Khutbah Jum’at – Milik Allah

Abu ‘Umâmah meriwayatkan bahwa suatu ketika tali sandal Rasulullah putus, maka Rasulullah mengucapkan: innâ lillâhi wainnâ ilayhi râji’ûn (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali), maka para sahabat bertanya: Apakah (putusnya tali sandal) merupakan musibah wahai Rasulullah?, beliau menjawab: Apa saja yang menimpa mukmin, yang tidak disenangi, adalah musibah. (HR. At Thabrâny, dalam al Kabir)

Riwayat tersebut memberikan pelajaran pada kita, bahwa hal sekecil apapun hendaknya menyadarkan kita, bahwa kita adalah milik Allah, dan kepada-Nya akan dikembalikan.

Menurut Imam Al Qurthuby (w. 671H), makna perkataan innâ lillâhi adalah tawhîd[un] wa iqrârun bil ‘ubudiyyati wal mulk, pengesaan dan pengakuan akan penghambaan (kepada Allah) dan kekuasaan Allah. Sedangkan ucapan maknanya adalah: “pengakuan akan terjadinya kebinasaan atas diri kita, dan adanya kebangkitan dari kubur kita, dan yaqin bahwa kembalinya segala urusan adalah kepada-Nya, sebagaimana dirinya adalah milik-Nya (Tafsir al Qurthuby, 2/175)

Orang yang sadar bahwa dirinya adalah milik Allah, sadar bahwa dirinya akan binasa, sadar bahwa dia akan dikembalikan kepada Allah, sadar bahwa kembalinya segala urusan adalah kepada-Nya, sadar bahwa dia kelak akan dimintai pertanggungjawaban, akan diadili apakah perbuatannya melanggar syari’at-Nya ataukah tidak, tentu akan berupaya sekuat tenaga untuk mempersiapkan semuanya dengan cara menjalankan semua ketentuan dari pemilik dia, akan mengisi hidupnya untuk berjuang agar dirinya bisa hidup dalam naungan syari’ah-Nya.

Orang yang yakin bahwa kembalinya segala urusan adalah kepada-Nya, dia tidak akan banyak mencari alasan untuk mengabaikan apalagi mengingkari syari’ah-Nya, tidak akan mengatakan “syari’ah Islam tidak bisa diterapkan di sini, ini kan Indonesia, bukan negara Islam” karena dia yakin bahwa sebagaimana dirinya, Indonesia inipun milik Allah swt, begitu pula bumi, langit dan segala isinya, tidak ada tempat lagi untuk menolak aturan-aturan-Nya. Allah berfirman:

Segala puji bagi Allah yang memiliki apa yang di langit dan apa yang di bumi dan bagi-Nya (pula) segala puji di akhirat. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.(QS. Saba [34]:1)

Kita semua akan kembali kepada Allah. Kita akan mempertanggungjawabkan semua amal perbuatan kita di hadapan pengadilan Allah. Saat itu, mulut kita dikunci, tangan dan kaki kita yang akan berbicara dan memberikan kesaksian di hadapan Allah.

Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan. (QS. Yâsîn: 65)

Itulah pengadilan yang paling adil. Pada saat itu hanya hukum Allah yang akan dijadikan timbangan. Syari’ah-Nya lah yang dijadikan patokan apakah kita termasuk golongan yang selamat ataukah golongan yang merugi. Seorang bupati, walikota, gurbernur tidak diadali berdasarkan Peraturan Daerah. Seorang presiden tidak diadili dengan UUD atau UU. Seorang hakim dan Jaksa tidak diadili dengan KUHP. Bahkan anggota dewan yang biasa membuat UU dan beragam Perda saat itu tidak dihisab dengan aturan yang ia buat sendiri. Pantaskah mengaku beriman, berulangkali mengucapkan innâ lillâhi wainnâ ilayhi râji’ûn namun menolak hukum Allah swt?

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? Mereka hendak berhakim kepada thaghut (orang yang menetapkan hukum menurut hawa nafsu, bukan dengan wahyu), padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya (QS. An Nisa: 60) [M. Taufik N.T]

download selengkapnya di <<sini>>

Baca Juga:

Posted on 19 Februari 2015, in Khutbah Jum'at. Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. Alhamdulillah..makasih Ustd…

    Suka

  2. Assalamu’alaikum…
    izin download dan saya pake pas khutbah ya ustadz..
    agar menjadi wasilah menyadarkan ummat bahwa hukum dari Allah lah semata yg sangat layak diterapkan..

    walaupun tak bertatap dan berjabat tngan,,, Semoga karena satu visi, tujuan dan cita-cata yang sama, menerapkah syariah total di bumi Allah” One Umaah In Khilafah ‘ala minhaj Nubuwwah. kita bisa di himpun di syurga-Nya Allah kelak.. Insya Allah. Amien YRA.
    ..
    Semoga Khutbah yg saya sampaikan melalui wasilah tulisan ini, bisa menjadi juga sedekah jariyah bagi penulisnya, dan penguploadnya..

    Jazakallah Khairan Jaza’

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s