Khutbah Jum’at – Haji; Memenuhi “Panggilan” Allah

Imam Ibnu Katsir, dalam kitab beliau, al Bidayah wa an Nihâyah[1], menceritakan bahwa Imam Abdullah bin al Mubârak (w. 181 H), dalam suatu perjalanan haji, terdapat seekor burung yang mati milik salah satu anggota rombongan. Lalu beliau memerintahkan agar bangkai burung itu dibuang ke tempat pembuangan kotoran (mazbalah). Rombongan haji itupun melanjutkan perjalanan menuju Makkah, sedangkan beliau berjalan dibelakang rombongan tersebut. Ketika melewati tempat pembuangan kotoran tersebut, beliau melihat ada anak perempuan keluar dari rumah yang dekat dengan tempat pembuangan kotoran tersebut, mengambil bangkai burung itu lalu bergegas kembali ke rumah.

Merasa ada hal yang aneh, Ibnul Mubarak mendatangi anak perempuan tsb dan bertanya mengenai keadaannya dan mengapa mengambil bangkai tersebut. Anak perempuan tersebut menjelaskan: “Aku dan saudaraku ini tidak memiliki apa-apa kecuali pakaian ini. Dan kami tidak memiliki makanan kecuali apa yang dibuang ke tempat pembuangan tersebut. Bangkai burung ini halal untuk kami (karena darurat) sejak beberapa hari, dan ayah kami adalah orang yang punya harta, namun didzalimi, diambil hartanya dan dibunuh”

Kemudian Ibnul Mubarak meminta kepada pembantunya untuk menghitung uang yang tersisa untuk perjalanan haji, ternyata masih tersisa 1000 dinar. Lalu beliau mengambil 20 dinar untuk ongkos pulang ke Merv (Marw, satu kota di Turkmenistan), sedangkan sisanya diberikan kepada dua bersaudara ini.

Kepada rombongan haji yang gagal melanjutkan perjalanan haji, Ibnul Mubarak berkata, “(Apa yang telah aku lakukan) ini lebih utama dari pada haji kita pada tahun ini,”.

Ibadah haji adalah manifestasi dari memenuhi panggilan Allah swt, yang memerintahkan nabi-Nya untuk menyeru kepada haji, sebagaimana firman-Nya:

Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus[2] yang datang dari segenap penjuru yang jauh, (QS. Al Hajj: 27)

Oleh sebab itu, diantara ucapan jama’ah haji adalah talbiyyah, yakni mengucapkan: “LabbaikalLaahumma Labbaik….”(Aku datang memenuhi panggilanMu ya Allah…) (HR. al Bukhari)

Memenuhi panggilan Allah adalah dengan meyakini-Nya dan tunduk kepada semua syari’ah-Nya. Mengutamakan yang lebih utama sembari berupaya menjalankan berbagai hal yang sunnah.

Oleh karena itu, termasuk orang yang tertipu jika berhaji berkali-kali namun tidak peduli kepada tetangganya yang miskin dan sukar mencukupi kebutuhan hidupnya, padahal haji yang kedua dan berikutnya adalah sunnah, sementara memberi makan tetangga yang kelaparan adalah wajib. Juga termasuk orang yang tertipu jika berhaji berkali-kali namun tetap membiarkan hukum-hukum penjajah diterapkan dinegerinya, padahal diterapkanya aturan selain aturan Allah itulah yang menjadi pangkal kemiskinan massal dan kesengsaraan manusia.

Semoga kita tidak tertipu dalamhidup kita, hingga sibuk dengan perkara sunnah namun mengabaikan berbagai kewajiban dari Allah swt, apalagi bermaksiyat kepada-Nya. Al Hafizh Ibnu Hajar menuliskan dalam kitabnya, Fathul Bari 11/442: “Barangsiapa disibukkan dengan perkara wajib sehingga melupakan perkara sunnah, maka ia termaafkan. Barangsiapa disibukkan dengan perkara sunnah sehingga perkara wajib terbengkalai, maka ia adalah orang yang tertipu”. Allaahu A’lam.

Download selengkapnya di <<>>


Baca Juga:

[1]al Bidayah wa an Nihâyah, Juz 10 hal 191:

وَخَرَجَ مَرَّةً إِلَى الْحَجِّ فَاجْتَازَ بِبَعْضِ الْبِلَادِ فَمَاتَ طَائِرٌ مَعَهُمْ فأمر بإلقائه على مزبلة هناك، وَسَارَ أَصْحَابُهُ أَمَامَهُ وَتَخَلَّفَ هُوَ وَرَاءَهُمْ، فَلَمَّا مَرَّ بِالْمَزْبَلَةِ إِذَا جَارِيَةٌ قَدْ خَرَجَتْ منٌ دَارٍ قَرِيبَةٍ مِنْهَا فَأَخَذَتْ ذَلِكَ الطَّائِرَ الْمَيِّتَ ثم لفته ثم أسرعت به إلى الدار، فجاء فسألها عن أمرها وأخذها الميتة، فقالت أنا وأخي هنا ليس لنا شئ إلا هذا الإزار، وليس لنا قوت إلا ما يلقي على هذه المزبلة، وقد حلت لنا الميتة منذ أيام.

وكان أبونا له مال فَظُلِمَ وَأُخِذَ مَالُهُ وَقُتِلَ.

فَأَمَرَ ابْنُ الْمُبَارَكِ بِرَدِّ الْأَحْمَالِ وَقَالَ لِوَكِيلِهِ: كَمْ مَعَكَ مِنَ النفقة؟ قال: أَلْفُ دِينَارٍ.

فَقَالَ: عدَّ مِنْهَا عِشْرِينَ دِينَارًا تَكْفِينَا إِلَى مَرْوَ وَأَعْطِهَا الْبَاقِيَ.

فَهَذَا أَفْضَلُ مِنْ حَجِّنَا فِي هَذَا الْعَامِ، ثُمَّ رَجَعَ.

[2] ”Unta yang kurus” menggambarkan jauh dan sukarnya yang ditempuh oleh jemaah haji.

Iklan

Posted on 10 September 2015, in Khutbah Jum'at. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s