Khutbah Jum’at– Zalim (Aniaya)

Allah SWT sekali-kali tidak akan menzalimi hamba-Nya, Dia juga mengharamkan kezaliman ada pada makhluk-Nya. Dalam hadits qudsi, Allah berkata:

يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي، وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا، فَلَا تَظَالَمُوا

“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan diri-Ku untuk berbuat zalim, dan perbuatan zalim itu pun Aku haramkan diantara kalian. Oleh karena itu, janganlah kalian saling menzalimi” (HR Muslim).

Dalam kamus Lisânul ‘Arab, zalim diartikan sebagai: wadh’u asy syai’i fi ghairi mawdhi’ih[1] (meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya). ‘Menempatkan’ Allah secara keliru, seperti mempersekutukan-Nya, termasuk kezaliman kepada Allah SWT. Memperlakukan orang lain tidak sesuai dengan aturan Allah SWT, walaupun mereka sama-sama suka, seperti melakukan perselingkuhan, pacaran, mengadakan transaksi ribawi, merupakan kezaliman kepada manusia. Begitu juga melakukan hal-hal yang dilarang Allah yang dapat merusak diri sendiri merupakan kezaliman pada diri sendiri.

Hanya saja, semua bentuk kezaliman itu akan berpulang kepada dirinya sendiri, dia sendiri juga akan menanggung akibat perbuatan zalim tersebut, di dunia maupun di akhirat. Allah nyatakan:

وَمَا ظَلَمُونَا وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

Dan tidaklah mereka menzalimi Kami, akan tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri. (QS. 2 : 57)

Diantara kezaliman yang jarang disadari manusia saat ini adalah ‘meletakkan’ Al Qur’an tidak pada posisinya. Imam Al Hasan Al Basri menyatakan:

أُنْزِلَ الْقُرآنُ لِيَعْمَلَ بِهِ فَاتَّخَذَ النَّاسُ تِلَاوَتَهُ عَمَلًا

Al Qur’an diturunkan untuk diamalkan, maka manusia menjadikan membacanya sebagai amalan (Talbîs Iblîs, hal 101)

yakni banyak manusia merasa cukup puas dengan membacanya, seraya mengabaikan hukum-hukum-Nya, atau menganggap ada hukum yang lebih tinggi kedudukannya dari pada hukum syari’ah, bahkan menganggapnya tidak layak lagi mengatur kehidupan ‘modern’ saat ini.

Adakalanya kezaliman tidak serta-merta merugikan, justru kadang bisa meningkatkan ‘kesejahteraan’ sebagian kalangan tanpa merugikan kalangan lain secara langsung. Dalam surah Al A’râf ayat 163 Allah berfirman:

وَاسْأَلْهُمْ عَنِ الْقَرْيَةِ الَّتِي كَانَتْ حَاضِرَةَ الْبَحْرِ إِذْ يَعْدُونَ فِي السَّبْتِ إِذْ تَأْتِيهِمْ حِيتَانُهُمْ يَوْمَ سَبْتِهِمْ شُرَّعًا وَيَوْمَ لَا يَسْبِتُونَ لَا تَأْتِيهِمْ كَذَلِكَ نَبْلُوهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ

Dan tanyakanlah kepada Bani Israel tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari yang bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik.

Secara kasat mata, mencari ikan tidaklah merugikan, mereka tidaklah merusak lingkungan, mereka justru ‘meningkatkan’ gizi masyarakat, menambah ‘devisa negara’ dan membuka peluang kerja. Hanya saja, melanggar larangan Allah untuk bekerja di hari Sabtu, merupakan kezaliman mereka yang nyata.

Begitu juga dengan kondisi saat ini, ketika Islam telah menetapkan bahwa kekayaan milik umum seperti tambang yang depositnya besar, sumber air dan kekayaan milik umum lainnya haram diberikan kepada swasta, baik swasta lokal maupun asing, maka merupakan kezaliman jika menyerahkan sumber daya alam tersebut kepada swasta apalagi kepada asing. Ketika Rasulullah memberikan tambang garam di Ma’rib kepada Abyad bin Hamal ra, ada seorang laki-laki yang ada di majelis itu berkata, “Tahukan Anda, apa yang telah Anda berikan kepadanya? Sesungguhnya, Anda telah memberikan kepadanya sesuatu yang seperti air mengalir” maka Rasulullah saw mencabut kembali pemberian tambang garam itu dari Abyad bin Hamal. (HR at-Tirmidzi, dengan sanad hasan). Ini menunjukkan bahwa tambang, jika depositnya kecil sebenarnya boleh dimiliki swasta, namun jika depositnya besar, maka wajib dikelola negara untuk kesejahteraan rakyat.

Sungguh kezaliman, cepat atau lambat, pasti akan membawa bencana, tidak ada cara menghindarinya kecuali dengan meninggalkan kezaliman tersebut dengan sekuat tenaga dan memohon ampun atas apa yang kita tidak berdaya menghindarinya. Rasulullah saw menyatakan:

وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَّا جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ

Dan tidaklah pemimpin-pemimpin mereka enggan menjalankan hukum-hukum Allah dan mereka memilih-milih apa yang diturunkan Allah, kecuali Allah akan menjadikan bencana di antara mereka (HR. Ibnu Majah dengan sanad hasan). Allahu A’lam. [M. Taufik N.T]

Download selengkapnya di sini

Baca Juga:

[1] وَضْعُ الشَّيْءِ فِي غَيْرِ مَوْضِعِه

Posted on 28 November 2014, in Khutbah Jum'at. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. syukran utadz…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s