Taushiyah Ramadhan: Takwa, Kunci Penyelesaian Masalah

“Ketakwaan itu bukan sekedar puasa di siang hari dan qiyam (shalat/ibadah) dimalam hari atau seputar itu. Tapi takwa itu meninggalkan apa yang dilarang Allah dan mengerjakan apa yang difardhukan-Nya, maka barang siapa yang setelah melakukan itu Allah anugerahkan kebaikan (semangat untuk melakukan yang sunnah dan meninggalkan yang makruh dan syubhat), maka yang demikian itu adalah kebaikan pada kebaikan”. (Khalifah Umar bin Abdul Aziz)

***

Puasa Ramadhan, dan juga ibadah-ibadah yang lain, bahkan hukum pidana dalam Islam, Allah syari’atkan untuk membentuk manusia yang bertakwa kepada-Nya. Allah berfirman :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. (QS. Al Baqarah :21). Juga firman-Nya

وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Dan dalam (hukum) qishas itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa. (QS. Al Baqarah :179)

Kenapa ketakwaan begitu penting? Padahal Allah tidak berhajat kepada siapapun? Benar, ketakwaan makhluk tidak berguna untuk Allah, apalagi penting bagi-Nya, kemuliaan-Nya tidak akan berkurang sedikitpun walau seandainya semua makhluk durhaka kepada-Nya. Namun sesungguhnya ketakwaan itu justru sangat penting bagi manusia itu sendiri, karena Allah telah menjadikan ketakwaan sebagai kunci kemenangan, kunci kejayaan, kunci kemuliaan dan kelapangan hidup manusia di dunia dan akhirat, baik dalam kehidupan individu maupun kehidupan berbangsa dan bernegara. Allah menegaskan hal ini dalam firman-Nya:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Ia akan menjadikan jalan keluar, dan memberinya rizqi dari arah yang tidak disangka-sangka (QS. Ath Thalaq: 2 -3).

Beratnya problem yang dihadapi, sulitnya persoalan yang ditemui tidaklah menjadi masalah jika kunci penyelesaian masalah tersebut ada dalam genggaman. Sebaliknya seringan apapun masalahnya, jika seseorang kehilangan kunci dan jalan keluar untuk menyelesaikannya, yang ringan tersebut akan terasa berat, bahkan mustahil diselesaikan dengan baik. Dengan ketakwaan, Allah menjamin akan memberikan jalan keluar dari setiap permasalahan, walaupun mungkin jalan keluar tersebut berat dalam pandangan orang lain, namun terasa ringan dan mudah dalam pandangan orang yang bertakwa.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz pernah berwasiat kepada sebagian pekerjanya, “Hendaklah engkau bertakwa kepada Allah dimana saja Engkau berada. Sesungguhnya takwa kepada Allah adalah persiapan yang paling baik, makar yang paling sempurna, dan kekuatan yang paling dahsyat. … Dan janganlah karena permusuhan seseorang dari manusia menjadikan kalian lebih perhatian kepadanya daripada perhatian kalian terhadap dosa-dosa kalian. Janganlah kalian katakan bahwa musuh-musuh kita lebih jelek keadaannya daripada kita dan mereka takkan pernah menang atas kita sekalipun kita banyak dosa. Berapa banyak kaum yang dihinakan oleh musuh-musuhnya yang lebih jelek dari kaum itu karena dosa-dosa kaum tersebut. Mintalah kalian pertolongan kepada Allah atas diri-diri kalian, sebagaimana kalian meminta pertolongan kepada-Nya atas musuh-musuh kalian…”(Abu Nu’aim, Al Hilyah, juz 5 hal 303).

Takwa inilah prinsip utama yang harus dipegang oleh seorang muslim dalam mengatasi sebuah persoalan, dalam kapasitas apapun keberadaan dirinya, baik sebagai rakyat maupun pejabat, sebagai yang dipimpin maupun yang memimpin. Ketakwaan yang bukan hanya ada dipojok-pojok mesjid, namun ada kapan dan dimanapun dia berada, takwa saat beribadah, saat bermu’amalah, bahkan saat mengatur urusan rakyat sekalipun. Takwa yang tercermin dengan ketundukan terhadap syari’ah dalam aspek apapun, sebagaimana perkataan Umar bin Abdul Aziz yang dinukil oleh Syeikh ‘Abdul Qôdir Al- Jilaniy dalam kitabnya, Al Ghun-yah:

ليس تقوى الله بقيام الليل وصيام النهار والتخليط فيما بين ذلك، ولكن التقوى أداء فرائض الله وترك محارمه، فمن رزق بعد ذلك خيراً فهو خير إلى خير[1]

“Ketakwaan itu bukan sekedar puasa di siang hari dan qiyam (shalat/ibadah) dimalam hari atau seputar itu. Tapi takwa itu meninggalkan apa yang dilarang Allah, mengerjakan apa yang difardhukan-Nya, maka barang siapa yang setelah melakukan itu Allah anugerahkan kebaikan  (semangat untuk melakukan yang sunnah dan meninggalkan yang makruh dan syubhat), maka yang demikian itu adalah kebaikan pada kebaikan”. Allahu A’lam. [M. Taufik N.T] (versi singkatnya disampaikan ke koran radarbanjarmasin)

Baca Juga:

[1] فمن رزق بعد أداء الفرائض وترك المحارم نشاطاً في فعل النوافل وترك المكروهات والمشتبهات فهو خير إلى خير.

Posted on 30 Juni 2014, in Akhlaq, Ibadah, Syari'ah and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s