Khutbah Jum’at – Bunuh Diri Marak, Mengapa?

Satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan seorang anak di Desa Minggiran, Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri, ditemukan tewas di rumahnya pada Jumat (3/4) malam (Merdeka.com, 5/4). Mereka bunuh diri karena tak sanggup menanggung masalah ekonomi. Kasus serupa terjadi di Pesanggrahan, Jakarta Selatan, juga di Bukittinggi, Sumatra Barat.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, angka bunuh diri di Indonesia meningkat tajam. Pada 2010 angka bunuh diri di Indonesia mencapai 1,8 per 100.000 jiwa atau sekitar 5.000 orang pertahun. Pada 2012 naik menjadi 4,3 per 100.000 jiwa atau sekitar 10.000 pertahun.

Akibat Sistem Kapitalisme

Maraknya bunuh diri hanyalah salah satu efek penerapan sistem kapitalisme. Di negara asalnya, Amerika, angka bunuh diri juga sangat tinggi, yakni 10,7 per 100.000 jiwa atau sekitar 31.000 pertahun, begitu pula Jepang, 23,8 per 100.000 jiwa atau sekitar 30 ribu pertahun.

Seseorang bisa bunuh diri karena rasa putus asa dan depresi. Depresi terjadi ketika seseorang merasakan beban hidup makin berat, sementara kemampuan menanggung beban makin kecil. Beban hidup yang harus dihadapi oleh seseorang banyak dipengaruhi oleh faktor luar. Beban ekonomi, perceraian, ujian, tekanan kerja, tuntutan dari orang sekitar, dan sebagainya sangat erat kaitannya dengan faktor luar itu.

Kapitalisme telah  ‘memaksa’ negara agar tidak berperan mengurusi rakyat. Berbagai urusan rakyat diserahkan kepada swasta atau asing, akibatnya kekayaan hanya bertumpuk pada segelintir orang, bahkan menurut Oxfam, separuh kekayaan global akan dikuasai hanya oleh satu persen orang saja.[1] Kapitalisme telah sukses memiskinkan sebagian besar manusia, menjadikan mereka berada dalam beban dan tekanan hidup yang makin berat, sekaligus menjadikan mereka sebagai ‘penonton’ gaya hidup super mewah segelintir orang yang ada disekeliling mereka.

Kapitalisme juga meminggirkan peran agama. Agama hanya dipandang sebagai urusan individu, penguatan kemampuan seseorang untuk menanggung beban hidup diserahkan kepada orang itu sendiri. Efek lainnya orang makin jauh dari agama, kehilangan orientasi hidup, hidup hanya mengejar harta, mengejar kesenangan duniawi,  dan hanya mementingkan diri sendiri sehingga ikatan antarindividu makin rapuh, bahkan ikatan keluarga makin lemah. Hal ini menjadikan beban hidup yang sudah berat akan makin terasa berat dirasakan oleh rakyat secara individual.

Hal ini diperparah dengan penerapan sistem dan kebijakan negara yang justru makin melemahkan kemampuan individu dalam menanggung beban. Beban hidup makin berat dirasakan individu akibat kebijakan negara menaikkan harga BBM, gas, listrik, dsb. Di sisi lain, penguatan kemampuan menanggung beban dengan bantuan dari keluarga dan sesama masyarakat juga makin tipis.

Dengan demikian naiknya angka bunuh diri semakin adalah akibat logis dari penerapan kapitalisme. Inilah yang telah dan tengah terjadi di negeri ini, juga di negeri kapitalis yang lainnya.

Tidak ada cara lain untuk menekan bahkan menghilangkan angka bunuh diri selain dengan mengganti sistem kapitalisme yang diterapkan saat ini dengan sistem dan aturan yang telah diturunkan oleh Allah swt-Dzat yang paling tahu hakikat manusia. Sekali lagi, solusinya adalah mengganti sistem kapitalisme, bukan sekedar mengganti orang.

Syariah Islam mengharuskan tiap individu terus meningkatkan keimanan dan memupuk ketakwaan diri dan keluarganya. Negara wajib untuk terus membina keimanan dan meningkatkan ketakwaan rakyatnya. Dengan keimanan dan ketakwaan yang tinggi, rakyat tidak mudah putus asa bahkan jauh dari sikap putus asa.

Islam menanamkan bahwa berbagai musibah yang datang bagi orang yang beriman merupakan ujian sehingga bisa meningkatkan derajatnya di dunia dan di sisi Allah. Islam juga mengajarkan, jika seorang Mukmin bersyukur saat mendapat nikmat maka akan ditambah nikmatnya, dan jika ia bersabar saat ditimpa musibah maka itu bisa menggugurkan dosanya sehingga menjadi kebaikan bagi dirinya.

Islam juga mengajarkan bahwa kebahagiaan adalah saat keridhaan Allah SWT bisa diraih. Dengan itu seseorang tidak menjadi pemburu dunia sehingga tekanan materi dan nafsu duniawi akan bisa dikendalikan.

Islam juga menegaskan bahwa bunuh diri merupakan dosa besar. Allah SWT berfirman:

وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

Janganlah kalian bunuh diri. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepada kalian (TQS an-Nisa’ [4]: 29).

Rasul saw. juga bersabda:

«وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِشَىْءٍ عَذَّبَهُ اللَّهُ بِهِ فِى نَارِ جَهَنَّمَ »

Siapa saja yang bunuh diri dengan sesuatu, niscaya Allah menyiksa dia dengan sesuatu itu di Neraka Jahanam (HR al-Bukhari, Muslim, an-Nasai dan Ahmad).

Islam juga mewajibkan sesama anggota masyarakat untuk saling peduli, saling membantu dan meringankan beban sesama. Rasul saw. memberitahu, siapa saja yang meringankan beban seorang Muslim di dunia, niscaya Allah SWT meringankan bebannya di akhirat. Islam pun mewajibkan tanggung jawab kolektif masyarakat untuk menghilangkan kelaparan di tengah mereka. Rasul saw. bersabda:

وَأَيُّمَا أَهْلُ عَرْصَةٍ أَصْبَحَ فِيهِمْ امْرُؤٌ جَائِعٌ فَقَدْ بَرِئَتْ مِنْهُمْ ذِمَّةُ اللَّهِ تَعَالَى

Penduduk negeri manapun yang berada di pagi hari, sementara di tengah mereka ada orang yang kelaparan, maka jaminan Allah telah lepas dari mereka (HR Ahmad, al-Hakim dan Abu Ya’la).

Islam pun telah menyediakan mekanisme yang secara pasti bisa meringankan beban hidup di tengah masyarakat. Di antaranya melalui kewajiban zakat dan pendistribusiannya serta anjuran untuk memperbanyak infak dan sedekah.

Sistem ekonomi Islam akan bisa mendistribusikan kekayaan secara adil dan merata kepada seluruh rakyat. Jaminan pemenuhan kebutuhan pokok tiap individu dan kebutuhan dasar rakyat menjadi politik ekonomi yang wajib dijamin pelaksanaannya oleh negara melalui penerapan serangkaian hukum-hukum sistem ekonomi Islam.

Dengan semua itu, angka bunuh diri akan bisa ditekan seminimal mungkin, bahkan bisa dihilangkan. Hal itu hanya bisa terwujud dengan mengakhiri penerapan sistem kapitalisme saat ini dan selanjutnya diganti dengan penerapan syariah Islam secara menyeluruh. ‘Allaahu A’lam. [M. Taufik N.T] (disarikan dari buletin dakwah al-Islam)


[1] Tempo.co, 27 Jan 2015

Baca Juga:

Iklan

Posted on 16 April 2015, in Khutbah Jum'at. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s