Khutbah Jum’at – Sombong (Takabbur)

Oleh : M. Taufik N.T    .::.  download lengkapnya di <<sini>>

Salah satu sifat yang bisa menggelincirkan kita ke dalam azab yang pedih adalah sifat sombong. Imam Muslim meriwayatkan hadits dari Ibn Mas’ud r.a bahwa Rasulullah saw berkata:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

“Tidak akan masuk surga, orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari kesombongan.”

Dalam riwayat lain, dari Abu Musa al Asy’ary r.a diriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda:

إِنَّ فِي جَهَنَّم وَادِيًا، وَفِي الْوَادِي بِئْرٌ يُقَالُ لَهُ هَبْهَبُ، حَقٌّ عَلَى اللَّهِ أَن يُسْكِنَهُ كُلَّ جَبَّارٍ عَنِيْدٍ

Sesungguhnya di neraka jahannam ada sebuah lembah, dan dalam lembah tersebut ada sebuah sumur yang dinamakan hab-hab. Merupakan kewajiban bagi Allah untuk menempatkan orang-orang sombong yang keras kepala didalamnya (Al Hafidz Al Mundziri (w. 656 H) menyatakan: diriwayatkan oleh at Thabrany dg sanad hasan, dan Abu Ya’la dan Al Hakim dan dia (al Hakim) mengatakan sanadnya shahih)[1]

Ma’âsyiral Muslimîn rahîmakumullâh

Seseorang bisa sombong dan angkuh ketika merasa memiliki kelebihan dari oranglain, merasa hebat ketika mobilnya bagus, nilai IPKnya tinggi, gelar akademiknya sederet, pakaiannya bagus, dan kelebihan-kelebihan yang lain. Akan tetapi kesombongan yang dimaksud dalam dua hadits tadi tidaklah identik dengan tampilan fisik tersebut. Kesombongan yang dimaksud adalah ketika seseorang merasa lebih tinggi dan mulia dari orang lain hingga dia dia menolak kebenaran walau sudah jelas itu benar.

Ketika seorang lelaki berkata “Sesungguhnya seseorang menyukai baju dan sandalnya bagus (apakah ini termasuk kesombongan)?” Maka Rasulullah menjawab:

إِنَّ اللهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ، وَغَمْطُ النَّاسِ

“Sesungguhnya Allah itu indah menyukai yang indah-indah, kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia”.

Kesombongan bisa merasuk dalam diri seseorang- walau dia tanpa menyadarinya- ketika dia merasa bahwa hasil pemikiran dirinya atau pemikiran orang lain lebih tepat dan benar dibandingkan ketentuan Allah SWT dan Rasul-Nya, lalu menolak dan mendebat ayat-ayat Allah, sebagaimana Allah katakan:

الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي آيَاتِ اللَّهِ بِغَيْرِ سُلْطَانٍ أَتَاهُمْ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ وَعِنْدَ الَّذِينَ آمَنُوا كَذَلِكَ يَطْبَعُ اللَّهُ عَلَى كُلِّ قَلْبِ مُتَكَبِّرٍ جَبَّارٍ

(Yaitu) orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka[2]. Amat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang.(QS. Al Mu’min: 35)

Hal yang sangat menakutkan terjadi akibat sikap sombong adalah dikuncinya hati dari kebenaran, hati dan pikiran menjadi buta, tidak lagi mampu melihat kebenaran, walaupun kebenaran itu jelas nampak di depan mata, sebagaimana kafir Quraisy yang menyaksikan berbagai mukjizat secara langsung, namun mereka tetap tidak menerima kebenaran dari rasul, bahkan mereka menantang dg do’anya:

وَإِذْ قَالُوا اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ هَذَا هُوَ الْحَقَّ مِنْ عِنْدِكَ فَأَمْطِرْ عَلَيْنَا حِجَارَةً مِنَ السَّمَاءِ أَوِ ائْتِنَا بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

Dan (ingatlah), ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata: “Ya Allah, jika betul (Al Qur’an) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih”.(QS. Al Anfaal 32)

Ma’âsyiral Muslimîn rahîmakumullâh

Apakah diri kita termasuk orang yang sombong? Untuk mengetahuinya adalah dengan senantiasa merenungi bagaimana perasaan hati kita saat mendengar hukum-hukum Allah disampaikan: Adakah setitik rasa penolakan dalam hati kita?, Saat orang yang status dimasyarakat dipandang lebih rendah menyampaikan al haq adakah sedikit rasa penolakan dalam hati kita?

Saat orang yang pendidikan formalnya dibawah kita, atau organisasinya berbeda dengan kita, atau sukunya bukan suku kita, atau madzhabnya berbeda dengan madzhab kita, saat mereka menyampaikan hukum-hukum Alllah SWT yang tidak ada pertentangan akan kewajibannya, menyeru untuk menta’ati Allah SWT yang kita ketahui kebenarannya, adakah sedikit rasa tidak suka dalam hati kita?

Kalau masih ada, maka itulah benih-benih kesombongan yang bisa mencelakakan kita. Semoga Allah membersihkan hati kita dari kesombongan dan benih-benihnya, hingga saat kita menghadap kepada Allah SWT bisa membawa hati yang selamat. [disampaikan di Masjid Al Baytar (Banjarbaru, dg perubahan beberapa hal), dan Al Furqan (Martapura]

[1] At Targhib wat Tarhib, 3/121

[2] Maksudnya: mereka menolak ayat-ayat Allah tanpa alasan yang datang kepada mereka.

Baca Juga:

Posted on 8 November 2013, in Khutbah Jum'at. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Barakallahu ustadz, teks khutbahnya selalu ana tunggu..he he

    Suka

  2. ass. kaifa halukum ? pak ustadz ana minta teks khutbah terbarunya.semoga dakwah kita jadi wasilah/saksi untuk masuk ke surganya Alloh.syukron.was (jeje.jamaluddin@gmail.com)
    ==
    Wa’alaykumussalaam… Alhamdulillah kami dlm kondisi baik, Aamiin, syukron ‘ala husni du’aaik. Barakallaahu fiik

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s