Takhrij Hadits Rukyat Bulan Dzulhijjah (Penentuan ‘Idul Adha)

Berkaitan dengan penentuan ‘idul Adha, Rasulullah mengamanatkan kepada wali (gubernur) Makkah untuk merukyat hilal, jika tidak terlihat, boleh dengan kesaksian dua orang lain yang melihatnya, oleh sebab itu, harusnya Indonesia tidak akan berbeda hari dg Makkah dalam hal ‘idul Adha.

Jika dalil yang digunakan adalah dalil tentang penentuan awal Ramadhan dan Syawwal, itupun mayoritas ulama berpendapat bahwa tidak diperhatikan jauh-dekat dalam penentuan penanggalan, dimanapun hilal terlihat, itu menjadi patokan dalam mengawali penanggalan, inilah pendapat yang mu’tamad dari kalangan Hanafiyyah, Imam Malik (wafat 179 H), Al Laits bin Sa’ad (wafat 175 H), Imam As Syafi’i(wafat 204 H), sebagian kecil kalangan Syafi’yyah seperti Abu Thayyib (wafat 341 H), Imam Ahmad (wafat 241 H), juga pendapat Ibnu Taymiyyah (wafat 728 H) dan Imam Asy Syaukany (wafat 1250 H) dari kalangan ahli tahqiq (baca ini).

Berikut nash yang memerintahkan Wali (Gubernur) Makkah untuk merukyat bulan dzulhijjah:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحِيمِ أَبُو يَحْيَى الْبَزَّازُ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ سُلَيْمَانَ حَدَّثَنَا عَبَّادٌ عَنْ أَبِي مَالِكٍ الْأَشْجَعِيِّ حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ الْحَارِثِ الْجَدَلِيُّ مِنْ جَدِيلَةَ قَيْسٍ

أَنَّ أَمِيرَ مَكَّةَ خَطَبَ ثُمَّ قَالَ عَهِدَ إِلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نَنْسُكَ لِلرُّؤْيَةِ فَإِنْ لَمْ نَرَهُ وَشَهِدَ شَاهِدَا عَدْلٍ نَسَكْنَا بِشَهَادَتِهِمَا فَسَأَلْتُ الْحُسَيْنَ بْنَ الْحَارِثِ مَنْ أَمِيرُ مَكَّةَ قَالَ لَا أَدْرِي ثُمَّ لَقِيَنِي بَعْدُ فَقَالَ هُوَ الْحَارِثُ بْنُ حَاطِبٍ أَخُو مُحَمَّدِ بْنِ حَاطِبٍ ثُمَّ قَالَ الْأَمِيرُ إِنَّ فِيكُمْ مَنْ هُوَ أَعْلَمُ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ مِنِّي وَشَهِدَ هَذَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَوْمَأَ بِيَدِهِ إِلَى رَجُلٍ قَالَ الْحُسَيْنُ فَقُلْتُ لِشَيْخٍ إِلَى جَنْبِي مَنْ هَذَا الَّذِي أَوْمَأَ إِلَيْهِ الْأَمِيرُ قَالَ هَذَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ وَصَدَقَ كَانَ أَعْلَمَ بِاللَّهِ مِنْهُ فَقَالَ بِذَلِكَ أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdurrahim Abu Yahya Al Bazzaz, telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Sulaiman, telah menceritakan kepada kami ‘Abbad, dari Abu Malik Al Asyja’i, telah menceritakan kepada kami Husain bin Al Harits Al Jadali yang berasal dari Jadilah Qais, bahwa Amir Mekkah telah berkhutbah, ia berkata; Rasulullah saw mengamanatkan kepada kami agar melaksanakan ibadah (haji) berdasarkan rukyat. Jika kami tidak berhasil merukyat tetapi ada dua saksi adil (yang berhasil merukyat), maka kami melaksanakan ibadah berdasarkan kesaksian keduanya. Kemudian aku bertanya kepada Al Husain bin Al Harits, siapakah Amir Mekkah tersebut? Ia berkata; saya tidak tahu. Kemudian ia bertemu denganku setelah itu dan berkata; ia adalah Al Harits bin Hathib saudara Muhammad bin Hathib. Kemudian Amir tersebut berkata; sesungguhnya diantara kalian terdapat orang yang lebih mengetahui mengenai Allah dan rasulNya daripada diriku. Dan orang ini telah menyaksikan hal ini dari Rasulullah shallallahu wa’alaihi wa sallam. Amir tersebut menunjuk dengan tangannya kepada seorang laki-laki. Al Husain berkata; aku bertanya kepada orang tua yang ada di sampingku; siapakah orang yang ditunjuk oleh Amir tersebut? Ia berkata; orang ini adalah Abdullah bin Umar, dan Amir tersebut benar. Ia adalah orang yang lebih tahu mengenai Allah daripada dirinya. Ibnu Umar berkata; demikianlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami.

Takhrij Hadits

Hadits ini dikeluarkan oleh Abu Dawud [no 2338], redaksi hadits diatas menurut riwayat Abu Dawud, juga dikelurakan oleh Ibnu Qani’ dalam Mu’jamus Shahabat [1/177], Ad-Daruquthni dalam kitab Sunannya [2/167], Al Baihaqi dalam Sunan As Shugro [no. 1335], Imam Ad-Daruquthni berkata,’Ini isnadnya bersambung [muttashil] dan shahih.’ Lihat Al Baihaqi dalam Ma’rifatus Sunan [6/301}, Maktabah Syamilah.

Para Perowi

1. Al Harits bin Hathib bin Al Harits (Shahabat)

2. Al Husain bin Al Harits

· Kalangan : Tabi’in kalangan pertengahan

· Kuniyah : Abu Al Qasim

· Negeri semasa hidup : Kufah

· Komentar Ulama:

  • Ibnu Hibban : disebutkan dalam ‘ats tsiqaat
  • Ibnu Madini : Ma’ruf
  • Ibnu Hajar al ‘Asqalani : Shaduuq
  • Adz Dzahabi : mentsiqahkannya

3. Sa’ad bin Thariq bin Usyaim

· Kalangan : Tabi’in kalangan biasa

· Kuniyah : Abu Malik

· Negeri semasa hidup : Kufah

· Komentar Ulama:

  • Ibnu Hibban : disebutkan dalam ‘ats tsiqaat
  • An Nasa’i : Laisa bihi ba’s
  • Abu Hatim : shalihul hadits
  • Ahmad bin Hambal : Tsiqah
  • Yahya bin Ma’in : Tsiqah
  • Ibnu Hajar al ‘Asqalani : Tsiqah

4. Abbad bin Al ‘Awwam bin ‘Umar

· Kalangan : Tabi’ut Tabi’in kalangan pertengahan

· Kuniyah : Abu Sahal

· Negeri semasa hidup : Hait

· Wafat : 185H

· Komentar Ulama:

  • Yahya bin Ma’in : Tsiqah
  • An Nasa’i : Tsiqah
  • Al ‘Ajli : Tsiqah
  • Abu Hatim : Tsiqah
  • Abu Daud : Tsiqah
  • Ibnu Kharasy : Shaduuq
  • Ibnu Sa’d : Tsiqah
  • Ibnu Hibban : disebutkan dalam ‘ats tsiqaat
  • Ibnu Hajar al ‘Asqalani : Tsiqah

5. Sa’id bin Sulaiman bin Kinanah

· Kalangan : Tabi’ul Atba’ kalangan tua

· Kuniyah : Abu ‘Utsman

· Negeri semasa hidup : Baghdad

· Wafat : 225 H

· Komentar Ulama:

  • Abu Hatim Ar Rozy : tsiqah ma`mun
  • Muhammad bin Sa’d : Tsiqah
  • Al ‘Ajli : Tsiqah
  • Ibnu Hibban : disebutkan dalam ‘ats tsiqaat

6. Muhammad bin ‘Abdur Rahim bin Abi Zuhair

· Kalangan : Tabi’in (tdk jumpa Shahabat)

· Kuniyah : Abu Yahya

· Negeri semasa hidup : Baghdad

· Wafat : 255 H

· Komentar Ulama:

  • Abu Hatim : Shaduuq
  • Ahmad bin Hambal : Tsiqah
  • An Nasa’i : Tsiqah
  • Abu Bakar Alkhatib : mutqin dhobith alim hafidz
  • Ibnu Hibban : disebutkan dalam ‘ats tsiqaat
  • Ibnu Hajar al ‘Asqalani : tsiqoh hafidz
  • Adz Dzahabi : Hafizh

Penjelasan

Hadits ini berkaitan dengan penentuan ‘idul Adha, dimana Rasulullah mengamanatkan kepada wali (gubernur) Makkah untuk merukyat hilal, jika tidak terlihat, boleh dengan kesaksian dua orang lain yang melihatnya.

Dalam kitab ‘Aunul Ma’bûd Syarh Sunan Abi Dawud dijelaskan:

أَنْ نَنْسُكَ) أَنْ نَعْبُدَ وَالنُّسُكُ الْعِبَادَةُ وَمَعْنَاهُ نَحُجُّ (لِلرُّؤْيَةِ) أَيْ لِرُؤْيَةِ هِلَالِ ذِي الْحِجَّةِ

(an nansuka) yakni agar kami beribadah, dan an nusuk berarti ibadah, dan maknanya (agar) kami berhaji (lir rukyah) yakni karena (berdasarkan) rukyat hilal Dzulhijjah

Syaikh Abdul Muhsin ‘Abbad menyatakan

وقوله: (أن ننسك للرؤية) يعني: رؤية هلال ذي الحجة، يعني: أن ننسك نسك الحج، ونذبح الأضاحي، ونصلي عيد الأضحى

Dan sabdanya: (agar kami beribadah berdasarkan rukyat) yakni: rukyat hilal dzulhijjah, yakni: agar kami melaksanakan manasik haji, menyembelih qurban, dan shalat ‘idul adha

Beliau menjelaskan bahwa Abu Dawud memasukkannya dalam pembahasan bulan Syawwal karena adanya kemiripan pembahasan yakni penentuan ‘id[1]. Allahu A’lam. [M. Taufik N.T]

Baca Juga:

[1] وأورد أبو داود الحديث هنا للتشابه والتماثل بين الشهرين؛ لأن هذا فيه إثبات عيد وهذا فيه إثبات عيد

Posted on 30 September 2014, in Ibadah, Ikhtilaf. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s