Hukum Wasiat Untuk Ahli Waris

Bolehkah wasiat untuk ahli waris? dan bagaimana kalau wasiat lebih dari 1/3 harta?

===

Wasiat adalah pesan seseorang memberikan sebagian hartanya kepada orang lain yang ditunaikan setelah ia meninggal dunia.

Walaupun wasiat merupakan salah satu bentuk pemberian, namun berbeda hukum-hukumnya. Hibah/pemberian berlaku saat yang memberi masih hidup, sementara pemberian yang mensyaratkan berlakunya setelah si pemberi meninggal dunia disebut sebagai wasiat.

Besaran Wasiyat

Wasiyat untuk selain ahli waris yang wajib ditunaikan besaran maksimalnya adalah 1/3 dari harta yang ditinggalkan, setelah dipotong dengan biaya penyelenggaraan jenazah dan pelunasan hutang-hutangnya.

Wasiat Yang Lebih dari 1/3 Harta

Hukum asal wasiyat tidak boleh lebih dari 1/3 harta warisan. Jika lebih dari 1/3 harta, maka hal tersebut bergantung kepada ahli waris, jika mereka membolehkan maka boleh dilaksanakan, jika tidak maka yang dilaksanakan hanya terkait 1/3 harta saja.[1]

Wasiat Untuk Ahli Waris

Wasiyat untuk ahli waris tidak berlaku jika mereka tidak membolehkan. Namun jika mereka (ahli waris) menyetujuinya (setelah wafatnya pemberi wasiyat), maka para ‘ulama berbeda pendapat:

Mayoritas ahli fiqh (Hanafiyyah, Malikiyyah, yang rajih dari Syafi’iyyah,dan Hanabilah) maka wasiyat tersebut sah, karena hadits:

لاَ وَصِيَّةَ لِوَارِثٍ إِلاَّ أَنْ يُجِيزَ الْوَرَثَةُ – أَخْرَجَهُ الدَّارَقُطْنِيّ

“Tidak boleh diberikan wasiat kepada ahli waris kecuali para ahli waris lainnya menyetujui,” (HR. Ad Daruquthni)

Jika sebagian ahli waris membolehkan, sementara sebagiannya tidak, maka batallah untuk bagian ahli waris yang tidak membolehkan tersebut, sementara yang membolehkan tetap bisa dilaksanakan.[2] Allahu A’lam. [M. Taufik. N.T]

Baca Juga:

 
[1] بَدَائِع الصَّنَائِع 7 / 369، والفواكه الدَّوَانِي 2 / 189، ومغني الْمُحْتَاج 3 / 46 ـ 47، والمغني 6 / 13

[2] الْبَدَائِع 7 / 337، وتبيين الْحَقَائِق 6 / 182 – 183، وحاشية الدُّسُوقِيّ 4 / 427 والقوانين الْفِقْهِيَّة ص411، ومغني الْمُحْتَاج 3 / 43، والمغني لاِبْنِ قُدَامَةَ 6 / 6

قال ابن عبد البر في التمهيد(14/307(

جمهور العلماء على أن الوصية لا تجوز لوارث على حال من الأحوال إلا أن يجيزها الورثة بعد موت الموصي فإن أجازها الورثة بعد الموت فجمهور العلماء على جوازها وممن قال ذلك مالك وسفيان والأوزاعي وأبو حنيفة والشافعي وأحمد وإسحاق وأبو ثور وقال ابن خواز بنداد اختلف أصحابنا في الوصية للوارث فقال بعضهم هي وصية صحيحة وللوارث الخيار في إجازتها أو ردها فإن أجازوا فإنما هو تنفيذ لما أوصى به الميت وقال بعضهم ليست وصية صحيحة فإن أجازوا فهي عطية منهم مبتدأة وقال المزني وداود وأهل الظاهر لا تجوز وإن أجازها الورثة وحسبهم أن يعطوه من أموالهم[ أ ] ما شاءوا وحجتهم أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: “لا وصية لوارث” ولم يقل إلا أن يجيزها الورثة وسائر العلماء من التابعين ومن بعدهم من الخالفين يجيزونها لأنهم يرونها عطية من الورثة بعضهم لبعض فلذلك[ ب ] اعتبروا فيها الجواز بعد موت الموصي لأنه حينئذ يصح ملكهم وتصح عطيتهم.

Posted on 3 November 2013, in Syari'ah. Bookmark the permalink. 4 Komentar.

  1. tanya ust, apa maksud dr ” maka batallah untuk bagian ahli waris yang tidak membolehkan tersebut,
    sementara yang membolehkan tetap bisa
    dilaksanakan.”

    Suka

    • maksudnya ahli waris yng tidak membolehkan tsb tidak mendapat bagian sesuai wasiat, namun bagiannya sesuai bagian hukum waris yg telah ditentukan syara’. Allahu A’lam

      Suka

  2. Assalammualaiakum ustaz ,apakah wasiat yang di terima almarhum bapa saya bisa di gugat oleh hak waris yang lain padahal mereka sebelumnya sudah menyetujuinya di atas materai..dan bapa saya juga termasuk hak waris juga .ceritanya ibu kandung bapa saya mewasiatkan rumah dan pekarangannya untuk almarhum bapa saya semasa bapa saya masih hidup tapi setelah bapa saya meninggal wasiat itu di gugat oleh sodara” bapa saya ..sedangkan bapa saya dan ibunya sudah meninggal,mohob solusinya apa yang harus saya lakukan

    Suka

    • Wa’alaikumussalaam…
      memperjelas maksudnya:
      misalkan
      A = ibunya bapak (nenek anda)
      B = Ayah anda
      C, D, E = saudara kandung ayah anda
      ===
      Jika B meninggal lebih dulu dari pada A, maka B tidak dapat warisan dari A, sebaliknya A yang mewarisi B.
      Jika A mewasiatkan harta pada B, C, D, dan E, menurut jumhur ‘ulama boleh, namun pelaksanaannya bergantung pada persetujuan B, C, D, dan E setelah wafatnya A.
      Jika setelah A wafat, ternyata C dan D tidak mau melaksanakan wasiat tsb, maka C dan D diberikan sesuai porsi hak waris mereka, sisanya jika memungkinkan tetap boleh menjalankan wasiat, setelah hak C dan D diberikan. Allaahu A’lam

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s