Khutbah Jum’at – Ibadah Haji Bukan Pemborosan

Haji adalah kewajiban bagi umat Islam yang mampu. Allah berfirman: Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah (QS. Ali ‘Imran 97)

Sungguh menggembirakan, walaupun hidup dalam kesederhanaan, kaum muslimin di Indonesia sanggup menyisihkan sedikit-demi sedikit uang untuk memenuhi seruan Allah, berhaji ke Baitullah, hingga daftar tunggu untuk bisa berangkat mencapai belasan tahun.

Ditengah semangat mereka yang membara, ada saja segelintir orang yang mempunyai pemikiran agar haji di stop saja. Kalau dulu para penganut Kejawen mengatakan bahwa tak perlu beribadah haji ke Mekkah, atau penganut aliran sesat yang berhajinya ke candi Borobudur[1], sekarang alasannya terkesan logis dan ilmiah[2].

Diantara alasan mereka adalah bahwa ibadah haji menelan dana yang cukup besar, sekitar Rp. 30 trilyun pertahun. Dana sebesar itu bisa digunakan untuk membantu orang yang hidup dibawah garis kemiskinan yang pada September 2014 mencapai 27,73 juta orang (dengan pengeluaran Rp 312 ribu per-bulan). Dana tersebut juga bisa digunakan untuk pembangunan fasilitas untuk kesejahteraan rakyat.

Ada beberapa kekeliruan berpikir yang berbahaya dalam ungkapan tersebut, diantaranya:

Pertama, bagi orang beriman, menjalankan perintah Allah jauh lebih penting dibandingkan kekayaan dunia. Tidak aneh kalau pada saat Rasul menyeru kaum muslimin berinfaq dalam rangka mengirim pasukan ke Tabuk, ada sahabat dari kaum Anshar yang hanya mempunyai dua sha’ kurma (sekitar 5 kg) berkata: “Ya Rasulullah, saya mempunyai dua sha’ kurma, yang satu sha’ aku sedekahkan dan satu sha’ lagi untuk keluargaku.” Rasulullah saw pun menerimanya, beliau tidak mengatakan: “engkau ini miskin, tidak perlu infak di jalan Allah, lebih baik engkau lebih giat bekerja untuk kesejahteraan dirimu sendiri”.

Kedua, tidak perlu dipertentangkan antara kewajiban naik haji dan menyantuni orang miskin. Salah satu tanda mabrurnya haji seseorang adalah punya perhatian besar terhadap orang disekitarnya. Bahkan menyantuni orang miskin sangat menunjang bagi upaya untuk mendapatkan haji yang mabrur.

Ketiga, orang yang pergi haji tidak mesti mereka orang yang kaya raya, tidak sedikit diantara mereka yang harus menabung puluhan tahun baru bisa berhaji, sangat tidak adil kalau untuk membangun fasilitas negara diambilkan dari dana haji mereka.

Keempat, mengentaskan kemiskinan harusnya menjadi tanggung jawab negara. Negaralah yang diamanahi untuk mengelola kekayaan alam negeri ini, yang kata Dr. Kurtubi, jika diuangkan bisa mencapai Rp 200 ribu trilyun[3]. Sangat aneh jika rakyat yang sudah harus membayar berbagai macam pajak, uang mereka yang tidak seberapa itu pula yang senantiasa diusik, sementara kekayaan yang luar biasa justru dibiarkan dinikmati pihak asing!.

Kelima, jika alasannya adalah penghematan, maka seharusnya dana studi banding para pejabat yang patut dihemat. Kunjungan kerja anggota Komisi III DPR untuk belajar hukum adat ke Inggris, 22-26 Agustus 2015 lalu, yang hanya memberangkatkan 9 orang memakan biaya mencapai Rp 3,3 miliar[4], bandingkan dengan uang Rp 30 trilyun namun memberangkatkan 211 ribu orang untuk ibadah haji, dan jamaah hajipun tidak dibayari negara, namun bayar dari saku masing-masing. Lebih dari itu, mengapa yang cuma 211 ribu orang berangkat haji pertahun dipersoalkan, sementara tiap tahun 8,9 juta turis Indonesia melancong ke Eropa[5] tidak dianggap pemborosan, kenapa bukan mereka saja yang mereka usulkan untuk distop?

Semoga Allah menerima ibadah haji saudara-saudara kita yang berangkat haji tahun ini, menjadikan mereka haji yang mabrûr, dan menyelamatkan kita dari berbagai pemikiran para ruwaibidhoh, sebagaimana diriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda:

Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh tipu daya, di masa itu para pendusta dibenarkan omongannya sedangkan orang-orang jujur didustakan, di masa itu para pengkhianat dipercaya sedangkan orang yang terpercaya justru tidak dipercaya, dan pada masa itu muncul Ruwaibidlah, ditanyakan kepada beliau saw. apa itu Ruwaibidlah? Rasul menjawab: Seorang yang bodoh (yang dipercaya berbicara) tentang masalah rakyat/publik”. (HR. Ibnu Majah dari Abu Hurairah).
Download selengkapnya (pdf)   <<di sini>>

Baca juga:


[1] voa-islam.com, 7 Mei 2012

[2] Seperti Ade Armando, dalam tulisannya “Meninjau Kembali Hukum Wajib Haji Saat Ini”, 25 Agustus 2015.

[3] Liputan6.com, 28 Januari 2014

[4] Detik.com, 1 sept 2015

[5] kompas.com, 14 Okt 2014

Posted on 3 September 2015, in Khutbah Jum'at. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s