Jenggot ‘Memelintir’ Kecerdasan

1. Benarkah jenggot mengurangi kecerdasan, sehingga makin panjang jenggot maka makin goblok?

2. Benarkah kalau jenggot dibiarkan panjang, walau kecerdasan otak berkurang, namun (kecerdasannya) turun kehati, Artinya orang yang berjenggot panjang adalah simbol dari orang yang hatinya sudah arif, hatinya bersih…sehingga kalau mau berjenggot panjang,  hatinya harus mulia, harus bersih dengan berakhlakul karimah.

***

Pertanyaan pertama berkaitan dengan seorang pemuka ormas Islam yang dalam rekaman suaranya menyatakan: “Orang berjenggot itu mengurangi kecerdasan, jadi syaraf yang sebenarnya untuk mendukung kecerdasan otak, ketarik oleh, untuk memanjangkan jenggot,…(disambut tepuk tangan) Tapi kalau berjenggot, emosinya saja yang meledak-ledak, geger otaknya. Karena syaraf yang untuk mensupport otak supaya cerdas, ketarik oleh jenggot itu. Semakin panjang, semakin goblok! (disambut tepuk tangan).

Lalu ada yang membela dengan mengutip kitab para ‘ulama semisal Al Imam Al Hafizh Ibnul Jauzi dalam kitabnya Akhbarul Hamqa wal Mughaffalin menukil sebuah keterangan di dalam kitab Taurat :

إن اللحية مخرجها من الدماغ فمن أفرط عليه طولها قل دماغه ومن قل دماغه قل عقله ومن قل عقله كان أحمق

Sesungguhnya jenggot itu tempat keluarnya dari otak. Barang siapa lebai dalam memanjangkannya maka sedikitlah otaknya, barang siapa sedikit otaknya maka sedikitlah akalnya dan barang siapa sedikit akalnya maka dia itu KOPLAK….!!!

***

Ungkapan diatas bukanlah ungkapan Al Imam Al Hafizh Ibnul Jauzi (w. 597 H) dalam kitabnya Akhbarul Hamqa wal Mughaffalin, namun ucapan Al Ma’mun dalam kitab Ghararul Khôshôis al Wâdhihah[1] hal 156 karya Abu Ishaq Burhanuddin Muhammad (w. 718 H). Dan kalau diterjemahkan:

Sesungguhnya jenggot itu tempat keluarnya dari otak. Barang siapa yang ekstrim(berlebihan/afratha) dalam memanjangkannya maka sedikitlah otaknya, barang siapa sedikit otaknya maka sedikitlah akalnya dan barang siapa sedikit akalnya maka dia itu dungu/tolol…

Ungkapan tersebut bukan mencela berjenggot, namun mencela ekstrim(berlebihan/afratha) dalam memanjangkannya perhatikan frase (فمن أفرط عليه طولها) maka akan jelas maksudnya.

Bagaimana sikap berlebihan yang mereka cela? Salah satunya adalah memanjangkannya lebih dari satu genggaman, Imam Ibnul Jauzi, dalam Akhbarul Hamqa wal Mughaffalin hal 23 menyatakan:

قال زياد ابن أبيه: ما زادت لحية رجل على قبضته، إلا كان ما زاد فيها نقصاً من عقله

Telah berkata Ziyâd: Tidaklah lelaki yang jenggotnya bertambah (panjang) melebihi genggamannya, kecuali bertambah pula kekurangan akalnya.

Menurut hemat penulis, termasuk sikap ekstrim juga ketika menjadikan jenggot sebagai standar kesholehan seseorang, hingga ada yang mencela da’i yang tak berjenggot, “jenggot saja tidak punya mau bicara khilafah, panjangkan jenggot dulu baru bicara khilafah!”

Adapun dari sisi fiqh, para ‘ulama beda pendapat tentang mencukur jenggot:

ذَهَبَ جُمْهُوْرُ الْفُقَهَاءِ : الْحَنَفِيَّةِ وَالْمَالِكِيَّةِ وَالْحَنَابِلَةِ وَهُوَ قَوْلٌ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ إِلَى أَنَّهُ يَحْرُمُ حَلْقُ اللِّحْيَةِ لأَنَّهُ مُنَاقِضٌ لِلأَمْرِ النَّبَوِيِّ بِإِعْفَائِهَا وَتَوْفِيْرِهَا …… وَاْلأَصَحُّ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ : أَنَّ حَلْقَ اللِّحْيَةِ مَكْرُوْهٌ

Mayoritas ulama fikih: Hanafiyyah, Malikiyah, Hanabilah dan satu pendapat dalam madzhab Syafiiyah menyatakan bahwa mencukur jenggot hukumnya haram, karena bertentangan dengan perintah Nabi untuk membiarkan jenggot dan memanjangkannya[2]….dan pendapat yang lebih unggul dalam madzhab Syafi’iyah: mencukur jenggot adalah makruh[3] (Mausu’ah al-Fiqhiyyah al Kuwaitiyyah, 35/226)

Imam as Syafi’i sendiri juga membiarkan jenggotnya hingga segenggam, dalam Syadzaratudz Dzahab juz 2 hal 204, al Muzani, murid beliau, berkata:

ما رأيت أحسن وجهاً من الشافعي، إذا قبض على لحيته لا تفضل عن قبضته

Tidaklah pernah kulihat wajah yang lebih tampan daripada As Syafi’i, jika beliau (as Syafi’i) menggenggam jenggotnya tidaklah (jenggotnya) melebihi genggamannya…

***

Pertanyaan kedua, berkaitan dengan bayan (penjelasan) dari sang tokoh yang menyatakan bahwa pidatonya dipelintir[4], menurut beliau walaupun kecerdasannya berkurang, dia akan turun ke hati. Artinya orang yang berjenggot panjang adalah simbol dari orang yang hatinya sudah arif, hatinya bersih, tidak lagi mencintai harta, mencintai dunia, apalagi jabatan. Kemudian menjadi orang yang ikhlas lillahita’ala.

***

Dari rekaman yang ada, saya melihat bukan masalah pemelintiran berita, namun kalimat yang beliau gunakan memang seperti itu, sangat kontras dengan bayan yang beliau sampaikan. Berkaitan dengan kaitan jenggot panjang dengan kearifan hati, “Silahkan berjenggot panjang, tapi hatinya harus mulia, harus bersih dengan berakhlakul karimah”, itu adalah dua hal yang berbeda, maka mau panjang atau pendek jenggot seseorang, kemuliaan hati dan akhlakul kariimah tetaplah wajib, sama seperti ungkapan “melempar jumrah adalah simbol permusuhan dengan syaithan, silahkan melempar jumrah, tapi jangan lakukan semua yang haram lagi” jangan sampai difahami kalau masih ada sebagian maksiyat dilakukan lalu tidak boleh melempar jumroh…. Kalau masih belum baik, tidak usah sholat, tidak usah nutup aurat…. Moga tidak ada yang berfikir demikian.

Yang jelas, memelihara jenggot adalah masalah khilafiyyah, jangan sampai timbul saling mengejek hingga memutus ukhuwwah (persaudaraan) sesama muslim, disamping itu juga tidak berkaitan dengan bangkit/tidaknya umat, namun dalam beberapa keadaan memang perlu dibahas agar masing-masing pihak bisa menahan diri dan bertoleransi. Allaahu A’lam. [M.Taufik N.T]


Baca Juga:

[1] الكتاب: غرر الخصائص الواضحة، وعرر النقائض الفاضحة

المؤلف: أبو إسحق برهان الدين محمد بن إبراهيم بن يحيى بن علي المعروف بالوطواط (المتوفى: 718هـ

[2] Seperti hadits :

أَحْفُوا الشَّوَارِبَ وَأَعْفُوا اللِّحَى

“Potong pendeklah kumis dan biarkanlah (peliharalah) jenggot.” (HR. Muslim no. 623)

[3] القليوبي 4 / 205

[4] diunggah melalui aplikasi priscope twitter @SeputarNU. Berikut transkip lengkapnya:

Assalamu’alaikum Warahmatullahi wabarakatuh

Memilihara jenggot adalah termasuk salah satu sunnah Rasullah SAW. Konsekuensinya orang yang memanjangkan jenggot harus mengikuti perilaku dan akhlak rasulullah. Karena misi yang paling subtansi dari rasulullah adalah membangun akhlakul karimah, bukan sekedar aksesoris yang menghiasi dirinya, tapi akhlaknya jauh dari perilaku akhlak mulia dan akhlak rasullah.

Masalah jenggot, menurut saya, orang yang memiliki jenggot itu mengurangi kecerdasanya. Karena syaraf yang sebenarnya mendukung untuk kecerdasan otak sehingga menjadi cerdas, (karena tumbuh jenggot) akan tertarik sampai habis. Sehingga jenggotnya menjadi panjang.

Nah, orang yang berjenggot panjang, walaupun kecerdasannya berkurang, dia akan turun ke hati. Artinya orang yang berjenggot panjang adalah simbol dari orang yang hatinya sudah arif, hatinya bersih, tidak lagi mencintai harta, mencintai dunia, apalagi jabatan. Kemudian menjadi orang yang ikhlas lillahita’ala.

Oleh karena itu, apabila kita melihat ulama-ulama sufi atau para wali, itu semuanya berjenggot. Artinya kecerdasannya sudah pindah dari otak menuju hati. Orang yang berjenggot seharusnya mengikuti beliau-beliau ini. Perpanjang jenggot itu silahkan, tapi hatinya harus mulia. Tidak ada rasa takabur, tidak ada hubbu al dunya (mencintai dunia), cinta kedudukan maupun jabatan. Karena jenggot menunjukan simbol kebersihan hatinya dan simbol karifan jiwanya.

Bagi yang belum mencapai maqom tersebut, menurut saya, seyogyanya tidak memenghiasi dirinya penampilan jenggot panjang, bergamis, dan malah menjadikannya sombong akhirnya dengan penampinnya tersebut. Dia merasa paling benar, paling mengikuti sunnah rasul. Silahkan berjenggot panjang, tapi hatinya harus mulia, harus bersih dengan berakhlakul karimah.

Iklan

Posted on 16 September 2015, in Fiqh, Kritik Pemikiran. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s