Nasib Non Muslim dalam Sistem Khilafah

Sampai detik ini, ‘Khilafah’ ISIS masih menyisakan banyak pertanyaan di masyarakat, diantaranya ketika berbagai media memberitakan bagaimana perlakuan ‘negatif’ ISIS kepada Non Muslim. Sindonews misalnya membuat judul “Warga Kristen Mosul Diusir, Sekjen PBB Kutuk ISIS”, Republika juga memuat berita yang senada. Terlepas dari benar tidaknya berita tersebut, merupakan hal yang penting bagi Muslim maupun Non Muslim untuk mengetahui bagaimana nasib Non Muslim dalam sistem Khilafah, tentunya sesuai dengan ketentuan hukum syari’at itu sendiri.

Hak-hak Non Muslim

Dalam sistem khilafah, Non Muslim yang hidup sebagai warga negara (ahludz dzimmah) dibiarkan memeluk aqidah dan menjalankan ibadahnya masing-masing, begitu juga dalam hal makanan, minuman, pernikahan sesama mereka, dan pakaian, mereka diperlakukan sesuai dengan agama mereka, dalam batas apa yang diperbolehkan hukum-hukum syara’. Mereka sama-sekali tidak boleh diganggu dalam hal-hal tersebut. Dalam surah Al baqarah: 256, Allah berfirman: lâ ikrâha fid dîn (Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam)). Imam Al Qurthuby menyatakan bahwa yang dimaksud “ad dîn” dalam ayat ini adalah I’tiqad (keyakinan).

Al Hafidz Ibnu Hajar dalam At Talkhîsul Habîr juga menyatakan bahwa berkaitan dengan penduduk Yaman, Rasulullah saw menetapkan: ”Barangsiapa yang tetap dalam keyahudiannya dan kenashraniannya, sesungguhnya ia tidak diganggu”. Bahkan penyembah api pun tidak dipaksa masuk Islam atau diusir. Dalam Musnad As Syafi’i, berkaitan dengan Majusi (penyembah api), Rasulullah menyatakan: “Tetapkanlah untuk mereka sebagaimana Ahlul Kitab”. Hanya saja memang Rasulullah membedakan antara Ahlul Kitab dan Majusi dalam hal menikahi wanita mereka dan memakan sembelihan mereka.

Adapun dalam mu’âmalât, ‘uqûbât (sanksi), bayyinât (pembuktian), ketatanegaraan, ekonomi dan masalah sosial kemasyarakatan lainnya, tidak dibedakan lagi antara Muslim dan ahludz dzimmah. Imam al Bukhary meriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah menulis kepada penduduk Najran yang beragama nashrani: “Sesungguhnya barangsiapa yang berjual beli dengan riba maka tidak ada dzimmah baginya”. Beliau saw juga memberlakukan hukum qishash terhadap seorang Yahudi yang membunuh seorang budak untuk merampas anting-anting budak tersebut, juga menerapkan had zina baik kepada Muslim maupun Non Muslim yang berzina.

Pada masa Khalifah Umar bin Khaththab, sejumlah Muslim menyerobot tanah yang dimiliki oleh seorang Yahudi dan mendirikan masjid di atas tanah tersebut. Ini jelas melanggar hak Yahudi tersebut sebagai ahlu dzimmah. Umar kemudian memerintahkan agar masjid tersebut dirubuhkan dan tanah tersebut dikembalikan pada orang Yahudi tersebut.

Kewajiban Non Muslim

Ada dua kewajiban Non Muslim dalam Khilafah; pertama, membayar jizyah, kedua, terikat dengan hukum Islam dengan ketentuan sebagaimana telah diuraikan sebelumnya. Dalam surat At Taubah : 29 dinyatakan: “…Sampai mereka membayar jizyah dan mereka dalam keadaan tunduk”.

Jizyah (pungutan) diambil setiap tahun hanya dari laki-laki dewasa yang tidak gila, tidak diambil dari wanita. Besaran jizyah tidak diatur secara pasti, namun diserahkan pada pandangan Khalifah. Khalifah wajib mempertimbangkan aspek-aspek kesejahteraan dan kemiskinan, sehingga tidak memberatkan kaum dzimmi. Abu Dawud meriwayatkan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda, “Siapapun yang menindas seseorang yang terikat perjanjian, atau membebaninya melebihi kemampuannya dan menyakitinya, atau mengambil apapun yang menjadi haknya tanpa keikhlasan darinya, maka aku akan menuntut orang tersebut pada hari perhitungan.”

Khalifah Umar r.a pernah menetapkan jizyah sebesar 1 s/d 4 dinar per tahun (sekitar Rp.170 ribu s/d Rp.700 ribu perbulan), tergantung tingkat kekayaan orang tersebut, besaran yang jauh lebih ringan daripada sistem pajak yang diberlakukan sekarang, bahkan kewajiban yang lebih ringan dibandingkan kewajiban seorang Muslim mengeluarkan zakat.

Bahkan ketika mereka kesulitan dalam membayar jizyah, atau bahkan kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pokoknya, maka Khilafah wajib menanggung mereka. Imam Abu Yusuf dalam kitab Al Kharaj menceritakan bahwa Khalifah ‘Umar membawa seorang Yahudi tua yang hidup susah kepada petugas Baitul Mâl, lalu beliau katakan: “Lihatlah orang ini dan orang-orang sepertinya! Demi Allah, kita tidak adil jika saat mudanya kita ambil jizyah, lalu kita mengabaikannya ketika ia tua” kemudian beliau menetapkan bagian untuk orang tersebut dan yang semisalnya dari Baitul Mâl.

Oleh sebab itu, tidak perlu ada ketakutan terhadap syari’ah dan khilafah, bahkan seharusnya dirindukan kehadirannya. Hanya saja memang diperlukan pemahaman yang lurus terhadap konsep ini, di sinilah pentingnya dakwah dan sosialisasi dari berbagai pihak. Allahu A’lam.[M. Taufik N.T]

Baca Juga:

Posted on 16 Agustus 2014, in Politik, Syari'ah and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s