Khutbah Jum’at – “Kebebasan” Mencaci

Minggu ini media dihebohkan dengan berita serangan bersenjata terhadap kantor majalah Charlie Hebdo di Perancis (7/1/2015). Pasca serangan yang menewaskan 12 orang tersebut, Obama dan Kanselir Jerman (Angela Merkel) menyatakan bahwa penembakan yang terjadi di Charlie Hebdo merupakan serangan terhadap kebebasan berekspresi.

Atas nama kebebasan berekspresi, majalah ini berulang kali melakukan penghinaan terhadap Nabi saw, juga tokoh agama lain, namun hal ini tidak berlaku bagi kaum muslimah di sana, mereka tidak bebas memakai burqa, padahal hal tersebut tidaklah merugikan orang lain.

Yang lebih menyedihkan adalah sikap sebagian umat Islam yang ‘mentolerir’ Nabinya dicaci dengan menyatakan: “biarkan saja mereka menghina, kemuliaan Rasulullah tidak akan berkurang karena hinaan mereka” atau ungkapan-ungkapan semakna, padahal sikap minimal yang wajib bagi seorang muslim adalah membenci penghinaan kepada Rasulullah, bukan membiarkannya, apalagi menyokong hal tersebut untuk dibiarkan saja.

Sungguh syari’at Islam telah menjaga kehormatan manusia, dengan mewajibkan had qadzaf (menuduh orang berzina tanpa bukti syar’i) dengan 80 kali hukuman cambuk. Islam juga melarang mencaci tuhan-tuhan agama lain jika hal tersebut berpotensi menjadikan manusia saling mencaci tuhan. “Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. (QS. Al An’aam :108)

Islam juga melarang menyakiti orang kafir dzimmy. Abu ‘Ubaid (w. 224 H) dalam kitabnya, al amwâl, meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda: “sesungguhnya barang siapa yang masih tetap mengikuti agama Yahudi atau Nasraninya, maka ia tidak boleh diganggu.”

Jika syari’ah Islam menjaga kehormatan manusia, baik dia muslim maupun non muslim, terlebih lagi kehormatan Rasul-Nya. Dalam pandangan Islam, sanksi yang dijatuhkan kepada pencaci Rasulullah saw dan juga Nabi yang lain adalah hukuman mati. Jika ia muslim maka statusnya adalah murtad, perbedaan pendapat yang terjadi hanyalah dalam hal apakah dia diminta taubat ataukah tidak.[1]

Imam al-Khattâbiy as Syâfi’i (w. 388H): “Saya tidak mengetahui ada seorang muslimpun yang berbeda pendapat mengenai wajibnya hukuman mati bagi seorang Muslim yang menghina Rasulullah SAW ” [2]

Adapun jika ia non muslim ahludz dzimmah maka ada perbedaan pendapat, menurut Imam as Syafi’iy, mereka wajib dibunuh, dan dzimmahnya dicabut. Imam Abu Hanifah menyatakan tidak wajib dibunuh (hukumannya diserahkan kepada kepala negara/ta’zir), sedangkan Imam Malik berpendapat, mereka wajib dibunuh, kecuali jika mau masuk Islam.[3]

Pertanyaan penting yang patut diajukan, mengapa penistaan terus mereka lakukan sekalipun selalu menuai protes dan kecaman dari dunia Islam?, bahkan setelah peristiwa penyerangan tersebut, mereka tetap menerbitkan kartun yang menghina Rasulullah? Salah satu penyebabnya adalah karena mereka belum pernah mendapatkan ‘pelajaran’ yang setimpal dengan perbuatannya. Tidak ada lagi negara (khilafah) yang memerankan dirinya sebagai penjaga Islam.

Saat Khilafah memudar sekalipun, Khalifah Abdul Hamid II masih bisa menghentikan rencana pementasan teater yang menghina Rasulullah dan Ummul Mukminin Zainab binti Jahsy, bukan di dalam negeri, melainkan diluar negeri, yakni Perancis dan Inggris. Perancis membatalkan nya setelah diancam, sementara Inggris membantah. Maka sekali lagi Sultan Abdul Hamid memberi ancaman: “Saya akan mengeluarkan perintah kepada umat Islam dengan mengumumkankan bahwa Inggris sedang menyerang dan menghina Rasulullah kami! Saya akan kobarkan Jihad al-Akbar (Jihad yang besar).” Maka Inggris dengan serta merta melupakan keinginannya mengamalkan “kebebasan berpendapat” (freedom of speech) dan pementasan drama itu dibatalkan.[4]

Disinilah pentingnya sebuah negara yang menerapkan dan menjaga Islam. Tidak heran jika Imam Al Ghazali menyatakan: “Agama dan kekuasaan bagaikan saudara kembar… agama adalah asasnya dan kekuasaan adalah penjaganya, apa saja yang tidak memiliki asas maka akan hilang dan apa saja yang tidak memiliki penjaga maka akan hancur”.


Download selengkapnya <<disini>>>
Baca Juga:
  • Khutbah Jum’at – Berkorban Demi Ketaatan Hakiki
  • Khutbah Jum’at – Allahu Akbar
  • Nasib Non Muslim dalam Sistem Khilafah
  • Khutbah Jum’at – Isra’ Mi’raj & Perubahan Kepemimpinan Dunia
  • Khutbah Jum’at – Waktu, Kerugian & Amal Shalih
  • [1] Al Mawsûah Al Fiqhiyyah Al Kuwaytiyyah, 24/136, Maktabah Syâmilah

    [2] Imam As Subki as Syâfi’i (w. 756 H), As Sayful Maslûl ‘Alâ Man Sabba ar Rasûl, hal 121

    [3] ‘Aun al-Ma’bûd, 12/11, Maktabah Syâmilah

    [4] Buletin Khilafah, Edisi 15, 23 Jun 1989, England & Ar-Raya, Jilid 3, Isu 4, April 1994

    Posted on 15 Januari 2015, in Khutbah Jum'at. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s