Bolehkah Berhaji di Bulan Syawwal atau Dzulqa’dah Saja?

Masdar F. Mas’udi (tokoh NU) menyatakan bahwa waktu pelaksanaan haji perlu ditinjau ulang, menurutnya ibadah haji tidak mesti di bulan Dzulhijjah, pandangan ini kemudian diapresiasi oleh kalangan ‘Islam Liberal’ dan menyebutnya sebagai ‘gagasan brilian kyai NU’. Bagaimana menyikapinya?

***

Saya tidak heran kalau Masdar F. Mas’udi menyatakan demikian[1], itu sudah lama, lebih dari 14 tahun yang lalu dia sudah bicara seperti itu (moga saja segera bertoaubat), sekarang muncul lagi pandanganya pasca tragedi Mina. Yang agak mengherankan, mengapa NU mempertahankan dia duduk dikepengurusannya, padahal sudah jauh menyimpang, bukan hanya menyimpang dari madzhab resmi NU (Syafi’i), namun menyimpang dari madzhab-madzhab Islam yang mu’tabar lainnya.

Latar belakang pendapat Masdar adalah karena kesulitan (masyaqqah) yang saat ini dialami oleh jamaah haji. Padahal menurutnya, agama itu mudah dan memberi kemudahan.

Menurut Masdar, ibadah haji sah dilakukan sepanjang waktu tiga bulan (Syawal, Dzulqa’dah dan Dzulhijjah). Alasannya dalam Al-Quran surat Al-Baqarah 2 ayat 197:

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ

“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi”

Sedangkan mengenai Hadits

اَلْحَجُّ عَرَفَةُ

Ibadah haji adalah (wukuf) di ‘Arafah. (HR at-Tirmidzi), menurut Masdar, wukuf di ‘Arafah tidak harus pada 9 Dzulhijjah. Inilah titik point pembahasannya.

Meluruskan Pemahaman Masdar[2]

Tidak ada perbedaan pendapat dikalangan para ‘ulama berbagai madzhab bahwa Ibadah haji hanya sah jika semua syarat dan rukunnya terpenuhi, termasuk wukuf di Arafah tanggal 9 Dzulhijjah yang merupakan puncak ibadah Haji. Bahkan orang jahiliyyah sebelum Islampun wukufnya tetap tanggal 9 Dzulhijjah, meskipun mereka melakukan penggeseran-penggeseran hitungan bulan.

Kenapa ibadah haji tidak sah dilakukan hanya di bulan Syawwal atau Dzulqo’dah saja, tanpa wukuf tanggal 9 Dzulhijjah di Arafah, tidak lain karena:

Pertama: haji merupakan ibadah mahdhah yang sifatnya fixed (tauqifiyyah), sebagaimana ibadah shalat, ada waktu-waktu tersendiri. Nabi sendiri menyatakan

خُذُوا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ

“Hendaklah kalian mengambil dariku manasik (tata cara ibadah haji) kalian.” (HR. Al Baihaqi).

Kedua: sabda Nabi:

اَلْحَجُّ عَرَفَةُ

Ibadah haji adalah (wukuf) di ‘Arafah. (HR at-Tirmidzi)

Ketiga: Dalam Ibadah haji, Nabi melakukan wukuf di Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah. (di situs Islam Liberal yang terkait dengan ini juga sudah dijelaskan)

Point pertama menunjukkan bahwa penetapan syarat-rukun haji haruslah mengacu pada Rasulullah saw karena salah satu kedudukan sunnah adalah untuk menjelaskan apa yang dinyatakan al Qur’an.

Point kedua dan ketiga menunjukkan bahwa wukuf di Arafah adalah salah satu rukun haji, yang tidak sah haji tanpa wukuf di Arafah. Begitu juga wukuf tidak sah kalau tidak terpenuhi syarat-syarat wukuf. Tidak ada perselisihan diantara para ‘ulama bahwa wukuf itu baru sah kalau memenuhi 2 syarat[3]: 1) syarat tempat, yakni di Arafah. 2) syarat zaman/waktu, yakni tanggal 9 Dzulhijjah.

***

Lalu bukankah Rasul saw itu berhaji cuma sekali, sehingga kalau cuma sekali wukuf di tanggal 9 Dzulhijjah itu tidak bisa dijadikan alasan untuk menyatakan tidak sahnya wukuf pada tanggal yang lain? Inilah point penting yang kesannya ‘logis’, dan sepertinya ‘sulit’ dijawab.

Padahal kalau benar-benar mau merenung, justru berhajinya Rasullullah saw yang cuma sekali itu merupakan indikasi/qarinah yang jelas bahwa wukuf itu hanya sah di tanggal 9 Dzulhijjah, mengapa? Karena Rasulullah sendiri selama hidupnya melakukan 4 kali ‘umrah, yakni pada tahun ke-6, ke-7, ke-8 Hijriah (pada bulan Dzulqa’dah), dan tahun ke-10 H (sekalian haji wada’) (Lihat HR. Muslim).

Kalau memang ibadah haji boleh di bulan Dzulqa’dah saja (wukufnya di bulan Dzulqa’dah) mengapa Rasul hanya ber ‘umrah tidak berhaji saja (diantara beda haji dan umroh adalah umroh itu tanpa wukuf di Arofah), apakah Rasulullah dianggap tidak tahu kalau wukuf itu boleh di selain tanggal 9 Dzulhijjah, ataukah Rasulullah dianggap lebih mengutamakan yang sunnah (umroh) lalu meninggalkan yang wajib (haji)? Kalau Rasulullah dianggap salah faham terhadap ayat “(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi”, padahal ayat ini turun kepada beliau dan Allah yang mengajarkan kepada beliau saw, lalu dari mana Masdar tahu kalau ayat itu berarti bolehnya berhaji (termasuk wukuf) di bulan Dzul qa’dah?

***

Adapun Al-Quran surat Al-Baqarah 2 ayat 197:

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ

“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi”

Itu hanyalah start awal seseorang berniat (ihram) haji, orang yang melakukan ihram sebelum bulan tersebut maka tidak sah hajinya, sebagaimana sholat sebelum masuk waktunya.

فَرُوِيَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: مِنْ سُنَّةِ الْحَجِّ أَنْ يُحْرَمَ بِهِ فِي أَشْهُرِ الْحَجِّ. وَقَالَ عَطَاءٌ وَمُجَاهِدٌ وَطَاوُسٌ وَالْأَوْزَاعِيُّ: مَنْ أَحْرَمَ بِالْحَجِّ قَبْلَ أَشْهُرِ الْحَجِّ لَمْ يُجْزِهِ ذَلِكَ عَنْ حَجِّهِ وَيَكُونُ عُمْرَةً، كَمَنْ دَخَلَ فِي صَلَاةٍ قَبْلَ وَقْتِهَا فَإِنَّهُ لَا تُجْزِيهِ وَتَكُونُ نَافِلَةً، وَبِهِ قَالَ الشَّافِعِيُّ وَأَبُو ثَوْرٍ – الجامع لأحكام القرآن = تفسير القرطبي

Akan tetapi, walau sudah ihram di bulan haji (syawal, dzulqa’adah, dzulhijjah), namun tetaplah sah tidaknya haji mereka bergantung mereka ikut wukuf di Arafah pada 9 Dzulhijjah atau tidak. Orang yang sudah ihram dibulan dzulqa’dah, namun tidak wukuf tanggal 9 Dzulhijah di Arafah, tetaplah tidak sah hajinya, sebagaimana dia berniat sholat pada waktu sholat namun tidak menyelesaikan rukun-rukun shalat berikutnya. Allaahu A’lam. [M. Taufik NT]


Baca Juga:

[1] Masdar juga menyampaikan ide ‘nyeleneh’ lain misalnya tentang zakat dan pajak, dalam bukunya yang berjudul “Zakat itu Pajak” (Mizan, 25 Agt 2010 – 276 halaman), Masdar menegaskan perlunya melakukan “integrasi” antara konsep zakat dengan pajak. Masdar menyarankan agar masyarakat dalam membayar pajak dengan niat sebagai zakat sehingga kedua konsep tersebut menyatu. Dan pada akhirnya Masdar lebih memilih untuk menguatkan pajak dan menyarankan umat Islam untuk menunaikan ‘ibadah’ pajak dengan niat berzakat. Padahal zakat adalah wajib, sementara pajak terkategori haram, kecuali dalam kondisi tertentu. (baca :Tidak Masuk Surga Pemungut Pajak/Cukai dan Pajak (Dharîbah) dalam Timbangan Syari’ah)

[2] Meskipun awalnya tidak tertarik untuk mengomentari pandangannya Masdar, karena sudah jelas-jelas menyimpang, namun kalau membaca argumentasinya, tidak sedikit orang bertanya-tanya, karena kesannya pandangannya ‘logis’ dan “memiliki dasar syar’i” , maka kiranya perlu juga dijelaskan

[3] Madzhab syafi’i menambahkan syarat ke 3: yakni wukufnya dalam kondisi sadar, tidak gila/pingsan.

شُرُوطُ الْوُقُوفِ بِعَرَفَةَ:

4 – لِلْوُقُوفِ بِعَرَفَةَ بِاعْتِبَارِهِ رُكْنًا مِنْ أَرْكَانِ الْحَجِّ شَرْطَانِ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِمَا:

أَحَدُهُمَا: كَوْنُ الْوُقُوفِ فِي أَرْضِ عَرَفَاتٍ.

وَلِلتَّفْصِيل فِي مَعْرِفَةِ حُدُودِ عَرَفَةَ يُنْظَرُ مُصْطَلَحُ (عَرَفَات ف 2) .

الثَّانِي: أَنْ يَكُونَ الْوُقُوفُ فِي زَمَانِ الْوُقُوفِ وَهُوَ الْيَوْمُ التَّاسِعُ مِنْ ذِي الْحِجَّةِ وَهُوَ يَوْمُ عَرَفَةَ، وَلَيْلَةُ الْعَاشِرِ مِنْ ذِي الْحِجَّةِ إِلَى طُلُوعِ الْفَجْرِ، فَمَنْ طَلَعَ الْفَجْرُ وَلَمْ يَقِفْ فِي شَيْءٍ مِنْ عَرَفَةَ فَقَدْ فَاتَهُ الْحَجُّ. (البحر الرائق 2 / 365، وشرح العمدة 2 / 576 ـ 577، والمجموع 8 / 110، ونهاية المحتاج 3 / 290(

وَزَادَ الشَّافِعِيَّةُ فِي شُرُوطِ الْوُقُوفِ بِعَرَفَةَ أَنْ يَكُونَ مُحْرِمًا أَهْلاً لِلْعِبَادَةِ، فَلاَ يَكْفِي حُضُورُ غَيْرِ الأَهْل لَهَا كَالْمَجْنُونِ وَالْمُغْمَى عَلَيْهِ وَالسَّكْرَانِ إِذَا اسْتَغْرَقَ حَالُهُمْ جَمِيعَ وَقْتِ الْوُقُوفِ. وَقَالُوا: لَكِنْ يَقَعُ حَجُّ الْمَجْنُونِ نَفْلاً كَالصَّبِيِّ الَّذِي لاَ يُمَيِّزُ فَيَبْنِي وَلِيُّهُ بَقِيَّةَ الأَعْمَال

==

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اعْتَمَرَ أَرْبَعَ عُمَرٍ كُلُّهُنَّ فِي ذِي الْقَعْدَةِ إِلَّا الَّتِي مَعَ حَجَّتِهِ: عُمْرَةً مِنَ الْحُدَيْبِيَةِ، أَوْ زَمَنَ الْحُدَيْبِيَةِ فِي ذِي الْقَعْدَةِ، وَعُمْرَةً مِنَ الْعَامِ الْمُقْبِلِ فِي ذِي الْقَعْدَةِ، وَعُمْرَةً مِنْ جِعْرَانَةَ حَيْثُ قَسَمَ غَنَائِمَ حُنَيْنٍ فِي ذِي الْقَعْدَةِ، وَعُمْرَةً مَعَ حَجَّتِهِ ”

bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan umrah sebanyak empat kali, semuanya beliau lakukan di bukan Dzulqa’dah kecuali umrah yang beliau kerjakan bersamaan dengan hajinya, yaitu umrah dari Hudaibiyah atau Umrah pada zaman Hudaibiyah tepatnya pada bulan Dzulqa’dah, dan umrah pada tahun sesudah itu juga dalam bulan Dzulqa’dah. Kemudian umrah yang beliau lakukan dari Ji’ranah ketika membagi-bagikan harta rampasan perang Hunain, juga di bulan Dzulqa’dah, dan sesudah itu umrah yang beliau lakukan bersamaan dengan haji. (HR. Muslim)

Posted on 2 Oktober 2015, in Ibadah, Kritik Pemikiran and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s