Khutbah Jum’at-Epilepsi yang Mengantarkan ke Surga

Ibnu Abbas r.a pernah berkata kepada ‘Atha` bin Abu Rabah; “Maukah aku tunjukkan kepadamu seorang wanita dari penduduk surga?” jawab ‘Atha`; “Tentu.” Ibnu Abbas berkata; “Wanita berkulit hitam ini, dia pernah menemui Nabi saw sambil berkata;

إِنِّي أُصْرَعُ وَإِنِّي أَتَكَشَّفُ فَادْعُ اللَّهَ لِي

“Sesungguhnya aku menderita epilepsi (penyakit ayan) dan auratku sering tersingkap (ketika sedang kambuh), maka berdoalah kepada Allah untukku.” Beliau saw bersabda:

إِنْ شِئْتِ صَبَرْتِ وَلَكِ الْجَنَّةُ وَإِنْ شِئْتِ دَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُعَافِيَكِ

“Jika kamu mau, bersabarlah maka bagimu surga, dan jika kamu mau, maka aku akan berdoa kepada Allah agar Allah menyembuhkanmu.” Wanita tadi berkata; “Baiklah aku akan bersabar.” Wanita itu berkata lagi;

إِنِّي أَتَكَشَّفُ فَادْعُ اللَّهَ لِي أَنْ لَا أَتَكَشَّفَ

“Sesungguhnya aku terbuka (aurat ketika kumat), maka berdoalah kepada Allah agar (auratku) tidak tersingkap.” Maka beliau mendoakan untuknya.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Wanita tersebut, menurut perowi hadits bernama Ummu Zufar, setidaknya memberikan dua pelajaran berharga bagi kita, dua hal yang membuatnya layak menjadi penghuni surga. Pertama, beliau bersabar dengan qodho’ (ketetapan Allah SWT). Penyakit epilepsi (ayan) bukanlah penyakit ringan, dan sering membuat malu penderitanya maupun keluarganya. Namun, tidak ada satu kata pun yang meluncur dari lisannya yang menunjukkan bahwa ia membenci qadha’, yakni penyakit ayan, yang kebetulan menimpa dirinya. Ketika peluang untuk sembuh terbuka lebar didepannya lewat do’a Rasulullah saw, Ummu Zufar memilih untuk sabar dan lebih mengharapkan ganjaran dari Allah swt. Sikap yang sungguh jauh berbeda dengan yang terlihat pada sebagian kaum muslimin saat ini, untuk berobat dari suatu penyakit yang tidak seberat penyakit ayan, kadang mereka rela melanggar aturan Allah swt, padahal pelanggaran aturan-Nya belum tentu mendatangkan kesembuhan.

Sikap seperti ini pulalah yang dimiliki generasi shahabat, ridho dengan qodho’ Allah SWT. Imam Al Ghazali, dalam Ihya ‘Ulûmiddîn, juz 4 hal hal 350 menceritakan bahwa suatu hari Sa’ad bin Abi Waqqash ra mengunjungi Makkah. Ketika itu (dimasa tuanya) penglihatannya sudah tiada berfungsi lagi. Penduduk Makkah yang mengetahui keutamaan Sa’ad, di mana ia memiliki do’a yang mustajab, mereka berbondong-bondong mendatangi Sa’ad untuk minta dido’akan agar hajatnya terkabul. Abdullah bin Sâib berkata,

يا عم أنت تدعو للناس فلو دعوتَ لنفسك، فرد الله عليك بصرَك

“Wahai paman, engkau telah banyak mendo’akan orang lain. Mengapa engkau tidak berdo’a untuk dirimu sendiri agar Allah mengembalikan penglihatanmu?.”

Maka Sa’ad tersenyum dan kemudian menjawab,

يا بني قضاء الله سبحانه عندي أحسن من بصري

“Wahai anakku, qodho’ ( ketetapan)-Nya jauh lebih baik dari pada penglihatanku.”

Pelajaran kedua dari Ummu Zufar adalah begitu luar biasanya keterikatan beliau terhadap aturan Allah swt, ia bukan malu karena ayan, namun merasa malu karena auratnya sering tersingkap saat penyakitnya kambuh. Padahal saat penyakit ayan itu datang, ia tentu dalam keadaan tak sadar. Jika pun tersingkap auratnya dalam keadaan tidak sadar, tentu ia tidak berdosa. Sungguh sangat jauh berbeda dengan pemandangan saat ini, banyak orang membuka auratnya, padahal mereka tidak sedang kambuh penyakit ayannya, mereka lakukan pelanggaran aturan Allah tanpa rasa malu, bahkan bangga memamerkan apa yang seharusnya mereka tutupi. Na’ûdzu billâh.

Kita tidak menderita ayan, kita juga tidak sering hilang kesadaran, lalu apa alasan yang akan kita sampaikan kelak di hadapan Allah SWT kalau kita tidak segera tunduk kepada aturan Allah swt?. Beratnya beban hidup yang dirasakan saat ini bukanlah alasan untuk kemudian melanggar aturan Allah SWT. Banyaknya kerusakan sosial dan kemaksiyatan bukanlah alasan untuk terlibat dalam kemaksiyatan tersebut, justru sebaliknya, seharusnya semakin membuat sadar dan yakin bahwa memang tidak ada jalan lain untuk keluar dari beban hidup yang berat dan berbagai kerusakan ini kecuali dengan mengikuti petunjuk yang telah Allah turunkan, sebagaimana Firman-Nya:

فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى- وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى

Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barang siapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (QS. Thâhâ 123- 124). Allâhu A’lam. [M. Taufik NT]

Baca Juga:

Posted on 17 Desember 2015, in Khutbah Jum'at. Bookmark the permalink. 7 Komentar.

  1. mantap ust cocok buat kutbah jumat besok, pas temanya hntuk prostitusi artisnyg lagi marak, izin copaz ustadz, jazakumullah khair

    Suka

  2. Jazakallah khair tad, kadang kami ambil tulisan2 ustad untuk materi khutbah.. moga tetap istiqomah dalam dakwah..

    Suka

  3. salam alaik….ust kaifa halukum ? sangat menginspirasi, dan selalu husn dzan kpd Allah….jazaka Allah ust…

    Suka

  4. tadz,skrg khutbah jenengan yang sdh terformat pdf kok mboten wonten maleh inggih

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s