Taushiyah Ramadhan: Musibah ‘Agama’

Kalau musibah yang berupa bencana alam menimpa, pertolongan masih bisa diharapkan, rata-rata manusia terketuk hatinya untuk membantu, namun siapa yang sanggup menolong ketika harus berhadapan dengan Allah swt karena agamanya tertimpa bencana?. Ketika hukum-hukum-Nya diabaikan, ketika manusia berfikir bahwa mereka lebih berhak mengatur diri mereka sendiri, sementara aturan yang bersumber dari wahyu dikesampingkan dengan berbagai alasan, ketika aurat sudah tidak dianggap tabu lagi untuk ditampilkan, ketika riba dan zina justru menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan, dan ketika semua ini terjadi namun tidak terbetik rasa prihatin sedikitpun, ini sungguh musibah besar.

Imam Asy Sya’bi menceritakan bahwa Qodhi Syuraih (w. 78 H) berkata:

إِنِّي لأُصَابُ بِالمُصِيْبَةِ، فَأَحْمَدُ اللهَ عَلَيْهَا أَرْبَعَ مَرَّاتٍ، أَحْمَدُ إِذْ لَمْ يَكُنْ أَعْظَمَ مِنْهَا، وَأَحْمَدُ إِذْ رَزَقَنِي الصَّبْرَ عَلَيْهَا، وَأَحْمُدُ إِذْ وَفَّقَنِي لِلاسْتِرْجَاعِ لِمَا أَرْجُو مِنَ الثَّوَابِ، وَأَحْمَدُ إِذْ لَمْ يَجْعَلْهَا فِي دِيْنِي

“sesungguhnya jika aku ditimpa musibah, maka aku memuji Allah empat kali; karena aku tidak tertimpa musibah yang lebih berat, karena aku dianugerahi kesabaran atasnya, karena dengan itu aku mengucapkan kalimah ‘istirja’ (innaa lillaahi …) sehingga aku memperoleh pahala, dan karena musibah itu tidaklah menimpa agamaku”. (Siyâru A’lâmi an Nubalâ, juz 4 hal 105).

Setiap orang pasti pernah mendapatkan musibah. Hanya saja ketika musibah itu tidak menimpa agama, maka musibah tersebut tergolong masih ringan. Bahkan musibah tersebut jika disikapi dengan sabar akan memberikan kebaikan.

مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ شَوْكَةٌ فَمَا فَوْقَهَا إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً أَوْ حَطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةً

Tidaklah seorang mukmin tertimpa musibah tertusuk duri atau lebih dari itu, kecuali dengannya Allah tinggikan dia satu derajat atau Allah hapuskan darinya satu kesalahan. (HR Muslim, at-Tirmidzi, Ahmad).

Musibah bisa jadi juga merupakan kasih sayang Allah swt, Dia ingin menegur hamba-Nya agar tersadar, atau ingin bersegera memberikan hukuman di dunia saja. Ada seorang laki-laki menemui seorang wanita yang dulunya, pada masa jahiliyah adalah pezina. Lelaki tersebut bermaksud mencumbuinya, ia membentangkan tangannya kepada wanita itu. Lalu wanita itu berkata; “Tahan, sesungguhnya Allah Azzawajalla telah menghilangkan kesyirikan, ‘Affan (perowi hadits) berkata; telah hilang kejahiliyahan dan Islam telah datang kepada kami, kemudian laki-laki itu berpaling meninggalkannya, namun wajahnya terkena dinding hingga terluka.

Lelaki itu mendatangi Nabisaw, mengabari beliau, lalu beliau bersabda:

أَنْتَ عَبْدٌ أَرَادَ اللَّهُ بِكَ خَيْرًا إِذَا أَرَادَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِعَبْدٍ خَيْرًا عَجَّلَ لَهُ عُقُوبَةَ ذَنْبِهِ وَإِذَا أَرَادَ بِعَبْدٍ شَرًّا أَمْسَكَ عَلَيْهِ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَفَّى بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُ عَيْرٌ

“Kamu adalah hamba yang Allah menghendaki kebaikan kepadamu. Jika Allah menghendaki kebaikan kepada seorang hamba, niscaya akan menyegerakan siksa atas dosanya. Jika dia menghendaki kejelekan maka dia akan menangguhkan dosanya sehingga akan menumpuk penuh dosanya untuk dibalas pada hari kiamat”. (HR. Ahmad, shahih lighairihi)

Adapun musibah jika menimpa agama, kadang banyak yang tidak merasa, hingga Al Hâfidz Ibnu Abdil Barr (w. 463 H) dalam kitab Bahjatul Majâlis menyindir dengan sebuah sya’ir:

أأخي إن من الرجال بهيمةً – في صورة الرجل السميع المبصر

فطن لكلّ مصيبة في ماله – وإذا يُصاب بدينه لم يَشعُر

Wahai saudaraku, sesungguhnya sebagian laki-laki itu layaknya binatang ternak, dalam bentuk seorang laki-laki yang mendengar dan melihat. Dia cerdas untuk setiap musibah yang menimpa hartanya, tetapi ketika musibah tersebut menimpa agamanya dia tidak merasakan (apa-apa).

Kalau musibah yang berupa bencana alam menimpa, pertolongan masih bisa diharapkan, rata-rata manusia terketuk hatinya untuk membantu, namun siapa yang sanggup menolong ketika harus berhadapan dengan Allah swt karena agamanya tertimpa bencana?. Ketika hukum-hukum-Nya diabaikan, ketika manusia berfikir bahwa mereka lebih berhak mengatur diri mereka sendiri, sementara aturan yang bersumber dari wahyu dikesampingkan dengan berbagai alasan, ketika aurat sudah tidak dianggap tabu lagi untuk ditampilkan, ketika riba dan zina justru menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan, dan ketika semua ini terjadi namun tidak terbetik rasa prihatin sedikitpun, ini sungguh musibah besar.

Musibah agama ini telah melahirkan musibah lain, gangguan jiwa berat yang dialami jutaan penduduk Indonesia, bunuh diri yang dilakukan sekitar 50 ribu orang Indonesia setiap tahun, jutaan bayi diaborsi (dibunuh) tiap tahun, dan berbagai masalah sosial lainnya merupakan akibat dari musibah jenis ini. Rasulullah saw menyatakan:

وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَّا جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ

… Dan tidaklah pemimpin-pemimpin mereka enggan menjalankan hukum-hukum Allah dan memilih-milih apa yang diturunkan Allah (yang sesuai dengan hawa nafsunya saja yang dipakai), kecuali Allah akan menjadikan bencana di antara mereka.” (HR. Ibnu Majah dengan sanad hasan).

Kita pantas merasa berdosa ketika tidak ikut membantu korban bencana, namun sudahkah kita merasa berdosa ketika tidak ikut mengatasi bencana yang lebih besar ini? Alasan apa yang akan kita sampaikan ketika kelak kita ditanya dihadapan-Nya? Allahu A’lam.  [M. Taufik N.T] (versi singkatnya disampaikan ke koran radarbanjarmasin)

Baca Juga:

  • Pejabat Tinggal 40 Persen Jika KPK Tangkap Semua Koruptor
  • Audio–Rekaman: Demokrasi hanya Sebuah Mimpi
  • Menyikapi Makar Penghalang Perjuangan Penegakan Syari’ah
  • Buku: Beberapa Pemahaman Seputar Perubahan Yang Mesti Diubah
  • Iklan

    Posted on 15 Juli 2014, in Dakwah, Syari'ah and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s