Hukum Membuat Patung Makhluk Bernyawa

Dalam istilah fiqih, membuat patung masuk dalam pembahasan tashwîr, yang berarti perbuatan membuat bentuk sesuatu, baik bentuk tersebut tidak mempunyai bayangan (dua dimensi), seperti lukisan, maupun bentuk yang mempunyai bayangan (tiga dimensi), seperti membuat patung.[1]

Hukum Tashwîr

Tashwîr hukumnya boleh jika objek yang dibentuk/digambar adalah makhluk yang tidak bernyawa, seperti pohon, gunung, sungai, mobil, dan sebagainya, dalam hal ini tidak ada perbedaan pendapat dikalangan ‘Ulama tentang kebolehannya, kecuali ada sebagian kecil yang mengharamkan menggambar pohon yang berbuah.[2] Hanya saja kebolehan ini berubah jadi haram jika diketahui gambar/patung tersebut dijadikan sesembahan. [3]

Adapun jika objeknya adalah makhluk yang bernyawa (binatang/manusia) maka jumhur (mayoritas) ulama dari madzhab Hanafiyah, Syafi’iyah dan Hanabilah berpendapat akan haramnya aktivitas tashwîr ini, baik hasilnya tidak memiliki bayangan (2 dimensi), maupun memiliki bayangan (3 dimensi).[4] Mereka hanya berbeda pendapat apakah ini masuk dosa besar ataukah tidak, apakah patung jika kepalanya saja tanpa badan boleh ataukah tidak.[5]

Adapun madzhab Malikiyyah berpandangan bahwa keharaman tashwîr dengan objek yang bernyawa hanya berlaku jika terpenuhi tiga syarat: 1) hasilnya memiliki bayangan (tiga dimensi), 2) anggota tubuh patung yang dibuat sempurna, jika kurang salah satu anggota, yang dengan ketiadaan anggota tersebut tidak mungkin makhluk yang digambar akan hidup, seperti patung bekantan (kera) tanpa kepala, maka hukumnya tidak haram. 3) dibuat dengan bahan yang tahan lama, sehingga jika membuatnya dari kulit semangka atau adonan roti maka tidaklah haram.[6]

Dalil Keharaman Tashwîr

Diantara dalil para ‘ulama ketika mengharamkan tashwîr adalah hadits riwayat Imam al Bukhary dan Muslim bahwa ‘Aisyah r.a menceritakan, “Pernah Rasulullah saw datang dari suatu perjalanan, waktu itu aku telah membuat tirai pemisah ruangan depan[7] dengan kain tipis milikku yang terdapat gambar-gambar. Ketika Rasulullah saw melihat hal itu, beliau menyentakkannya dan bersabda,

أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الَّذِينَ يُضَاهُونَ بِخَلْقِ اللَّهِ

“Sesungguhnya orang yang paling berat siksanya pada hari kiamat adalah mereka yang membuat sesuatu yang menandingi ciptaan Allah.”

‘Aisyah mengatakan, “Akhirnya kami menjadikan kain tersebut menjadi satu atau dua bantal.”

Dalam riwayat lain disebutkan,

إِنَّ أَصْحَابَ هَذِهِ الصُّوَرِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يُعَذَّبُونَ ، فَيُقَالُ لَهُمْ أَحْيُوا مَا خَلَقْتُمْ

“Sesungguhnya pembuat gambar ini akan disiksa pada hari kiamat. Dikatakan pada mereka, “Hidupkanlah apa yang telah kalian ciptakan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain disebutkan,

إِنَّ مِنْ أَشَدِّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الَّذِينَ يُشَبِّهُونَ بِخَلْقِ اللَّهِ

“Sesungguhnya orang yang paling pedih siksaannya pada hari kiamat kelak adalah orang yang membuat sesuatu yang serupa dengan ciptaan Allah.” (HR. Muslim).

Pengecualian

Dikecualikan dari haramnya tashwîr ini, adalah membuat boneka untuk anak-anak, karena terdapat hadits-hadits shahih yang membolehkannya. Dari ‘A`isyah RA dia berkata,

كُنْتُ أَلْعَبُ بِالْبَنَاتِ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ لِي صَوَاحِبُ يَلْعَبْنَ مَعِي، فَكَانَ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَل يَتَقَمَّعْنَ مِنْهُ، فَيُسَرِّبُهُنَّ إِلَيَّ، فَيَلْعَبْنَ مَعِي

“Dulu aku pernah bermain boneka-boneka berbentuk anak perempuan di dekat Nabi SAW, waktu itu aku punya beberapa teman perempuan yang suka bermain-main denganku, apabila Rasulullah saw masuk, mereka bersembunyi dari beliau. Sehingga beliau memanggil mereka supaya bermain bersamaku.” (HR Bukhari & Muslim). Allâhu A’lam.[M. Taufik NT]

Baca Juga:

[1] Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 12/92-93

[2] Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 12/97

[3] Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 12/98

[4] Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 12/102

أَنَّهُ يَحْرُمُ تَصْوِيرُ ذَوَاتِ الأْرْوَاحِ مُطْلَقًا، أَيْ سَوَاءٌ أَكَانَ لِلصُّورَةِ ظِلٌّ أَوْ لَمْ يَكُنْ. وَهُوَ مَذْهَبُ الْحَنَفِيَّةِ وَالشَّافِعِيَّةِ وَالْحَنَابِلَةِ

[5] Ibnu Qudamah membolehkan patung kepala saja tanpa tubuh, sedangkan Syafi’iyyah tetap mengharamkannya walau hanya kepala saja. Berdasarkan riwayat al Baihaqi اَلصُّوْرَةٌ الرَّأْسُ ، فَإِذَا قُطِعَ فَلاَ صُوْرَةٌ (Gambar itu adalah kepala, jika kepalanya dihilangkan maka tidak lagi disebut gambar.”)

[6] Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 12/101-102

[7] وَالسَّهْوَةُ – بفتح السينِ المهملة، وهي: الصُّفَّةُ تَكُونُ بَيْنَ يَدَيِ البَيْتِ، وقيلَ: هِيَ الطَّاقُ النَّافِذُ في الحائِطِ

Posted on 1 Juni 2015, in Ikhtilaf, Syari'ah. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s