli suffah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bersabda: “Ikutlah bersamaku ke rumah ‘Aisyah radliallahu ‘anha.” Kami lalu ikut pergi bersamanya. Beliau bersabda:

يَا عَائِشَة أَطْعِمِينَا فَجَاءَتْ بِحَشِيشَةٍ فَأَكَلْنَا ثُمَّ قَالَ يَا عَائِشَةُ أَطْعِمِينَا فَجَاءَتْ بِحَيْسَةٍ مِثْلِ الْقَطَاةِ فَأَكَلْنَا ثُمَّ قَالَ يَا عَائِشَةُ اسْقِينَا فَجَاءَتْ بِعُسٍّ مِنْ لَبَنٍ فَشَرِبْنَا ثُمَّ قَالَ يَا عَائِشَةُ اسْقِينَا فَجَاءَتْ بِقَدَحٍ صَغِيرٍ فَشَرِبْنَا

“Wahai ‘Aisyah, berilah kami makanan.” ‘Aisyah kemudian membawa Hasyisyah (sejenis makanan yang terbuat dari biji gandum yang dilembutkan lalu ditaburi daging atau kurma), lalu kami pun memakannya.” Beliau kemudian bersabda lagi: “Wahai ‘Aisyah, berilah kami makanan.” ‘Aisyah kemudian membawa Haisah (sejenis makanan yang terbuat dari kurma, terigu dan minyak samin) yang berbentuk seperti burung, lalu kami pun memakannya.” Beliau kemudian bersabda: “Wahai ‘Aisyah, berilah kami minum.” ‘Aisyah kemudian membawa bejana yang berisi susu, lalu kami pun meminumnya.” Beliau kemudian bersabda lagi: “Wahai ‘Aisyah, berilah kami minum.” ‘Aisyah kemudian membawa bejana kecil, lalu kami pun meminumnya.” (HR. Abu Daud).

Riwayat-riwayat tersebut, oleh pihak yang tidak mewajibkan istri melayani suami dipandang sebagai tabarru’ (perbuatan baik) istri kepada suami, namun tidak wajib. Sementara pihak yang mewajibkan menyimpulkan bahwa Nabi saw tidak mengingkari Ali bin Abi Thalib dan Zubair Ibnu Al-Awwam r.a atas muamalah mereka terhadap istri-istri mereka, Nabi pun tidak mengingkari hal tersebut dari sahabat-sahabat lainnya, padahal tidak menutup kemungkinan ada istri-istri pada zaman itu yang melaksanakan pekerjaan rumah tangga dengan terpaksa. Bahkan putri Beliau saw sendiri yang mengeluh dan minta pembantu tidak Beliau saw kabulkan.

Penutup

Manapun diantara dua pendapat tersebut yang diambil, kehidupan suami istri harusnya menentramkan, menjadi sahabat sejati yang saling menyokong dan menolong, saling menghilangkan berbagai kesulitan pasangannya, tidak saling mengeksploitasi satu dengan yang lain. Tidak ada yang mengharamkan istri membantu suami diluar rumah, juga tidak ada yang mengharamkan suami membantu istri mengurus pekerjaan rumah, bahkan itu semua dianggap fadhilah (keutamaan).

Tidak selayaknya suami bersantai di rumah sedangkan istrinya berjibaku dan bersusah payah mengerjakan pekerjaan rumah. Tidak patut juga istri santai tidur-tiduran sementara suami yang sudah kelelahan bekerja diluar rumah masih harus menyelesaikan pekerjaan lain dirumah. Tidak pantas juga suami menyuruh istri memperbaiki listrik dan menambal plapon dengan alasan “itu kan pekerjaan DI DALAM RUMAH, jadi kewajiban istri”.

Rasulullah saw biasa membantu mengerjakan pekerjaan rumah, dalam salah satu riwayat dari Al-Aswad disebutkan:

سَأَلْتُ عَائِشَةَ مَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُ فِي بَيْتِهِ؟ قَالَتْ: كَانَ يَكُونُ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ – تَعْنِي خِدْمَةَ أَهْلِهِ – فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ خَرَجَ إِلَى الصَّلاَةِ

“Aku pernah bertanya kepada ‘Aisyah tentang apa yang dikerjakan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika berada di rumah. Maka ‘Aisyah pun menjawab, “Beliau selalu membantu keluarganya, jika datang waktu shalat maka beliau keluar untuk melaksanakannya. (HR. Bukhari).

Hanya saja yang tidak boleh dilupakan, hak suami atas istrinya sangat besar, dialah kepala dan pemimpin dalam keluarga yang wajib ditaati dalam perkara yang tidak maksiyat. Hadits-hadit berikut memberikan gambaran bagaimana kedudukan seorang suami:

لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لأَحَدٍ لأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا لِمَا عَظَّمَ اللَّهُ مِنْ حَقِّهِ عَلَيْهَا

Seandainya aku diperintahkan untuk menyuruh seseorang bersujud kepada orang lain, niscaya aku perintahkan wanita untuk bersujud kepada suaminya, karena Allah telah menjadikan besar hak suami atas istrinya (HR. Abu Daud).

لاَ يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَى امْرَأَةٍ لاَ تَشْكُرُ لِزَوْجِهَا وَهِىَ لاَ تَسْتَغْنِى عَنْهُ

Allah SWT. tidak akan memandang kepada perempuan yang tidak berterima kasih kepada suaminya dan tidak pernah merasa cukup ( selalu menuntut lebih dari suami) (HR. al Bayhaqiy, an Nasa-i dan al Hakim)

أُرِيْتُ النَّارَ، فَإِذَا أَكْثَرُ أَهْلِهَا النِّسَاءُ، يَكْفُرْنَ. قِيْلَ: أَيَكْفُرْنَ بِاللهِ؟ يَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ، وَيَكْفُرْنَ اْلإِحْسَانَ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئاً، قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ.

“Diperlihatkan neraka kepadaku dan aku melihat kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita, mereka kufur.” Para Shahabat bertanya: “Apakah disebabkan kufurnya mereka kepada Allah?” Rasul menjawab: “(Tidak), mereka kufur kepada suaminya dan mereka kufur kepada kebaikan. Seandainya seorang suami dari kalian berbuat kebaikan kepada isterinya selama setahun, kemudian isterinya melihat sesuatu yang jelek pada diri suaminya, maka dia mengatakan, ‘Aku tidak pernah melihat kebaikan pada dirimu sekalipun.” (HR. al Bukhary dan Muslim).

Sebaliknya, seorang suamipun dituntut untuk bersikap baik kepada istrinya, beliau saw bersabda:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

Yang terbaik diantara kalian adalah yang terbaik dalam memperlakukan keluarganya, adan akulah orang yang terbaik memperlakukan keluargaku (H.R Tirmidzi).

Dengan adanya kerjasama dan ketulusan kedua belah pihaklah, insya Allah terbentuklah keluarga yang sakinah, keluarga yang akan melahirkan generasi yang baik, walaupun mereka sangat terbatas secara finansial. Dari kesederhanaan, kesabaran dan ketulusan Asma’ menjalani kehidupan rumah tangganya dengan Zubair r.a lahirlah Abdullah bin Zubair, ‘Urwah bin Zubair dan saudara-saudaranya, dari rahimnya Fâthimah, lahirlah Hasan, Husain, juga Ummu Kultsum. Dari keluarga-keluarga sederhana, bahkan sebagian miskin dan tanpa pembantu tersebut, lahirlah para ‘Ulama besar, Imam al Hasan al Bashri lahir dari keluarga budak, begitu juga Sa’id bin al Musayyib dan Atho bin Abi Rabah. Imam Zakariya al Anshori, salah satu ‘ulama terkemuka dalam Madzhab Syafi’i bahkan harus mengais tempat sampah, menyambung hidup dengan makan kulit semangka ketika beliau belajar di Mesir.

Kesulitan dan kesusahan dalam mengurus rumah bagi istri dan mencari nafkah bagi suami, juga kesederhanaan dan kebersahajaan yang diajarkan kepada anak-anak lewat praktek langsung orang tua mereka, jika itu dilakukan dengan benar dan tulus, dalam rangka menjalankan amanah Allah, dan penuh kesadaran bahwa itulah jalan yang telah Allah tetapkan untuk menguji hamba-hamba-Nya, insya Allah Dia akan menjaga mereka dan keturunan mereka. Allâhu A’lam. [M.Taufik NT]

Baca Juga:

[1] Ini sekedar cerita ilustrasi, mohon ma’af kalau ada kesamaan nama dengan pembaca J

[2] Silakan disambung sendiri

[3] Al Majmu’ syarh al Muhadzzab, juz 16 hal 427:

وقال أحمد: قال أصحابنا وغيرهم ليس على المرأة خدمة زوجها في عجن وخبز وطحن وطبخ ونحوه

[4] Al Majmu’ syarh al Muhadzzab, juz 16 hal 427:

وقال السفارينى في شرح ثلاثيات المسند: لكن الاولى لها فعل ما جرت العادة بقيامها به

[5] Dalam Muasu’ah al Fiqhiyyah juz 19 hal 44 dinyatakan:

إِلاَّ أَنَّهُمُ اخْتَلَفُوا فِي وُجُوبِ هَذِهِ الْخِدْمَةِ.

فَذَهَبَ الْجُمْهُورُ (الشَّافِعِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ وَبَعْضُ الْمَالِكِيَّةِ) إِلَى أَنَّ خِدْمَةَ الزَّوْجِ لاَ تَجِبُ عَلَيْهَا لَكِنَّ الأَوْلَى لَهَا فِعْل مَا جَرَتِ الْعَادَةُ بِهِ.

وَذَهَبَ الْحَنَفِيَّةُ إِلَى وُجُوبِ خِدْمَةِ الْمَرْأَةِ لِزَوْجِهَا دِيَانَةً لاَ قَضَاءً ، لأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَسَّمَ الأَعْمَال بَيْنَ عَلِيٍّ وَفَاطِمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، فَجَعَل عَمَل الدَّاخِل عَلَى فَاطِمَةَ، وَعَمَل الْخَارِجِ عَلَى عَلِيٍّ . وَلِهَذَا فَلاَ يَجُوزُ لِلزَّوْجَةِ – عِنْدَهُمْ – أَنْ تَأْخُذَ مِنْ زَوْجِهَا أَجْرًا مِنْ أَجْل خِدْمَتِهَا لَهُ.

وَذَهَبَ جُمْهُورُ الْمَالِكِيَّةِ وَأَبُو ثَوْرٍ، وَأَبُو بَكْر بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَأَبُو إِسْحَاقَ الْجُوزَجَانِيُّ، إِلَى أَنَّ عَلَى الْمَرْأَةِ خِدْمَةَ زَوْجِهَا فِي الأَعْمَال الْبَاطِنَةِ الَّتِي جَرَتِ الْعَادَةُ بِقِيَامِ الزَّوْجَةِ بِمِثْلِهَا،

[6] Wajibnya memberi makan adalah perhari (mulai matahari terbit, diberi nafkah untuk sehari), adapun pakaian wajibnya adalah enam bulan sekali (krn kebiasaan pakaian rusak tiap enam bulan), jika rusak sebelum 6 bulan maka suami wajib memberi pakaian ketika itu juga. Dalam Al Majmu, 18/262:

ويجب أن يدفع إليها نفقة كل يوم إذا طلعت الشمس، لانه أول وقت الحاجة، ويجب أن يدفع إليها الكسوة في كل ستة أشهر لان العرف في الكسوة أن تبدل في هذه المدة، فإن دفع إليها الكسوة فبليت في أقل من هذا القدر لم يجب عليه بدلها كمالايجب عليه بدل طعام اليوم إذا نفذ قبل انقضاء پاليوم، وإن انقضت المدة والكسوة باقية ففيه وجهان : (أحدهما) لا يلزمه تجديدها لان الكسوة مقدرة بالكفاية، وهي مكفية

(والثانى) يلزمه تجديدها وهو الصحيح، كما يلزمه الطعام في كل يوم وإن بقى عندها طعام اليوم الذي قبله، ولان الاعتبار بالمدة لا بالكفاية، بدليل أنها لو تلفت قبل انقضاء المدة لم يلزمه تجديدها والمدة قد انقضت فوجب التجديد.

Posted on 1 Februari 2016, in Ikhtilaf, Rumah Tangga, Syari'ah and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s