Taushiyah Ramadhan: Ridho dengan Ketetapan Allah

Makna “ridha dengan sesuatu” adalah merasa puas dan cukup dengan sesuatu tersebut dan tidak akan mencari yang lain untuk disandingkan dengan sesuatu itu, maka makna hadits tersebut adalah: tidak akan mencari (tuhan) selain Allah Ta’ala, dan tidak akan berjalan pada jalan selain Islam, dan tidak akan berbuat kecuali yang selaras dengan syari’at Nabi Muhammad saw. (Syarh Shahih Muslim, juz 2 hal 2).

==

Imam Al Ghazali, dalam Ihya Ulumiddin, juz 4 hal 350 menceritakan bahwa suatu hari Sa’ad bin Abi Waqqash ra mengunjungi Makkah. Ketika itu (di masa tuanya) penglihatannya sudah tidak berfungsi lagi. Penduduk Makkah yang mengetahui keutamaan Sa’ad, di mana ia memiliki do’a yang mustajab, mereka berbondong-bondong mendatangi Sa’ad untuk minta dido’akan agar hajatnya terkabul. Sa’ad ra dengan sabar melayani mereka. Melihat hal ini, Abdullah bin Sâib, seorang qari’nya penduduk Makkah berkata:

يا عم أنت تدعو للناس فلو دعوتَ لنفسك، فرد الله عليك بصرَك

“Wahai paman, engkau telah banyak mendo’akan orang lain. Mengapa engkau tidak berdo’a untuk dirimu sendiri agar Allah mengembalikan penglihatanmu?.”

Maka Saad tersenyum dan kemudian menjawab,

يا بني قضاء الله سبحانه عندي أحسن من بصري

“Wahai anakku, ketetapan-Allah swt menurutku lebih baik dari pada penglihatanku.”

Ridho dengan ketetapan Allah swt merupakan tanda kekuatan iman seseorang, sekaligus merupakan penyebab seseorang bisa merasakan manisnya keimanan dan mudahnya menjalani kehidupan. Bayangkan orang yang tidak ridho kehilangan penglihatannya, bagaimana ia bisa tenang menjalani kehidupan tanpa bisa melihat apa-apa yang dulu dia bisa lihat dan nikmati.

Diriwayatkan dari Abbas bin Abdul Muththalib r.a, bahwa beliau mendengar Nabi saw bersabda:

ذَاقَ طَعْمَ الْإِيمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللهِ رَبًّا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا

“Telah merasakan nikmatnya iman orang yang ridho dengan Allah sebagai Rabb, dan Islam sebagai agama serta Muhammad sebagai Rasul.”(HR. Muslim)

Imam an Nawawi (w. 676 H) ketika menjelaskan hadits tersebut menyatakan:

مَعْنَى رَضِيتُ بِالشَّيْءِ قَنَعْتُ بِهِ وَاكْتَفَيْتُ بِهِ وَلَمْ أَطْلُبْ مَعَهُ غَيْرَهُ فَمَعْنَى الْحَدِيثِ لَمْ يَطْلُبْ غَيْرَ اللَّهِ تَعَالَى وَلَمْ يَسْعَ فِي غَيْرِ طَرِيقِ الْإِسْلَامِ وَلَمْ يَسْلُكْ إِلَّا مَا يُوَافِقُ شَرِيعَةَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Makna “ridha dengan sesuatu” adalah merasa puas dan cukup dengan sesuatu tersebut dan tidak akan mencari yang lain untuk disandingkan dengan sesuatu itu, maka makna hadits tersebut adalah: tidak akan mencari (tuhan) selain Allah Ta’ala, dan tidak akan berjalan pada jalan selain Islam, dan tidak akan berbuat kecuali yang selaras dengan syari’at Nabi Muhammad saw. (Syarh Shahih Muslim, juz 2 hal 2).

Ridho terhadap ketentuan Allah bukan hanya berarti rela dan sabar terhadap musibah yang menimpa saja, namun juga merasa puas dan cukup dengan ketentuan, aturan dan hukum-hukum-Nya, tanpa mencari atau menyandingkan dengan aturan selain-Nya.

Selain itu ridho terhadap Allah menuntut adanya kebencian terhadap apa yang dimurkai Allah, berupa kekufuran, kefasikan dan kemaksiyatan. Sifat yang mulia ini dimiliki oleh para sahabat Rasulullah, dan karena ketekunan dan semangat mereka dalam menjalankan ibadah dan ketaatan mereka Allah memuji mereka:

وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْأِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ

Tetapi Allah menjadikan kamu sekalian (para sahabat) cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan perbuatan maksiat. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus” (QS al-Hujurât:7).

Sikap inilah yang seharusnya dimiliki oleh setiap muslim, merasa ridho, cukup dan puas dengan aturan Allah swt , tanpa melirik aturan yang lainnya. Umar bin Al Khattab, ketika Persia berhasil dibebaskan oleh panglimanya, Sa’ad bin Abi Waqqash r.a, Sa’ad mendapatkan kitab-kitab orang persia dan lembaran-lembaran “ilmu” mereka yang sangat banyak jumlahnya, beliau menulis surat kepada ‘Umar bin Khaththab meminta izin tentangnya untuk menukilnya (menerjemahkannya) agar bisa dimanfaatkan kaum muslimin. ‘Umar r.a membalas surat tersebut dengan menyatakan:

اِطْرَحُوْهَا فِي الْمَاءِ، فَإِنْ يَكُنْ مَا فِيْهَا هُدَى فَقَدْ هَدَانَا اللهُ بِأَهْدَى مِنْهُ، وَإِنْ يَكُنْ ضَلَالًا فَقَدْ كَفَانَا اللهُ

“Buanglah dia ke air (sungai/laut), jika di dalamnya ada petunjuk, maka sungguh Allah telah menunjuki kita dengan yang lebih baik daripada itu (yakni Islam), dan jika di dalamnya terdapat kesesatan maka sungguh Allah telah mencukupi kita” (Tarikh Ibnu Khaldun, Juz 1 hal 631)

Orang yang ridho dengan Islam sebagai agamanya tentu tidak akan berpaling dari ketentuan Islam namun justru merujuk dan membanggakan orang-orang kuno seperti Plato, Aristoteles, Adam Smith, John Lock, Lenin, atau mengatasnamakan nenek moyang dalam mengatur kehidupannya.

Adapun untuk urusan science, teknik, dan ilmu pengetahuan, umat Islam tidak dibatasi darimana mengambilnya, sebagaimana dalam hal penyerbukan kurma Rasulullah bersabda:

أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ

“kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian” (HR. Muslim). Allahu A’lam.[M. Taufik N.T]

(versi singkatnya dimuat di harian Radarbanjarmasin pada tanggal 24 Juli 2014)

Baca Juga:

Posted on 26 Juli 2014, in Afkar, Ibadah, Syari'ah and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s