Taushiyah Ramadhan: Amal Terbaik

Kalau amalnya ikhlas untuk Allah seharusnya amal yang diberikan untuk-Nya  adalah amal terbaik. Kalau untuk majikan yang hanya memberikan gaji yang tidak seberapa, kita berupaya memberikan kinerja maksimal, bahkan kadang sampai lembur, pantaskah untuk Dzat yang menguasai kita, memberi rizki kepada kita, menentukan hidup-mati kita, hanya kita beri sisa-sisa kehidupan kita, kehidupan yang sebenarnya hasil pemberian Dia?.

***

Kematian dan kehidupan, penderitaan dan kesenangan hanyalah Allah swt ciptakan sebagai ujian untuk melihat siapa diantara hamba-Nya yang terbaik amalnya. Sebagaimana firman-Nya:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

(Allah) Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. (Q.S. Al Mulk :2)

Ketika menjelaskan makna “siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya”, Imam Al Fudhail bin ‘Iyadh (w. 187 H) menyatakan:

أخلصه وأصوبه

“(Amal yang terbaik adalah) yang paling ikhlas dan paling benar”. Kemudian ditanyakan kepadanya: “wahai Abu Ali, bagaimana yang paling ikhlas dan paling benar itu?” maka beliau menjawab:

إن العمل إذا كان صوابا ولم يكن خالصا لم يقبلْ، وإذا كان خالصا ولم يكن صوابا لم يقبل، حتى يكون خالصا صوابا، والخالص أن يكون لله، والصواب أن يكون على السنة

“Sesungguhnya suatu amal, jika benar namun tidak ikhlas maka tidak akan diterima, dan jika ikhlas namun tidak benar maka tidak akan diterima pula, hingga amal itu menjadi ikhlas dan benar, ikhlas itu adalah semata-mata amal tersebut dikerjakan untuk Allah, dan benar adalah sesuai dengan sunnah Rasulullah saw”. (Fawzi Sinuqart, at Taqarrub Ila Allâh, hal 3).

Ikhlas adalah amalan hati yang tidak terlihat oleh mata, meskipun demikian ikhlas dapat dideteksi dari ciri-ciri amalan lahiriah pelakunya. Diantara ciri keikhlasan adalah sanggup menerima kebenaran walaupun datang dari orang yang lebih rendah tingkat keilmuannya.

Al Hafidz Ibnu Hajar al Asqalany (w. 852 H) menceritakan dalam kitab Tahdzîbu at Tahdzîb bahwa suatu ketika Ubaidullah bin Hasan Al Anbary, seorang ‘ulama di Bashrah, dalam penyelenggaraan jenazah beliau ditanya tentang suatu masalah, lalu beliau menjawab dengan jawaban yang keliru. Abdurrahman bin Al Mahdi (murid beliau) mengoreksi gurunya dengan berkata : “semoga Allah memperbaiki anda, jawaban pertanyaan tadi adalah demikian dan demikian …” maka beliau berkata: kalau demikian aku ruju’ (kembali) kepada yang benar, menjadi ekor dalam kebenaran lebih kusukai daripada menjadi kepala dalam kebathilan.

Kalau kebenaran yang datang dari yang lebih rendah saja diterima, tentunya kebenaran dari Allah, dzat yang Maha Mengetahui, lebih diterima lagi. Menolak kebenaran hukum-hukum Allah swt, siapapun yang menyampaikan, menunjukkan tidak adanya keikhlasan dalam diri seseorang, bahkan menunjukkan kesombongan orang yang melakukannya.

Ciri lain dari ikhlas adalah tidak cepat memberi fatwa, bahkan tidak akan malu mengatakan “saya tidak tahu” ketika memang dia tidak tahu, karena sadar bahwa menjawab sesuatu bukan untuk meningkatkan nilai dirinya, namun semata-mata karena Allah, yakni menjelaskan hukum-hukum Allah swt.

Suata hari kepada Imam Asy-Sya’bi (w. 104 H), seorang imam yang menguasai hampir seluruh ilmu pada masanya, ditanyakan suatu persoalan tetapi ia menjawab: “tidak tahu”. Lalu dikatakan kepadanya: “apa anda tidak malu menjawab tidak tahu padahal anda adalah ahli fikihnya orang-orang Irak”. Beliau menjawab, “Jangankan aku, Malaikat saja tidak malu ketika berkata, ‘Maha suci Engkau, tidak ada yang Kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami”. (QS. Al-Baqarah: 32)

Hal lain yang seharusnya ada ketika kita benar-benar ikhlas untuk Allah adalah memberikan kinerja terbaik kita untuk-Nya. Kalau untuk majikan yang hanya memberikan gaji yang tidak seberapa, kita berupaya memberikan kinerja maksimal, bahkan kadang sampai lembur, pantaskah untuk Dzat yang menguasai kita, memberi rizki kepada kita, menentukan hidup-mati kita, hanya kita beri sisa-sisa kehidupan kita, kehidupan yang sebenarnya hasil pemberian Dia?.

Untuk bos kita sanggup meluangkan waktu kita, pantaskah untuk ketaatan kepada Allah kita selalu beralasan sibuk, tidak ada waktu, dll? Padahal waktu (usia) itu Allah yang memberi?

Walaupun ikhlas sangat penting, namun tidaklah cukup untuk menjadikan amal kita menjadi amal terbaik, hal kedua yang harus dipenuhi adalah kesesuaian amal kita dengan syari’ah Allah SWT. Seorang ayah yang ‘ikhlas’, jujur dan disiplin dalam bekerja, semua itu tidak ada nilainya jika pekerjaannya haram. Kelemah- lembutan, kesederhanaan, keberanian, kejujuran dan kedisiplinan seorang pemimpin tidaklah berguna bagi kalau dia memimpin dengan menggunakan aturan yang menyalahi aturan Allah Swt. Oleh sebab itu seorang tabi’in, Sai’id bin Jubair ra berkata:

لا يقبل قول إلا بعمل، ولا يقبل قول وعمل إلا بنية، ولا يقبل قول وعمل ونية إلا بموافقة السنة

“Tidak akan diterima ucapan kecuali apabila dibarengi dengan amalan. Tidak akan diterima ucapan dan amalan kecuali jika dilandasi dengan niat. Dan tidak akan diterima ucapan, amalan, dan niat kecuali apabila bersesuaian dengan as-Sunnah”.[M. Taufik N.T]  Allahu A’lam

(versi singkatnya, tanpa arabic disampaikan ke koran radarbanjarmasin)

Baca Juga:

 

Posted on 30 Juni 2014, in Akhlaq, Ibadah, Syari'ah and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s