Kesaksian Wanita dalam Perkara yang Tidak Disaksikan Kecuali oleh Wanita

Knp dlm komunitas pr syara mencukupkan hanya 1 org saksi pr, sdgkn dlm komunitas pria/umum mengharuskan 2 org saksi lk.

===

Ada pengecualian dalam nishab (banyaknya) saksi secara umum, yakni dua orang saksi; pengecualian ini ada dalam hal kesaksian perzinaan (harus 4 orang), rukyatul hilal (bisa 1 orang), maupun dalam perkara-perkara yang tidak disaksikan kecuali oleh wanita (bisa 1 orang). Mengapa dikecualikan? tidak lain karena memang nash-nash syara’ mengecualikannya.

Diriwayatkan bahwa az-Zuhri berkata: ‘Sunnah telah menetapkan bolehnya kesaksian seorang wanita dalam perkara-perkara yang hanya bisa disaksikan oleh wanita’. Meskipun dalam riwayat ini terdapat ungkapan ‘Sunnah telah menetapkan’, namun hal ini tidak menunjukkan bahwa riwayat ini adalah hadits. Sebab, riwayat itu bisa jadi merupakan Sunnah atau thariqah (jalan) yang ditempuh oleh mereka (yaitu tabi’in). Akan tetapi jika riwayat ini diindikasikan dengan hadits shahih (lainnya), maka secara otomatis riwayat ini diakui keabsahannya. Riwayat tersebut telah diindikasikan dengan hadits shahih. Dari Uqbah bin Abi al-Harits, telah berkata Ibnu Malikah, aku telah mendengar dari Uqbah bin Harits, akan tetapi terhadap haditsnya ‘Abid aku lebih hafal, ia (Uqbah bin Harits) berkata:

« تَزَوَّجْتُ امْرَأَةً فَجَاءَتِ امْرَأَةٌ سَوْدَاءُ، فَقَالَتْ: إِنِّي قَدْ أَرْضَعْتُكُمَا فَأَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقُلْتُ: إِنِّي قَدْ تَزَوَّجْتُ فُلَانَةَ بِنْتَ فُلَانٍ، فَجَاءَتِ امْرَأَةٌ سَوْدَاءُ، فَقَالَتْ: إِنِّي قَدْ أَرْضَعْتُكُمَا، وَهِيَ كَاذِبَةٌ فَأَعْرَضَ عَنِّي فَأَتَيْتُهُ مِنْ قِبَلِ وَجْهِهِ، فَقُلْتُ: إِنَّهَا كَاذِبَةٌ، فَقَالَ: كَيْفَ بِهَا وَقَدْ زَعَمَتْ أَنَّهَا قَدْ أَرْضَعَتْكُمَا دَعْهَا عَنْكَ

“Saya menikahi seorang wanita, kemudian datang kepada kami seorang wanita hitam. Kemudian berkata; saya pernah menyusui kalian berdua. Kemudian saya datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengatakan; saya telah menikahi Fulanah binti Fulan, kemudian datang kepadaku seorang wanita hitam kemudian berkata; saya pernah menyusui kalian berdua, dan dia (wanita hitam tsb) pendusta, maka beliau saw berpaling dariku, lalu saya mendatangi beliau dari depan dan saya katakan; ia (wanita hitam tsb) pendusta. Beliau saw bersabda: “Bagaimana dengannya? Sedang ia telah mengaku bahwa dia pernah menyusui kalian berdua? Tinggalkan wanita tersebut.” (HR. an Nasa-i, 5/442)

Dalam hadits tadi, Rasulullah saw memerintahkan laki-laki tersebut untuk menceraikan isterinya, hanya didasarkan pada kesaksian seorang wanita, bahwa dirinya telah menyusui keduanya. Rasulullah saw berkata: ‘Ceraikanlah wanita itu’. Dalam riwayat lain disebutkan Rasulullah saw melarangnya untuk mengawini wanita itu. 

Apabila riwayat-riwayat ini diindikasikan dengan riwayat az Zuhri, ‘Sunnah telah menetapkan’, sebagaimana yang telah disinggung sebelumnya, maka jelas bolehnya kesaksian seorang wanita dalam perkara-perkara yang tidak bisa disaksikan kecuali oleh seorang wanita saja. Bolehnya kesaksian seorang wanita telah ditetapkan dalam kasus persusuan. Adapun ‘illatnya adalah keberadaan persusuan merupakan bagian dari hal-hal yang tidak bisa disaksikan, kecuali oleh seorang wanita. ‘Illat ini diistinbatkan dari topik tentang kesaksian itu sendiri. Topik kesaksian itu adalah tentang persusuan. Tentang hadits ‘Sunnah telah menetapkan bolehnya kesaksian seorang wanita dalam perkara yang tidak disaksikan kecuali oleh seorang wanita’ maka dari riwayat ini bisa dipahami bolehnya kesaksian seorang wanita dalam kasus persusuan. Sebab, persusuan termasuk perkara yang tidak bisa disaksikan kecuali oleh seorang wanita. Hal ini diperkuat oleh hadits lain, yakni haditsnya Mujahid, Sa’id bin Musayyab, Sa’id bin Jabir, ‘Atha bin Abi Rubah, dan Thawus ra, mereka berkata, Rasulullah saw bersabda:

شَهَادَةُ النِّسَاءِ جَائِزَةٌ فِيْمَا لاَ يَسْتَطِيْعُ الرِّجَالُ النَّظَرَ اِلَيْهِ

‘Kesaksian seorang wanita diperbolehkan dalam kasus-kasus yang laki-laki tidak dapat menyaksikannya’.

Hal itu juga diperkuat oleh riwayat yang dikeluarkan dari Hudzaifah, bahwa Rasulullah saw membolehkan kesaksian seorang wanita dalam kasus kelahiran. Beliau bersabda:

شَهَادَةُ النِّسَاءِ جَائِزَةٌ فِيْمَا لاَ يَطْلَعُ عَلَيْهِ الرِّجَالُ

‘Kesaksian seorang wanita diperbolehkan dalam perkara-perkara yang tidak bisa disaksikan oleh laki-laki’.

Semua ini menunjukkan bahwa hadits-hadits tersebut tidak hanya berlaku pada kasus persusuan dan kelahiran saja, akan tetapi di ‘illati dengan ‘illat kasus-kasus yang tidak dapat disaksikan kecuali oleh seorang wanita. Dengan demikian kesaksian seorang wanita merupakan nishab kesaksian dalam perkara-perkara yang tidak dapat disaksikan kecuali oleh seorang wanita. Allaahu A’lam. [M.Taufik N.T]

Baca Juga:

Posted on 8 Februari 2015, in Pergaulan, Pidana and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s