Kesaksian Wanita

Allah Swt berfirman:

وَاسْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِنْ رِجَالِكُمْ فَإِنْ لَمْ يَكُونَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ مِمَّنْ تَرْضَوْنَ مِنَ الشُّهَدَاءِ أَنْ تَضِلَّ إِحْدَاهُمَا أَنْ تَضِلَّ إِحْدَاهُمَا فَتُذَكِّرَ إِحْدَاهُمَا اْلأُخْرَى

‘Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki diantaramu. Jika tidak ada dua orang lelaki maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridlai supaya jika seorang lupa maka seorang lagi mengingatkannya’. (TQS. al-Baqarah [2]: 282)

Dari Abu Hurairah dari Nabi saw, beliau bersabda:

يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ وَاَكْثِرْنَ اْلاِسْتِغْفَارَ فَاِنِّي رَأَيْتُكُنَّ اَكْثَرَ اَهْلِ النَّارِ فَقَالَتِ امْرَأَةٌ مِنْهُنَّ جَزَلَةٌ وَماَلَنَا يَا رَسُوْلَ اللهِ اَكْثَرُ اَهْلِ النَّارِ؟ قَالَ: تُكْثِرْنَ اللِّعَنَ، وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ، مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصاَتِ عَقْلٍ وَدِيْنٍ اَغْلَبُ لِذِيْ لُبٍّ مِنْكُنَّ قَالَتْ يَا رَسُوْلَ اللهِ مَا نُقْصَانُ الْعَقْلِ وَالدِّيْنِ؟ قاَلَ: اَمَّا نُقْصاَنُ عَقْلِهَا فَشَهَادَةُ امْرَأَتَيْنِ تَعْدِلُ شَهَادَةَ رَجُلٍ فَهَذَا نُقْصَانُ الْعَقْلِ، وَتَمْكُثُ اللَّيَالِي لاَ تُصَلِّي، وَتَفْطُرُ فِيْ رَمَضَانَ، فَهَذَا نُقْصَانُ الدِّيْنِ

‘Wahai para wanita, bershadaqahlah kalian, dan perbanyaklah memohon ampun kepada Allah. Sesungguhnya aku melihat bahwa kebanyakan penghuni Neraka adalah kaum wanita’. Kemudian ada salah seorang wanita bertanya, ‘Wahai Rasulullah, mengapa sebagian besar penghuni Neraka adalah kami?’ Rasulullah saw menjawab: ‘Kalian sering mencela  dan ingkar pada suami. Aku tidak melihat kekurangan akal dan agama lebih besar atas orang yang memiliki akal dari pada kalian’. Wanita itu bertanya lagi: ‘Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan kurang akal dan agama?’ Beliau saw menjawab: ‘Kurang akal adalah (karena) kesaksian dua orang wanita sebanding dengan kesaksian seorang laki-laki. Ini (yang dimaksud) dengan kurangnya akal. Dan selama beberapa malam kalian tidak shalat serta berbuka di bulan Ramadhan. (Maka) inilah (yang dimaksud dengan) kurangnya agama’.

Dari Abdullah bin Umar dari Rasulullah saw, beliau berkata:

فَشَهَادَةُ امْرَأَتَيْنِ تَعْدِلُ شَهَادَةَ رَجُلٍ

‘Kesaksian dua orang wanita sebanding dengan kesaksian seorang laki-laki’.

Dari Abu Sa’id al-Khudri bahwa Rasulullah saw bersabda dalam haditsnya:

أَلَيْسَ شَهَادَةُ الْمَرْأَةِ نِصْفَ شَهاَدَةِ الرَّجُلِ؟ قُلْناَ بَلَى يَا رَسُوْلَ اللهِ

Bukankah kesaksian seorang wanita itu separuh kesaksian laki-laki?’ Kami menjawab: ‘Benar ya Rasulullah’.

Nash-nash dari Kitab dan Sunnah ini merupakan dalil atas kesaksian wanita. Yaitu bahwa kesaksian wanita separuh dari kesaksian laki-laki. Kesaksian dua orang wanita sebanding dengan kesaksian seorang laki-laki. Semua nash –selain al-Quran- merupakan dalil yang bersifat umum. Begitu pula halnya dengan kesaksian wanita, bersifat umum untuk seluruh kasus dakwaan. Jadi, sama saja apakah dua orang wanita bersama seorang laki-laki atau para wanita saja. Sebab, perkataan Rasulullah saw, ‘Kesaksian dua orang wanita setara dengan kesaksian seorang laki-laki. Bukankah kesaksian seorang wanita separuh dari kesaksian laki-laki?’, bersifat umum. Sebab, beliau saw mengungkapkannya dengan sighat umum. Lafadz al-mar’ah dan ar-rijal dalam sabdanya: ‘Bukankah kesaksian seorang wanita separuh dari kesaksian laki-laki’, termasuk lafadz umum. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa dua lafadz tersebut merupakan isim jenis dengan al. Padahal isim jenis dengan alif lam, termasuk sighat umum. Oleh karena itu kesaksian wanita juga berlaku umum untuk seluruh kasus dakwaan. Adapun firman Allah Swt:

فَإِنْ لَمْ يَكُونَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ

Jika tidak ada dua orang lelaki maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan’. (TQS. al-Baqarah [2]: 282)

tidak berarti tidak boleh, kecuali seorang laki-laki dan dua orang wanita. Akan tetapi hanya bermakna bahwa dua orang saksi itu adalah dua orang laki-laki. Jika tidak ada (dua orang laki-laki) maka saksinya bisa seorang laki-laki dan dua orang wanita. Kemudian hadits menjelaskan al-Quran, dan menjadikan kesaksian seorang wanita separuh dari kesaksian laki-laki. Otomatis hadits tersebut menafsirkan firmanNya:

فَرَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ

‘Maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan’. (TQS. al-Baqarah [2]: 282)

Berdasarkan hal ini kesaksian dua orang wanita bisa menggantikan kesaksian seorang laki-laki, berlaku pula dalam kasus pelunasan harta, sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh ayat tersebut.

Dengan demikian, kesaksian wanita bisa diterima dalam seluruh kasus dakwaan. Baik itu dakwaan dalam kasus muamalah ataupun ‘uqubat. Kesaksian wanita dalam kasus hudud dan jinayat juga diperbolehkan, seperti dalam kasus akad dan pengelolaan. Ini berdasarkan keumuman hadits-hadits. Tidak ada satu dalilpun yang mengkhususkannya hanya berlaku dalam kasus selain ‘uqubat.

Adapun apa yang diriwayatkan dari Syuraih ra bahwa beliau berkata: ‘Kesaksian wanita dalam (perkara) hudud tidak diperbolehkan’. Maka riwayat ini adalah perkataan dari Syuraih, bukan hadits. Perkataan Syuraih bukanlah dalil syara, melainkan hanya pendapat salah seorang mujtahid. Sama seperti pendapat Abu Hanifah. Jadi, riwayat semacam ini tidak boleh dijadikan dalil. Selain itu, mereka tidak memiliki satu dalil pun yang berasal dari nash-nash syara, baik dari Kitab maupun Sunnah. Sedangkan riwayat dari az-Zuhri bahwa ia berkata: ’Sunnah dari Rasulullah saw dan dua orang khalifah setelah beliau, telah menetapkan bahwa kesaksian wanita tidak diperbolehkan dalam perkara hudud’. Dalam riwayat lain disebutkan, ‘Kesaksian wanita dalam kasus hudud, nikah dan talak tidak diperbolehkan’. Maka hadits-hadits ini adalah hadits munqathi’ melalui jalan Ismail bin Abbas. Ismail bin Abbas adalah dhaif, sehingga tidak sah digunakan sebagai dalil. Perkataan mereka, ‘Sunnah telah menetapkan’, tidak berarti bahwa sunnah disitu adalah Sunnah Rasulullah saw. Karena kadang-kadang bermakna pula sunnah Khulafa ar-Rasyidin. Kadangkala yang dimaksud sunnah disitu adalah ath-thariqah (jalan). Dari ‘Irbadl bahwa Rasulullah saw bersabda:

عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْهَادِيْنِ عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

‘Peganglah kalian Sunnahku dan sunnah Khulafa ar-Rasyidin yang memperoleh petunjuk. Gigitlah keduanya dengan gigi geraham’.

Perilaku Khulafa ar-Rasyidin dinamakan juga sunnah. Hal ini menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan sunnah disini adalah jalan (ath-thariqah). Dalam hadits Hudlain bin al-Mundzir dari Ali yang menceritakan bahwa Ali pernah menjilid Walid bin Uqbah, ia berkata, ‘Nabi saw menjilid 40 kali, Abubakar 40 kali, dan Umar 80 kali, dan semuanya adalah sunnah’. Perilaku Abubakar dan Umar dinamakan dengan sunnah. Perbuatan Rasulullah saw juga dinamakan Sunnah. Hal ini menunjukkan bahwa sunnah yang dimaksud (dalam perkataan az-Zuhri) adalah ath-thariqah (jalan). Disamping itu telah diriwayatkan dari Ali sendiri bahwasanya dia berkata: ‘Tidaklah aku menjatuhkan had pada seseorang, kemudian orang itu mati, maka aku sendiri tidak memperoleh apapun tentang dirinya, kecuali peminum khamar. Seandainya ia mati, maka aku akan membayar diyatnya. Demikian itu karena Rasulullah saw tidak mensunnahkannya’. Dalam hadits itu ia berkata, ‘tidak mensunnahkannya’. Dalam hadits pertama ia berkata, ‘dan semuanya adalah sunnah’. Dua hadits shahih ini telah menunjukkan bahwa ia tidak menganggap sunnah disini bermakna Sunnah Rasul, melainkan ath-thariqah (jalan). Kata sunnah, jika diucapkan tanpa disertai indikasi (qarinah), maka bermakna ath-thariqah. Jadi, kata, ‘sunnah telah menetapkan’, tidak menunjukkan bahwa yang diucapkan itu adalah hadits, kecuali jika terdapat qarinah yang menunjukkannya. Sedangkan, apa yang diriwayatkan dari az-Zuhri, ‘Sunnah dari Rasulullah saw dan sunnah dua orang khalifah setelah beliau telah menetapkan bahwa kesaksian wanita dalam (perkara) hudud, perkawinan dan talak tidak diperbolehkan’, tidak menunjukkan bahwa riwayat ini adalah hadits. Karena, tidak ada qarinah yang menunjukkan hal itu. Dari sisi ini pula, maka beristidlal dengan atsar diatas telah tertolak. Oleh karena itu tidak ada satu dalil pun yang menunjukkan bahwa kesaksian wanita tidak diperbolehkan dalam perkara hudud. Kesaksian wanita dalam hudud dan jinayat tetap diperbolehkan, berdasarkan keumuman dalil.Tambahan lagi, tidak ada ketetapan dari dalil-dalil shahih yang mengecualikan (bolehnya kesaksian wanita) dalam perkara hudud dan jinayat.

Nash-nash telah menunjukkan diterimanya kesaksian wanita dalam perkara hudud dan jinayat. Begitu pula halnya dalam seluruh kasus dakwaan, nash-nash juga telah menunjukkan bolehnya kesaksian wanita saja, tanpa keterlibatan laki-laki, untuk seluruh perkara. Sebab, perkataan Rasul, ‘Bukankah kesaksian seorang wanita separuh dari kesaksian laki-laki?’, bersifat umum. Yaitu mencakup wanita dan laki-laki. Sementara sabdanya, ‘Kesaksian dua orang wanita setara dengan kesaksian seorang laki-laki’, bersifat mutlak. Yaitu mencakup seluruh dakwaan. Termasuk juga jika dalam kesaksian tersebut wanita dan laki-laki, ataupun wanita saja. Tidak ada satu dalil pun yang melarang kesaksian wanita saja. Dengan demikian kesaksian dari kalangan wanita saja diperbolehkan dalam seluruh (kasus) dakwaan. Allaahu A’lam. [M. Taufik N.T]

Sumber: Kitab Ahkaamul Bayyinaat, karya Syaikh Ahmad Ad Daa’uur.

Baca Juga:

Posted on 8 Februari 2015, in Pidana. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s