Khutbah Jum’at – Allahu Akbar

Setiap hari, tidak kurang dari 60 kali umat Islam bertakbir, mengagungkan Allah dengan mengucapkan Allahu Akbar, Allah Maha Besar. Takbir, bacaan pembuka setiap shalat, juga mengandung makna syukur dan memuji Allah atas nikmat-Nya yang tidak terhitung.

Diantaranya adalah nikmat Ramadhan yang didalamnya diturunkan Al Qur’an. Oleh karena itu setelah berakhirnya Ramadhan Allah memerintahkan kita bertakbir.

وَلِتُكْمِلُواْ الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ اللّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

…Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.(QS. Al Baqarah : 185)

Begitupula dalam hal haji, para jamaah berangkat memenuhi panggilan untuk bertakbir, mengagungkan syi’ar Allah.

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِن يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al Haj:37)

Suatu ketika Imam Malik bin Dinar (w. 171 H) sedang berjalan di kota Bashrah. Lalu beliau melihat seorang lelaki yang sedang mabuk berat, namun sambil mulutnya berulang-ulang menyebut “Allah…Allah”. Mengetahui hal ini, Imam Malik berpikir, betapa tidak pantasnya nama Allah yang mulia itu keluar dari kedua bibir yang kotor, beliaupun membersihkan mulut orang yang mabuk tersebut, dan mendoakannya agar pemabuk tersebut diberi hidayah.

Setelah itu Imam Malik pulang ke rumahnya. Ketika tidur, dalam mimpinya beliau mendengar suara memanggilnya,

يَا إمَامُ، طهَّرْتَ فَمَّهُ مِنْ أجْلِنَا طَهَّرْنَا قَلْبَهُ مِنْ أَجْلِكَ

“Wahai Imam! Engkau telah membersihkan mulut orang itu karena Kami, maka Kami pun telah membersihkan kalbunya karena kamu.”[1]

Takbir yang sebenarnya tidak hanya cukup dimulut saja, tidak pula cukup dimulut dan perbuatan fisik saja, namun harus dibarengi dengan hati, keyakinan dan motivasi untuk membesarkan Allah, bukan membesarkan yang lain. Sebagaimana diriwwayatkan dalam Ihya’ Ulumiddin, 1/262:

إذا كان في آخر الزمان خرج الناس للحج أربعة أصناف: سلاطينهم للنزهة، وأغنياؤهم للتجارة، وفقراؤهم للمسألة، وقراؤهم للسمعة.[2]

Pada akhir zaman orang akan keluar haji dalam empat golongan, pemimpin-pemimpin mereka keluar untuk berwisata (jalan-jalan ), orang-orang kaya mereka keluar untuk berniaga, orang-orang faqir mereka keluar untuk meminta-minta, dan Qurro’ (ahli baca Al Qur’an) mereka untuk ketenaran. (diriwayatkan oleh al Khatib dari Anas dg sanad majhûl, juga diriwayatkan ad Dailami).

Kalau mulut yang menenggak miras saja tidak pantas bertakbir atau menyebut nama Allah, maka sungguh lebih tidak pantas lagi jika mulut terbiasa bertakbir namun dibarengi dengan membuat UU yang memudahkan peredaran miras, mulut terbiasa bertakbir mengagungkan Allah, namun prilakunya justru melecehkan hukum-hukum Allah, menganggapnya kuno dan tidak layak mengatur negeri ini, dan semua itu dilakukan dengan sadar, tidak dalam kondisi hilang akal karena mabuk.

Takbir yang sebenarnya adalah dengan meyakini apa yang ada dalam dzikir yang diajarkan Nabi saw:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, yang Tunggal dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan, dan milik-Nya segala pujian. Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, tidak ada yang dapat menahan dari apa yang Engkau berikan dan dan tidak ada yang dapat memberi dari apa yang Engkau tahan. Dan tidak bermanfaat kekayaan orang yang kaya di hadapan-Mu sedikitpun (HR. al Bukhari)

Takbir yang sebenarnya adalah dengan meyakini bahwa tidak ada hukum yang lebih baik daripada hukum Allah, lalu berupaya merealisasikannya.

أفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللّهِ حُكْماً لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ

Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (QS. Al Maidah : 50).

Semoga Allah memberikan taufik kepada kita untuk mengagungkan-Nya dalamsetiap sendi kehidupan kita.[ M. Taufik NT]

Download selengkapnya di sini

Baca Juga:

  • Khutbah Jum’at – Rekayasa Masa Depan Anak
  • Khutbah Jum’at – Sakit Jiwa
  • Khutbah Jum’at – Bingung (Menyikapi Sistem Hidup Selain Islam)
  • [1] Bustânul Khathîb, bab Ma’a Takbîrillaah.

    [2] حديث إذا كان في آخر الزمان خرج الناس للحج أربعة أصناف سلاطينهم للنزهة وأغنياؤهم للتجارة وفقراؤهم للسؤال وقراؤهم للسمعة أخرجه الخطيب من حديث أنس بإسناد مجهول وليس فيه ذكر السلاطين ورواه أبو عثمان الصابوني في كتاب المائتين فقال تحج أغنياء أمتي للنزهة وأوساطهم للتجارة وفقراؤهم للمسألة وقراؤهم للرياء والسمعة

    Posted on 18 September 2014, in Khutbah Jum'at. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s