Taushiyah Ramadhan: Putusnya Ukhuwwah Islamiyyah

Realitas umat Islam saat ini menunjukkan bahwa tidak sedikit bagian ‘tubuh’ umat ini sedang sakit parah, atau ikatan syarafnya sedang terganggu, atau mungkin lebih parah lagi dengan kurang berfungsinya syaraf pusat yang bertugas mengendalikan tubuh itu. Bagaimana tidak, sebagian kaum muslim Palestina membela diri mereka, berupaya mengembalikan tanah mereka yang dirampas, tidak sedikit yang hanya mengandalkan lemparan batu menghadapi tank-tank Israel, sementara ‘tetangga’ muslim sebelah yang mempunyai senjata dan tentara tidak bergerak menghadapinya.

Abdullah bin Umar r.a menuturkan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda: Muslim itu saudara bagi muslim lainnya; dia tidak menzaliminya dan tidak menyerahkannya kepada musuh. Siapa saja yang memenuhi kebutuhan saudaranya, Allah akan memenuhi kebutuhannya; siapa saja yang membebaskan seorang muslim dari kesulitan, Allah swt akan membebaskannya dari suatu kesulitan pada hari kiamat; siapa saja yang menutupi aib sesama muslim niscaya Allah akan menutup aibnya pada hari kiamat. (HR al-Bukhari dan Muslim).

Rasulullah saw juga bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (turut merasakan sakitnya)” (HR. Muslim)

Gambaran yang dinyatakan Rasulullah saw dalam dua hadits di atas, kalau dibandingkan dengan realitas umat Islam saat ini menunjukkan bahwa tidak sedikit bagian ‘tubuh’ umat ini sedang sakit parah, atau ikatan syarafnya sedang terganggu, atau mungkin lebih parah lagi dengan kurang berfungsinya syaraf pusat yang bertugas mengendalikan tubuh itu. Bagaimana tidak, sebagian kaum muslim Palestina membela diri mereka, berupaya mengembalikan tanah mereka yang dirampas, tidak sedikit yang hanya mengandalkan lemparan batu menghadapi tank-tank Israel, sementara ‘tetangga’ muslim sebelah yang mempunyai senjata dan tentara tidak bergerak menghadapinya.

Sungguh jauh berbeda dengan sikap Rasulullah saw, ketika kafir Quraisy menyangka umat Islam sedang lemah, mereka memprovokasi Bani Bakr – sekutu kaum Quraisy dalam perjanjian Hudaybiyyah – untuk menyerang dan membunuh kaum muslim Khuza’ah- sekutu Rasulullah. Menanggapi peristiwa ini Rasulullah tidak berdiam diri, beliau memobilisir pasukan untuk memberi ‘pelajaran’ kepada kaum kafir Quraisy. Abu Sufyan, pemimpin kaum Quraisy sekaligus mertuanya Rasulullah datang ke Madinah untuk melobi agar perjanjian damai dilanjutkan, namun Rasulullah tidak menghiraukan, bahkan bicarapun tidak. Akhirnya pembunuhan kafir Quraisy terhadap muslim Khuza’ah harus dibayar mereka dengan ditaklukkannya kota Makkah pada bulan Ramadhan tahun ke-8 Hijriyah.

Lemahnya kekuatan umat saat ini, merupakan akibat lemahnya ikatan persaudaraan diantara mereka. Allah berfirman:

وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ

Adapun orang-orang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu (yakni keharusan adanya persaudaraan yang teguh antara kaum muslimin), niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar. (TQS. Al Anfal : 73).

Iman yang seharusnya menjadi tali pengikat digantikan dengan ikatan fanatisme (ashobiyah), bersatu karena kesamaan suku, kelompok, kepentingan, atau bahkan terbatas batas-batas negara (nasionalisme). Permasalahan saudara se iman mereka di negara lain seolah-olah bukan masalah mereka. Bahkan dalam satu negarapun ikatan kepentingan yang lebih menonjol, tiada kawan abadi dan tiada musuh abadi, yang ada hanyalah kepentingan abadi! Begitu prinsip yang dipegang.

Tidak ada jalan lain untuk mengatasi masalah ini selain membangun kembali ukhuwwah diantara umat Islam, ukhuwwah yang didasari oleh kerinduan untuk taat kepada Allah dalam setiap aspek kehidupan, bukan ukhuwwah yang didasari kesamaan kepentingan duniawi, kesamaan suku, partai dll. ‘Umar bin Khattab pernah berkata:

إِنَّا كُنَّا أَذَلّ قَوْمٍ فَأَعَزَّنَا اللهُ بِالإِسْلاَمِ فَمَهْمَا نَطْلُبُ الْعِزَّةَ بِغَيْرِ مَا أَعَزَّنَا اللهُ بِهِ أَذَلَّنَا اللهُ

“Sesungguhnya kita dulu adalah kaum yang hina, kemudian Allah muliakan kita dengan Islam, bilamana kita mencari kemuliaan selain dengan yang Allah telah muliakan kita, maka Allah pasti akan menghinakan kita.” (HR. Al Hakim).[M. Taufik N.T]

Baca Juga:

Posted on 17 Juli 2014, in Dakwah, Perang/Jihad, Syari'ah and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s