Taushiyah Ramadhan: Meraih Takwa

“Tidaklah seorang hamba mencapai derajat muttaqin (orang yang bertakwa) hingga ia meninggalkan sesuatu yang tidak terlarang karena khawatir terjatuh pada yang terlarang.” (HR at Tirmidzi, Ibnu Majah, dan al Hakim dengan sanad sahih).

***

Allah SWT telah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (TQS al-Baqarah: 183).

Melalui ayat ini Allah mengabarkan bahwa takwa adalah tujuan pelaksanaan kewajiban puasa. Berarti pula bahwa puasa merupakan salah satu jalan untuk meraih takwa.

Dalam Tafsir Ibn Katsir (1/164) diceritakan bahwa Umar bin Khattab r.a. pernah bertanya kepada Ubay bin Ka’b r.a tentang takwa, maka Ubay bin Ka’b balik bertanya,

أَمَا سَلَكْتَ طَرِيقًا ذَا شَوْكٍ؟

“Pernahkah engkau menempuh jalan yang beronak duri?”.

Umar menjawab,

بَلَى

“Ya, pemah”

Ubay bin Ka’b bertanya lagi,

فَمَا عَمِلْتَ؟

“Kemudian apa yang kamu lakukan?”

Umar menjawab,

شَمَّرْتُ وَاجْتَهَدْتُ

“Aku akan bersiap sedia (waspada/hati-hati) dan berusaha sekuat tenaga (untuk melampauinya)”

Ubay bin Ka’b berkata,

فَذَلِكَ التَّقْوَى

“Itulah yang namanya takwa.”

Ubay bin Ka’b ingin menegaskan bahwa hakikat takwa adalah kehati-hatian dalam menjalani kehidupan ini karena khawatir terjerumus ke dalam dosa. Ini bersesuaian dengan sabda Rasulullah saw:

لَا يَبْلُغُ الْعَبْدُ أَنْ يَكُونَ مِنَ المتَّقين حَتَّى يَدَعَ مَا لَا بَأْسَ بِهِ حَذَرًا مِمَّا بِهِ بَأْسٌ

“Tidaklah seorang hamba mencapai derajat muttaqin (orang yang bertakwa) hingga ia meninggalkan sesuatu yang tidak terlarang karena khawatir terjatuh pada yang terlarang.” (HR at Tirmidzi, Ibnu Majah, dan al Hakim dengan sanad sahih).

Imam Al-Hasan al Bashri, juga pernah mengatakan, “Ketakwaan akan selalu melekat pada orang-orang muttaqîn selama ia banyak meninggalkan yang halal karena khawatir terjatuh pada yang haram.”

Dari penjelasan diatas, takwa dapat diidentikkan dengan perasaan hati-hati dan takut terjatuh ke dalam keharaman dengan didasarkan pada keimanan; seraya berusaha sekuat tenaga menjalankan berbagai kewajiban dari Allah swt dan Rasul-Nya.

Meraih takwa tidak cukup hanya dengan melakukan ibadah-ibadah mahdhah seperti puasa dan shalat malam, namun harusnya dengan berupaya sekuat tenaga menjalankan semua perintah Allah dalam setiap aspek kehidupan. Syeikh ‘Abdul Qôdir Al- Jîlâniy dalam kitabnya, Al Ghun-yah menukil pernyataan Khalifah Umar bin Abdul Aziz:

ليس تقوى الله بقيام الليل وصيام النهار والتخليط فيما بين ذلك، ولكن التقوى أداء فرائض الله وترك محارمه، فمن رزق بعد ذلك خيراً فهو خير إلى خير[1]

“Ketakwaan itu bukan sekedar puasa di siang hari dan qiyamul lail (ibadah dimalam hari) atau seputar itu. Tapi takwa itu meninggalkan apa yang dilarang Allah dan mengerjakan apa yang difardhukan-Nya, maka barang siapa yang setelah melakukan itu Allah anugerahkan kebaikan (semangat untuk melakukan yang sunnah dan meninggalkan yang makruh dan syubhat), maka yang demikian itu adalah kebaikan pada kebaikan”.

Oleh karena itu tidaklah bermakna apa-apa puasa atau shalat malamnya seseorang, jika ia melalaikan berbagai kewajibannya dan malah sering melakukan berbagai keharaman. Rajin puasa dan qiyamul lail (shalat malam), namun rajin pula korupsi, pamer aurat, menggunjing, enggan berhukum dengan hukum syari’ah apalagi melecehkannya atau membuat aturan yang mengingkari hukum Allah dan kemaksiatan lainnya. Rasulullah saw bersabda:

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلاَّ الْجُوعُ وَكَمْ مِنْ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلاَّ السَّهَرُ

Betapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan apapun selain rasa lapar saja, dan betapa banyak orang yang melakukan shalat malam tidak mendapat apapun selain bergadangnya saja (HR Ahmad). Wal ‘iyâdzu billâh.

Puasa kita baru akan bermakna dan berhasil meraih takwa, jika kita berupaya untuk menjalankan semua hukum syari’ah Allah swt, menjauhi semua larangan-Nya, dan berhati-hati dari hal yang halal sekalipun agar tidak menggelincirkan kita kepada keharaman. Allahu A’lam.  [M. Taufik N.T] (versi singkatnya disampaikan ke koran radarbanjarmasin)

Baca Juga:

 

[1] فمن رزق بعد أداء الفرائض وترك المحارم نشاطاً في فعل النوافل وترك المكروهات والمشتبهات فهو خير إلى خير.

Posted on 11 Juli 2014, in Akhlaq, Ibadah, Syari'ah and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s