Taushiyah Ramadhan: Standar Berhitung

Berhitung bukan hanya pekerjaan orang yang bergelut dengan Matematika saja. Setiap orang, apapun profesinya, biasanya selalu berhitung; berapa keuntungan yang akan saya peroleh kalau saya berbuat begini? Kalau saya menutup aurat sementara pekerjaan saya menuntut tampil seperti ini bagaimana rizki saya? Kalau saya menyampaikan kebenaran ini, sementara orang lain tidak suka, bagaimana nasib hidup saya?.

Islam pun mendorong kita untuk selalu berhitung, bahkan memberikan standar perhitungan yang benar. Ketika menjelaskan hadits:

الكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ المَوْتِ، وَالعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ

”Orang yang cerdas adalah orang yang selalu mengendalikan hawa nafsunya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian…”

Imam At Tirmidzi (w. 279 H) menjelaskan:

وَمَعْنَى قَوْلِهِ: مَنْ دَانَ نَفْسَهُ يَقُولُ حَاسَبَ نَفْسَهُ فِي الدُّنْيَا قَبْلَ أَنْ يُحَاسَبَ يَوْمَ القِيَامَةِ ” وَيُرْوَى عَنْ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ، قَالَ: ” حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَتَزَيَّنُوا لِلْعَرْضِ الأَكْبَرِ، وَإِنَّمَا يَخِفُّ الحِسَابُ يَوْمَ القِيَامَةِ عَلَى مَنْ حَاسَبَ نَفْسَهُ فِي الدُّنْيَا وَيُرْوَى عَنْ مَيْمُونِ بْنِ مِهْرَانَ، قَالَ: «لَا يَكُونُ العَبْدُ تَقِيًّا حَتَّى يُحَاسِبَ نَفْسَهُ كَمَا يُحَاسِبُ شَرِيكَهُ مِنْ أَيْنَ مَطْعَمُهُ وَمَلْبَسُهُ»

Dan makna perkataan: “orang yang mengendalikan hawa nafsunya” dalam hadist di atas adalah orang yang selalu menghitung dirinya di dunia sebelum dirinya dihitung pada hari kiamat. Dan diriwayatkan dari Umar bin al-Khaththab ra, beliau berkata:, ”Hitunglah diri kalian sebelum kalian dihitung (oleh Allah swt kelak), perbaguslah (amal kalian) untuk menghadapi hari perhitungan yang amat dahsyat, sesungguhnya perhitungan pada hari kiamat akan terasa ringan hanya bagi orang yang selalu menghitung diri mereka ketika di dunia.” dan diriwayatkan dari Maimun bin Mihran, dia mengatakan: “tidaklah seorang hamba disebut bertakwa hingga dia menghitung dirinya sebagaimana dia menghitung serikat bisnisnya dari mana makanan dan pakaiannya.” (Sunan at Tirmidzi juz 4 hal 638)

Berhitung (Muhâsabah), jika dilakukan dengan standar yang benar, akan menyebabkan seseorang mengetahui berbagai kekurangan dan dosa yang pernah ia lakukan. Dengan itu, ia akan terdorong untuk selalu melakukan perbaikan diri, sehingga dari waktu ke waktu ia menjadi semakin baik. Sebaliknya, orang yang jarang menghitung diri akan merasa tidak ada yang kurang pada dirinya, padahal bisa jadi imannya makin rapuh, ketakwaannya makin terkikis, dan makin jauh dari Allah swt tanpa ia sadari.

Namun jika standar perhitungan yang digunakan adalah sebatas apa yang akan diperoleh di dunia saja, perhitungan semacam ini justru berbahaya. Orang tidak mau menutup aurat karena dalam hitungan dia kalau menutup aurat rizkinya akan seret, jodoh enggan mendekat dan akhirnya hidupnya akan menderita, seolah-olah dia yang memberi rizki untuk dirinya sendiri. Orang tidak mau menyampaikan yang hak karena dalam hitungannya kalau dia sampaikan maka membahayakan nyawanya, atau popularitasnya akan turun, padahal kematian ada dalam ketentuan Allah dan kemuliaan hanya milik Nya. Orang akan melakukan hal apapun untuk mendapatkan harta karena dalam hitungannya harta akan ‘mengekalkan’ kehidupan dia. Dan banyak lagi hal-hal negatif lain hanya karena ‘salah hitung’.

Seharusnya seorang muslim menjadikan standar keridho’an Allah swt dalam melakukan perhitungan, apakah yang dia lakukan halal ataukah haram, bukan standar manfaat saat ini semisal ungkapan; “ah mumpung gratis walau haram susah lho nyarinya, kalau tidak sekarang kapan lagi dapat kesempatan ini”, atau “mumpung masih ada yang ngasih (nyogok), kalau sudah tidak memegang jabatan nanti tinggal taubat”, atau ungkapan lain. Abu Bakar ash-Shiddiq ra. pernah memuntahkan kembali sesuap makanan, yang setelah makan baru beliau ketahui bahwa makanan itu ternyata merupakan upah dari melakukan perdukunan (tukang ramal). Saat beliau ditanya mengapa melakukan demikian, beliau menjawab:

لَو لم تخرج إِلَّا مَعَ نَفسِي لأخرجتها إِنِّي سَمِعت رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم يَقُول كل جَسَد نبت من سحت فَالنَّار أولى بِهِ فَخَشِيت أَن ينْبت بذلك فِي جَسَدِي من هَذِه اللُّقْمَة

”Andai makanan itu tidak keluar kecuali dengan keluarnya nyawaku, aku akan tetap memuntahkannya. Sebab, aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda, ’badan yang tumbuh dengan makanan yang haram maka api neraka lebih baik baginya.’ Saya sangat khawatir sesuap makanan itu tumbuh dalam tubuhku.” (Al Kabâir li Adz Dzahaby, hal 120). Allahu A’lam.[M. Taufik N.T]

(versi singkatnya dimuat di koran radarbanjarmasin pada tanggal 22 Juli 2014)

Baca Juga:

Posted on 23 Juli 2014, in Akhlaq and tagged . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. Reblogged this on Ambillah Yang Bermanfaat and commented:
    Standar berhitung yang paling Haqiqi

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s