Khutbah Jum’at-Untung Berujung Kerugian

Tidak seorangpun yang ingin rugi dalam hidupnya. Berbagai upaya dilakukan untuk memperoleh keuntungan. Islam telah menjelaskan bahwa tidak setiap cara yang sepertinya menguntungkan benar-benar menguntungkan secara hakiki.

Setiap cara yang haram, walaupun kelihatan bisa memberikan keuntungan yang berlipat ganda, namun secara hakiki merupakan racun yang secara pasti akan mendatangkan kerugian, cepat ataupun lambat.

Riba misalnya, walaupun secara hitungan matematis akan menguntungkan, namun Allah SWT, Dzat Yang Maha Tahu, menyatakan bahwa riba adalah salah satu sumber kerusakan. Allah berfirman:

يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ (276)

Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa. (Qs. al-Baqarah: 276).

Ayat ini menegaskan bahwa Allah akan memusnahkan harta riba dan harta yang bercampur dengan riba atau meniadakan berkahnya. Rasulullah saw juga menyatakan:

“إِنَّ الرِّبَا وَإِنْ كَثُرَ فَإِنَّ عَاقِبَتَهُ تَصِيرُ إِلَى قُلٍّ” (رواه أحمد، الطبراني والحاكم وحسنه الحافظ ابن حجر)

Sesungguhnya, (harta) riba walaupun banyak jumlahnya, pada akhirnya akan menjadi sedikit.” (HR. Ahmad, ath-Thabrany, al- Hakim dan dihasankan oleh Ibnu Hajar).

Riba, disamping menghancurkan ekonomi individu, juga menghancurkan ekonomi sebuah negara. Negeri yang Allah ciptakan dengan kekayaan yang melimpah ini, dengan perkiraan kekayaannya bisa mencapai Rp 200 ribu Trilyun, saat ini, saat memakai sistem ekonomi kapitalisme, sistem yang tidak bisa lepas dari riba, telah menjadikannya terlilit hutang. Hingga akhir Juli 2015 lalu total utang Pemerintah mencapai Rp 2.911,41 triliun, di 2016 untuk pembayaran bunga (riba)nya saja direncanakan Rp 183,429 triliun.

Disamping riba, ghabn al fahisy (penipuan harga), tadlis (penipuan barang/alat tukar), ihtikar (menimbun) dan berbagai aktivitas haram lainnya, walaupun sekilas akan menguntungkan pelakunya, namun pasti akan menjadikan bangkrutnya bisnis mereka, minimal hilangnya berkah usaha mereka; hartanya melimpah, namun dia tidak mendapatkan ketenangan dari harta tersebut, atau dia diberi penyakit yang menjadikannya tidak bisa menikmati harta yang melimpah itu.

Imam Ahmad menceritakan dalam musnadnya dari Farrukh maulanya Utsman, bahwa Umar pada saat menjadi Amirul Mukminin, dia keluar menuju masjid kemudian melihat makanan berserakan, maka dia bertanya; “Makanan apa ini?” Mereka menjawab; “Makanan yang di datangkan kepada kami, ” maka dia berkata; “Semoga Allah memberkahi makanan ini dan orang yang mendatangkannya, ” kemudian ada yang berkata; “Wahai Amirul Mukminin, makanan itu telah ditimbun, ” Umar bertanya; “Siapa yanga telah menimbunnya?” Mereka menjawab; “Farrukh maula Utsman dan Fulan maula Umar, ” maka Umar mengutus utusan untuk memanggil keduanya, kemudian dia berkata; “Apa yang mendorong kalian berdua untuk menimbun makanan kaum muslimin?” Keduanya menjawab; “Wahai Amirul Mukminin, kami membeli dengan harta kami dan menjual.” Maka Umar menjawab; “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“مَنِ احْتَكَرَ عَلَى الْمُسْلِمِينَ طَعَامَهُمْ ضَرَبَهُ اللَّهُ بِالْإِفْلَاسِ أَوْ بِجُذَامٍ

“Barangsiapa menimbun harta kaum muslimin maka Allah akan menimpakan kepadanya kebangkrutan atau penyakit kusta, “

maka Farrukh ketika itu berkata; “Wahai Amirul Mukminin, aku berjanji kepada Allah dan kepadamu untuk tidak akan mengulangi menimbun makanan selamanya.” Adapun maula Umar dia berkata; “Hanyasannya kami membeli dengan harta kami dan menjual.” Abu yahya (perowi hadits) berkata; “Maka sungguh aku melihat hamba sahaya Umar terkena penyakit kusta.”

Yang lebih berbahaya, bukan hanya di dunia, harta haram juga akan menjadi salah satu penyebab siksaan Allah swt.

إِنَّهُ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ النَّارُ أَوْلَى بِهِ

“Sesungguhnya tidak akan masuk surga daging yang tumbuh dari yang haram, neraka lebih layak baginya.” (HR. Ahmad dan ad Darimi)

Sungguh, saat ini, ditengah banyak jalan pintas untuk mendapatkan harta, kehati-hatian sangat diperlukan. Melakukan yang haram tidak akan menambah rizki kita, justru akan mengurangi jatah rizki halal yang Allah telah siapkan untuk kita, jika kita bersabar. Allaahu A’lam.

Posted on 10 Desember 2015, in Khutbah Jum'at and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s