Taushiyah Ramadhan: Puasa & Syukur

Seorang hamba tidaklah disebut bersyukur kepada tuannya kecuali menggunakan nikmat tersebut untuk hal-hal yang menyenangkan tuannya atau apa-apa yang disukai tuannya untuk hambanya, bukan untuk diri tuannya. Adapun apabila dia menggunakan nikmat tersebut pada hal -hal yang dibenci tuannya maka sesungguhnya dia kufur nikmat sebagaimana juga jika ia menelantarkannya dan membiarkannya tidak terpakai.(Mauidzotul Mu’minin min Ihya Ulumiddin, hal 285)

***

Puasa adalah wasilah yang bisa memupuk rasa syukur akan karunia Allah swt. Allah berfirman:

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“…Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (TQS. Al Baqarah: 185)

Melupakan karunia Allah merupakan kebiasaan kebanyakan manusia, baru teringat dan menghargainya setelah karunia tersebut dicabut atau berkurang fungsinya. Setelah sakit baru merasakan begitu nikmatnya sehat, setelah Allah buat hidupnya super sibuk baru merasakan nikmatnya waktu senggang, setelah merasa kelaparan dan dahaga baru teringat bagaimana nikmatnya makanan, begitu seterusnya. Oleh karena itu, lewat puasa, manusia dilatih untuk merasakan sedikit rasa lapar dan dahaga, dengan harapan akan terbetik dalam hatinya untuk mensyukuri semua nikmat yang telah diberikan.

Imam Al-Qosimy (w. 1332H) menjelaskan hakikat syukur kepada Allah swt dalam kitabnya, Mauidzotul Mu’minin min Ihya Ulumiddin, hal 285:

اعْلَمْ أَنَّ الْعَبْدَ لَا يَكُونُ شَاكِرًا لِمَوْلَاهُ إِلَّا إِذَا اسْتَعْمَلَ نِعْمَتَهُ فِي مَحَبَّتِهِ، أَيْ فِيمَا أَحَبَّهُ لِعَبْدِهِ لَا لِنَفْسِهِ، وَأَمَّا إِذَا اسْتَعْمَلَ نِعْمَتَهُ فِيمَا كَرِهَهُ فَقَدْ كَفَرَ نِعْمَتَهُ، كَمَا إِذَا أَهْمَلَهَا وَعَطَّلَهَا

ketahuilah bahwa sesungguhnya seorang hamba tidaklah disebut bersyukur kepada tuannya kecuali menggunakan nikmat tersebut untuk hal-hal yang menyenangkan tuannya atau apa-apa yang disukai tuannya untuk hambanya, bukan untuk diri tuannya. Adapun apabila dia menggunakan nikmat tersebut pada hal -hal yang dibenci tuannya maka sesungguhnya dia kufur nikmat sebagaimana juga jika ia menelantarkannya dan membiarkannya tidak terpakai.”

Bersyukur menuntut adanya pengakuan dan keyakinan bahwa segala bentuk kenikmatan ini datangnya dari Allah swt semata, disertai dengan perasaan senang menerima dan menampakkannya. Nabi Sulaiman as saat ia mendapati singgasana Bilqis telah ada di sampingnya dalam sekejap mata, beliau mengatakan: “Ini adalah anugerah Tuhanku. Dia bermaksud mengujiku, adakah aku bersyukur ataukah aku kufur.” (QS An-Naml: 40). Adapun merasa bahwa nikmat itu datang karena semata-mata kepintarannya sendiri ini tergolong kufur nikmat, sebagaimana Qarun, saat ia ditanya oleh kaumnya tentang sukses bisnisnya, ia berkata: “Semua ini aku dapatkan semata-mata karena ilmuku, kepintaranku, kepiawaianku” (QS Al-Qashash: 78).

Namun demikian, tidaklah cukup dengan pengakuan dan keyakinan bahwa segala bentuk kenikmatan ini datangnya dari Allah swt semata, bersyukur juga harus dibarengi dengan aktivitas menggunakan nikmat yang diperoleh itu sesuai dengan tujuan penciptaan atau penganugerahannya, serta disesuaikan dengan syari’at Allah swt.

Petunjuk Allah; Nikmat Yang Banyak Terabaikan

Yang menarik dalam surat Al Baqarah: 185, sebelum menyebutkan syukur, Allah perintahkan kita untuk mengagungkan-Nya atas petunjuk yang telah diberikan-Nya: “…hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”

Dan diantara nikmat yang diberikan-Nya, bahkan merupakan nikmat terbesar, adalah Al Qur’an, namun sayangnya nikmat ini banyak diabaikan. “Berkatalah Rasul, “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan al-Quran ini sebagai sesuatu yang diabaikan.” (TQS al-Furqan : 30).

Mengutip Ibnu Qayyim, Az Zuhayli menjelaskan makna “hajrul qur’an” (mengabaikan al Qur’an):

هجر القرآن أنواع: أحدها- هجر سماعه والإيمان به، والثاني- هجر العمل به وإن قرأه وآمن به، والثالث- هجر تحكيمه والتحاكم إليه، والرابع- هجر تدبره وتفهم معانيه، والخامس- هجر الاستشفاء والتداوي به في جميع أمراض القلوب، وكل هذا داخل في قوله تعالى: إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هذَا الْقُرْآنَ مَهْجُوراً وإن كان بعض الهجر أهون من بعض

Mengabaikan al Qur’an itu bermacam-macam: 1) Tidak mau mendengarkan dan mengimani al-Qur’an; 2) tidak mau mengamalkannya, walau dia membaca dan mengimaninya; 3) tidak berhukum kepadanya; 4) tidak men-tadabburi dan memahami maknanya; 5) dan tidak mau berobat dengannya dalam semua penyakit hati, semua itu masuk dalam firman Allah: “sesungguhnya kaumku menjadikan al-Quran ini sebagai sesuatu yang diabaikan” , walaupun sebagian lebih ringan dari sebagian yang lain. (Wahbah al-Zuhayli, Tafsîr al-Munîr, 19/61).

Memang benar, saat ini Al Qur’an sudah banyak dibaca, bahkan di“musabaqah” kan, namun bukankah aturan-aturannya tidak diperhatikan dalam mengatur kehidupan?, padahal mensyukuri nikmat petunjuk-Nya adalah dengan cara meyakininya, membacanya, memahami dan merenungkan maknanya, dan menggunakan nikmat itu sesuai dengan peruntukannya, yakni untuk mengatur kehidupan ini.

Yang juga perlu diperhatikan bahwa mengkufuri nikmat petunjuk ini telah nyata-nyata mendatangkan kerusakan, sebagaimana firman Allah:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ بَدَّلُوا نِعْمَتَ اللَّهِ كُفْرًا وَأَحَلُّوا قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِ

Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar ni`mat Allah[1] dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan (TQS. Ibrahim: 28).

Yang dimaksud dengan nikmat Allah di sini ialah perintah-perintah dan ajaran-ajaran Allah (Tafsir Depag RI). Allahu A’lam. [M. Taufik N.T] (versi singkatnya disampaikan ke koran radarbanjarmasin)

Baca Juga:

 


[1] Yang dimaksud dengan nikmat Allah di sini ialah perintah-perintah dan ajaran-ajaran Allah. Ibn Katsir:

فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى بَعَثَ مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَحْمَةً لِلْعَالِمِينَ، وَنِعْمَةً لِلنَّاسِ، فَمَنْ قَبِلَهَا وَقَامَ بِشُكْرِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ رَدَّهَا وَكَفَرَهَا دَخَلَ النَّارَ.

Posted on 2 Juli 2014, in Akhlaq, Dakwah, Ibadah, Syari'ah and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s