Khutbah Jum’at – Perang dan Persaudaraan Muslim

Persaudaraan (ukhuwah) dengan dasar keimanan bukanlah persahabatan biasa, namun seperti persaudaraan karena nasab/keturunan, bahkan lebih dari itu. Allah berfirman:

إِنَّمَا الْمًؤْمِنُوْنَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوْا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوْا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara. Karena itu, damaikanlah kedua saudara kalian, dan bertakwalah kalian kepada Allah supaya kalian mendapatkan rahmat. (QS al-Hujurat [49]: 10).

Dalam ayat ini Allah menggunakan kata “ikhwah” yang menurut Abu Hayyan dalam Tafsir Bahrul Muhith, kata “ikhwah” umumnya dipakai untuk menunjuk saudara senasab. Dengan memakai kata ikhwah, ayat ini hendak menyatakan bahwa ukhuwah kaum muslim itu lebih daripada persahabatan atau perkawanan biasa.

Hanya saja, walaupun saudara senasab atau lebih dekat dari itu, tidak menutup kemungkinan terjadinya perbedaan pendapat diantara mereka, perselisihan bahkan peperangan. Ketika ini terjadi, Allahpun memerintahkan untuk mendamaikan mereka, dengan menyatakan:

فَأَصْلِحُوْا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ

“Karena itu, damaikanlah kedua saudara kalian

Jika perselisihan itu meluas dan melibatkan kelompok kaum muslimin, Allah pun tetap meminta mendamaikan mereka, kalau ada pihak yang aniaya, maka diminta memerangi mereka dengan perang untuk ‘memberi pelajaran’, bukan untuk membantai. Allah pun masih menyebut kedua belah pihak sebagai kaum mukminin.

وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِيءَ إِلَى أَمْرِ اللَّهِ فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. (QS al-Hujurat [49]: 9).

Salah satu celah yang senantiasa digunakan musuh Islam untuk menghancurkan Islam adalah dengan mengeksploitir perbedaan pendapat dalam Islam untuk mengoyak ukhuwah, yang dengan begitu umat ini akan lemah dan melalaikan persoalan utama yang mereka hadapi, selanjutnya dengan mudah mereka dijajah.

Ibnu Katsir, al-Bidâyah wa al-Nihâyah, 8/127 menceritakan bahwa ketika terjadi pertentangan antara sahabat Ali r.a dan Muawiyah r.a yang mengakibatkan terjadinya perang, kejadian ini menjadikan terhentinya futuhât (perluasan wilayah kaum muslimin). Hal ini menjadikan kaisar Romawi memandang kekuatan Islam telah melemah, dia segera memobilisir pasukan yang besar dan bergerak menuju ke wilayah kaum muslimin. Ketika Muawiyah mengetahuinya, ia segera mengirimkan pesan kepada kaisar Romawi:

وَاللَّهِ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهِ وَتَرْجِعْ إِلَى بِلَادِكَ يَا لَعِينُ، لَأَصْطَلِحَنَّ أَنَا وَابْنُ عَمِّي عَلَيْكَ، وَلَأُخْرِجَنَّكَ مِنْ جَمِيعِ بِلَادِكَ، وَلَأُضَيِّقَنَّ عَلَيْكَ الْأَرْضَ بِمَا رَحُبَتْ.

Wahai orang yang terlaknat! Demi Allah, jika engkau tidak berhenti dan segera kembali ke negeri kalian, aku sungguh akan berdamai dan bersatu dengan sepupuku (Ali r.a) untuk memerangimu dan mengusirmu dari seluruh negerimu, serta mempersempit bumi bagimu.

Ketika itu kaisar Romawi menjadi gentar hatinya dan menarik pasukannya, lalu mengirimkan utusan untuk meminta gencatan senjata.

Inilah reaksi sahabat kala itu yang layak kita jadikan rujukan. Terjadinya penjahahan di negeri ini tidak lepas dari sikap yang keliru, sikap “musuhnya musuhku adalah kawanku” memudahkan penjajah menguasai negeri ini, sultan Haji bersekutu dengan Belanda untuk menentang Sultan Ageng Tirtayasa, orang tuanya sendiri. Sebagian muslim juga ‘berkoalisi’ dengan penjajah Belanda, menganggap mereka ‘ulil amri yang wajib dita’ati, serta mendiskreditkan umat Islam yang ingin memerdekakan negeri ini.

Berbagai hal bisa dilakukan untuk membuat umat Islam ‘berhadap-hadapan’, salah satu contohnya adalah strategi yang diusulkan Cheryl Benard dari Rand Corporation dalam Civil Democratic Islam, Partners, Resources And Strategies (2003). Dalam tulisannya itu, untuk menghadapi Islam diusulkan upaya untuk memecah belah kelompok Islam, sebagian kelompok akan disupport dan dibantu, sebagian ‘diarahkan’, sebagian diopinikan negatif dan sebagian lainnya akan dijadikan musuh bersama.

Semoga Allah memudahkan menyatukan hati-hati kita dan umat Islam dan memuliakan kita dan kaum muslimin di dunia dan akhirat. [M.Taufik N.T]

Baca Juga:

Posted on 9 April 2015, in Khutbah Jum'at. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s