Yuk, Hadiri RPA (Rapat & Pawai Akbar) 1436 H, Banjarmasin 14 Mei 2015

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا

Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit. (QS Thaha: 124)

Dulu, sekarang dan sampai kapanpun, setiap penyimpangan dan pengabaian aturan Sang Pencipta pasti akan menyebabkan kerusakan, bencana dan sempitnya hidup.

Rasulullah saw bersabda:

وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَّا جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ

Dan tidaklah pemimpin-pemimpin mereka enggan menjalankan hukum-hukum Allah dan mereka memilih-milih apa yang diturunkan Allah, kecuali Allah akan menjadikan bencana di antara mereka. (HR. Ibnu Majah dengan sanad hasan).

Perangkap Utang

Utang Negara ini:

  • pada akhir pemerintahan Soekarno 2,17 miliar dollar AS,
  • pada akhir pemerintahan Soeharto, naik 25 kali lipat menjadi 54 miliar dollar AS,
  • pada akhir pemerintahan SBY, naik menjadi > 131 kali lipat, yakni sebesar 284,9 miliar dollar AS

Neo-Imperialisme (penjajahan gaya baru)

Untuk membayar utang luar negeri itu, Indonesia harus menguras cadangan devisa yang ada, tahun 2014, pemerintah menargetkan nyicil bunga dan pokok utang sebesar Rp 369 triliun. Namun walaupun tiap tahun sudah nyicil cukup besar, tetap saja utangnya naik sekitar 10,1 % dibanding tahun lalu.[1]

Devisa diperoleh dari ekspor, dan ekspor yang diandalkan Indonesia tidak lain adalah ekspor yang berasal dari Sumber Daya Alam (SDA) yang ada. Sebagian besar SDA telah dikuasai asing, maka yang terjadi berikutnya adalah ekspliotasi sumberdaya manusia (SDM), disamping eksploitasi rakyat lewat pajak. Perpaduan antara kemiskinan, melimpahnya SDM dan tingkat pendidikan yang rendah akan menghasilkan nilai upah tenaga kerja yang sangat murah, sehingga perusahaan asing makin betah ‘tinggal’ dan berkuasa di negeri ini.

Utang juga memicu terjadinya intervensi. Banyak undang-undang yang dibuat karena intervensi atau pesanan asing. Menurut anggota DPR, Eva Kusuma, selama 12 tahun pasca reformasi ada 76 undang-undang yang draftnya dari asing.[2] Disamping itu, tercatat 1800 perda dihapus untuk memuluskan dominasi penjajah dengan mengatasnamakan investasi.[3]

Dalam bidang migas, lahir UU No. 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi (UU Migas), UU ini semakin membuka kran liberalisasi migas. Pertamina dikebiri, dan perusahaan asing diberi kesempatan seluas-luasnya untuk mengeruk ladang migas Indonesia. Menurut Dr. Kurtubi ”ini merupakan bentuk dari kelanjutan konsensus di zaman penjajahan” .

Dengan berbekal UU tersebut dan UU lain yang serupa, pemerintah telah memprivatisasi 12 BUMN pada periode 1991-2001 dan 10 BUMN pada periode 2001-2006. Pemerintah tahun 2008 melalui Komite Privatisasi BUMN yang diketuai Menko Ekuin Boediono saat itu mengharapkan agar dari 139 BUMN diprivatisasi menjadi 69 BUMN. Karenanya, privatisasi itu akan terus berjalan. Subsidi dicabut; bagian dari agenda penjajahan yang paling nyata adalah pencabutan secara bertahap subsidi BBM yang telah dan akan dilakukan. Juga pencabutan subsidi di bidang pertanian (seperti pencabutan subsidi pupuk), kesehatan, pendidikan, dll. SDA Indonesia dikangkangi asing; di bidang perminyakan, penghasil minyak utama didominasi oleh asing. Diantaranya, Chevron 44%, Pertamina & mitra 16%, Total E&P 10%, Conoco Phillip 8%, Medco 6%, CNOOC 5%, Petrochina 3%, BP 2%, Vico Indonesia 2%, Kodeco Energy 1 % lainnya 3%.[4] Di bidang pertambangan, lebih dari 70% dikuasai asing. Asing juga menguasai 50, 6% aset perbankan nasional, juga 60-70 persen dari semua saham perusahaan yang dicatatkan dan diperdagangkan di bursa efek.

Tidak heran jika mantan Presiden BJ. Habibie pada peringatan hari lahirnya Pancasila, 1 Juni 2011 di Gedung DPR/MPR menyatakan: ”Salah satu manifestasi globalisasi dalam bidang ekonomi, misalnya adalah pengalihan kekayaan alam suatu negara ke negara lain, yang setelah diolah dengan nilai tambah yang tinggi, kemudian menjual produk-produk ke negara asal, sedemikian rupa sehingga rakyat harus ”membeli jam kerja” bangsa lain. Ini adalah penjajahan dalam bentuk baru, neo-colonialism, atau dalam pengertian sejarah kita, ”VOC dengan baju baru

Itu Belum Seberapa

Dirampoknya kekayaan negeri ini dan dimiskinkannya negara dan rakyatnya belumlah seberapa jika dibandingkan dengan rusaknya generasi akibat pengabaian aturan Allah swt. Jika manusianya sudah dirusak, maka penderitaan yang terjadi bukan hanya di dunia, namun sampai akhirat kelak. Perzinaan dan perkosaan menjadi hal lumrah dalam berita. Menurut Yuniyanti Chuzaifah, ketua komnas perempuan, setiap hari 20 perempuan jadi korban perkosaan (Majalah detik ed 61. 28 Jan – 3 Feb 2013). Hal ini juga terjadi di negeri kapitalis lainnya, Lebih dari 24 orang dalam satu menit melaporkan perkosaan atau kekerasan seksual di Amerika Serikat, bahkan satu dari tujuh pria (14,3%) pernah diperkosa atau mengalami upaya perkosaan (http://id.berita.yahoo.com/kasus-perkosaan-di-mengkhawatirkan-091400494.html). Penyakit menular seksual (PMS) di Indonesia tahun 2010 tercatat 48.789.954 orang.

Sebagian orang mengkhawatirkan kalau diterapkannya syari’ah Islam maka akan banyak pertumpahan darah, padahal faktanya justru tanpa diterapkannya hukum syari’ah pertumpahan darah terjadi setiap hari. Tahun 2005, Benedetto Saraceno, Direktur Departemen Kesehatan Mental dan Penyalahgunaan Substansi WHO, menyatakan, kematian rata-rata karena bunuh diri di Indonesia adalah 24 kematian per 100.000 penduduk. Jika penduduk Indonesia 220 juta jiwa, diperoleh angka 50.000 kasus kematian akibat bunuh diri. 50 orang meninggal setiap hari akibat narkoba (Media Indonesia.com/07 Juni 2012), belum lagi kasus pembunuhan yang di Jatim saja pada 2012 mencapai angka 1357 kasus (hampir 4 kasus perhari). Bahkan pertumpahan darah juga terjadi atas manusia yang belum lahir, tiap tahun 700.000 remaja lakukan aborsi (lebih dari 1917 bayi per hari). dari 2,6 juta kasus aborsi (lebih dari 7123 bayi/hari, hampir 5 org/menit).

Perubahan

Jika sudah sadar apa penyebab kerusakan yang terjadi, maka tidak ada cara lain untuk memperbaikinya kecuali dengan menghilangkan penyebab kerusakan tersebut, mencampakkan sistem hukum warisan penjajah, dan menerapkan sistem dan konsep yang telah diberikan Allah swt, dan digunakan Rasulullah untuk mengatur masyarakat saat itu. Amirul Mukminin fil hadits Imam Darul Hijrah, Malik Ibn Anas berkata:

وَلَنْ يُصْلِحَ آخِرَ هَذِهِ الْأُمَّةِ، إِلَّا مَا أَصْلَحَ أَوَّلَهَا

“Dan akhir dari umat ini tidak akan bisa diperbaiki, kecuali dengan apa yang awal dari umat diperbaiki“ (as Sinqithi, Adhwa’ al Bayan, juz 8 hal 282)

Peran Kita

Ketika menafsirkan Surat ar Ra’du : 11, Imam al Qurthuby (wafat 671H) menyatakan:

أخبر الله تعالى في هذه الآية أنه لا يغير ما بقوم حتى يقع منهم تغيير، إما منهم أو من الناظر لهم، أو ممن هو منهم بسبب

Allah Ta’ala telah memberitahu dalam ayat ini bahwa Dia tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga terjadi perubahan dari mereka sendiri, bisa (perubahan) dari mereka (secara keseluruhan), bisa juga (perubahan) dari nadzir mereka, atau bisa juga (perubahan) dari sebagian mereka karena suatu sebab…

Dan hal yang tidak dapat dipungkiri, seseorang berubah karena perubahan pemahamannya, pemahaman seseorang bisa berubah erat kaitannya dengan opini yang biasa dia dapatkan dalam hidupnya. Oleh sebab itu, untuk melakukan perubahan secara mendasar, senantiasa diperlukan opini dan penyadaran umum masyarakat, hingga akhirnya merekalah, atau sebagian besar mereka, atau orang-orang berpengaruh ditengah-tengah mereka berubah menjadi menginginkan perbaikan hakiki, yakni dengan diterapkannya aturan-aturan dan petunjuk Allah dalam kehidupan.

Berkaitan dengan inilah, beberapa agenda besar diadakan oleh Hizbut Tahrir, dengan harapan mampu mempengaruhi, memperkuat opini, dan semakin menyadarkan masyarakat akan kerusakan sistemik yang sedang terjadi, serta memberikan solusi hakiki kepada perubahan yang lebih baik, tidak hanya baik di dunia, namun juga kebaikan untuk kehidupan yang kekal di akhirat kelak.

Kehadiran Kita Ikut Menentukan Besarnya Opini

Mungkin ada yang bertanya, apa gunanya sekedar hadir? Sudah sering hadir ‘ngumpul-ngumpul’, namun hukum syari’ah juga belum tegak?. Kehadiran kita ikut menentukan besarnya opini, dengan besarnya opini, semakin besar pula peluang orang tersadarkan, semakin kecut pula hatinya orang-orang yang menentang syari’ah Allah SWT. Inilah yang difahami oleh sahabat yang buta matanya, Abdullah bin Ummi Maktum r.a, yang mau ikut dalam perang Qadisiyyah, Anas bin Malik r.a bertanya kepadanya: “bukankah Allah telah memberi udzur kepadamu?” beliau menjawab,

بَلَى! وَلَكِنِّي أُكَثِّرُ [سَوَادَ] الْمُسْلِمِينَ بِنَفْسِي

Ya betul, tetapi saya menginginkan dengan kehadiran saya di sini dapat menambah jumlah kaum muslimin.” (Tafsir al Qurthuby, 4/266)

Suksesnya dakwah Rasulullah saw, atas izin Allah swt, tidak lepas dari besarnya opini yang berhasil digalang oleh Mush’ab bin Umair dengan mengadakan “kumpul-kumpul” di kebun-kebun kurma, akhirnya berhasil “membuat gerah” pimpinan suku, yakni Sa’ad bin Muadz yang akhirnya justru Allah gerakkan hatinya untuk menganut Islam. Dan setelah masuk Islam, justru Sa’ad berkata kepada kaumnya:

يَا بَنِي عَبْدِ الْأَشْهَلِ، كَيْفَ تَعْلَمُونَ أَمْرِي فِيكُمْ؟ قَالُوا: سَيِّدُنَا (وَأَوْصَلُنَا) وَأَفْضَلُنَا رَأْيًا، وَأَيْمَنُنَا نَقِيبَةً، قَالَ: فَإِنَّ كَلَامَ رِجَالِكُمْ وَنِسَائِكُمْ عَلَيَّ حَرَامٌ حَتَّى تُؤْمِنُوا باللَّه وبرسوله

Wahai Bani Abdil Asy-Hal, bagaimana kalian ketahui urusan (kepemimpinan)ku ditengah-tengah kalian? Mereka menjawab: (engkau) pemimpin kami, (dan orang yang gemar menyambung silaturahmi) dan orang yang pendapatnya paling utama, dan pemimpin yang paling amanah. Dia (Sa’ad) berkata: sesungguhnya ucapan lelaki dan wanita kalian haram bagiku hingga kalian beriman kepada Allah dan rasul-Nya. (Ibnu Hiysam (wafat 213 H), Sirah Nabawiyyah, 1/437)

Siapa tahu dengan hadirnya kita, melengkapi hadirnya umat Islam yang lain, Allah berkenan membuka hati siapa saja, termasuk para penguasa untuk berbalik mendukung tegaknya Syari’ah Allah, mereka yang awalnya ragu jadi berani, yang awalnya memusuhi jadi terbuka hati, yang awalnya membenci jadi mencari informasi sehingga mendapat informasi yang benar. Hal yang mungkin tidak pernah kita hitung, namun hitungannya sungguh besar disisi Allah swt. Rasulullah saw bersabda:

فَوَاللَّهِ لَأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ

Demi Allah, sesungguhnya Allah memberi petunjuk kepada seseorang dengan perantaraan engkau, itu lebih baik bagi engkau daripada engkau memiliki onta merah (HR. Al Bukhary)

Dalam riwayat Ibnul Mubârak (wafat 181 H):

لَأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا، خَيْرٌ لَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

sesungguhnya Allah memberi petunjuk kepada seseorang dengan perantaraan engkau, itu lebih baik bagi engkau daripada engkau memiliki dunia dan isinya. (Az Zuhdu li Ibnil Mubârak, 1/484).

Kalau Abdullah bin Ummi Maktum r.a tidak menjadikan kebutaannya sebagai ‘udzur, lalu apa yang menjadi ‘udzur kita? [M. Taufik N.T]

Baca Juga:

[1] http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/03/20/111200126/Utang.Luar.Negeri.Indonesia.Kembali.Naik

[2] Tempointeraktif.com, 20/8/2010

[3] http://www.jurnal-ekonomi.org/2010/04/23/demi-investasi-1800-perda-dihapus

[4] Sumber data: Dirjen Migas, 2009

Posted on 5 Mei 2015, in Kisah & Motivasi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s