Keluarga Sakinah, Keluarga Teladan: Keluarga Pejuang

Tidak sedikit rumah tangga yang kehilangan orientasi kehidupannya, menganggap bahwa kemuliaan akan diperoleh dengan banyaknya harta dan anak-anak. Padahal Allah telah memberitahu hal ini dengan firman-Nya:

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (QS. Al Hadid: 20)

Ketika harta dunia dan kemegahan sudah menjadi prioritas utama dalam rumah tangga, maka teladan dalam rumah tanggapun bergeser, arah kehidupannya juga berubah. Tidak jarang orang yang awalnya begitu semangat memperjuangkan Islam, begitu berumah tangga akhirnya luruh semangat perjuangannya, kendor keterikatannya terhadap ketentuan Allah swt gara-gara khawatir akan kacaunya urusan dunianya, khawatir “kalau saya begini, bagaimana nasib anak istriku nanti?” atau mengharapkan gemerlapnya dunia dengan cara menerjang larangan-Nya, dengan alasan “jaman sekarang mencari yang haram saja susah, apalagi kalau harus yang halal?”. Kalau sudah begini bagaimana mungkin kemuliaan akan diraih? Padahal Allah menyampaikan bahwa kemuliaan hanya dapat diraih dengan ketaqwaan, bahkan seharusnya orientasi sebuah keluarga bukan hanya menjadikan keluarga yang bertaqwa, namun menjadikannya imam bagi orang-orang yang bertaqwa.

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Al Furqan : 74).

Yang namanya imam/pemimpin orang yang bertaqwa, tentunya tidak cukup hanya sekedar keluarga yang menjalankan shalat, puasa, haji, menjauhi makanan haram, menunaikan zakat, mendidik anak-anak dengan baik, namun juga harus tertanam rasa tanggung jawab terhadap nasib umat. Sebagaimana sabda Rasulullah saw:

الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Seorang imam adalah (laksana) penggembala dan dimintai tanggung jawab tentang gembalaannya. (HR. Al Bukhori)

Keluarga Rasulullah dan para sahabat merupakan teladan bagi siapa saja yang ingin mendapatkan kemuliaan dan keberkahan rumah tangga. Mereka bukan hanya taat dalam skala individual, namun mampu menjadi imam bagi orang-orang yang bertaqwa, mereka memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan menyebarkan risalah Islam ini.

Muadz bin ‘Amr setelah masuk Islam, beliau merasa bertanggung jawab mengajak ayahnya, ‘Amr Ibnul Jamuh, yang masih menyembah berhala, untuk masuk Islam. Setelah berupaya keras akhirnya ayahnyapun masuk Islam. Setelah masuk Islam, ‘Amr ibnul Jamuh merasa bertanggung jawab terhadap umat, walaupun beliau orang yang sangat pincang, dan Allah memberi keringanan kepada orang pincang untuk tidak ikut berperang (QS. Al Fath :17), beliau tetap ingin terjun dalam perang badar demi merindukan syahid. Ketika itu anaknya melobi Rasulullah agar mencegah niat bapaknya untuk ikut jihad dan Rasulullah melarangnya. Ketika datang seruan untuk perang uhud, dia berkata kepada anak-anaknya: ”kalian telah melarangku ikut dalam perang badar, maka janganlah melarangku untuk keluar dalam perang uhud”, anak-anaknya menjawab: “sesungguhnya Allah memberimu keringanan”. Kemudian Amr bin Al Jamuh mendatangi Rasulullah dan berkata : ”Wahai Rasulullah, sesungguhnya anak-anakku ingin menghalangiku keluar bersama engkau dalam urusan (perang)ini, demi Allah sesungguhnya aku berharap masuk surga dengan kepincanganku ini” Rasulullah berkata: “adapun engkau, Allah telah memaafkanmu (dari tidak berperang), maka tidak ada (kewajiban) jihad bagimu”. Dan Rasulullah berkata kepada anak-anak ‘Amr: “tidak ada hak bagi kalian untuk mencegahnya dari (berjihad) barangkali Allah akan memberi rizki syahid kepadanya. ‘Amr kemudian pergi dengan pedangnya, dan berdo’a: ‘Ya Allah, karuniakan kepadaku syahadah (mati syahid), dan jangan kembalikan aku kepada keluargaku dengan kegagalan (meraih syahid)’. Akhirnya ia memang syahid dalam perang uhud, dan Rasulullah bersabda: ‘demi dzat yang diriku dalam genggamannya, sungguh aku melihatnya memasuki surga dengan kepincangannya’ (Ibnul Atsiir (wafat 606 H), Usudul Ghoobah, 2/343, Maktabah Syaamilah).

Begitu pula keluarga Al-Khansa’ (Tamadhar binti Amru bin al-Haris bin asy-Syarid), karena tanggung jawabnya terhadap umat, beliau menyemangati putra-putranya untuk membela Islam. Ketika Mutsanna bin Haritsah asy-Syaibani berangkat ke Qadisiyah di masa Amirul Mukminin Umar bin Khaththab ra, Khansa’ berangkat bersama keempat putranya untuk menyertai pasukan tersebut. Di medan peperangan, di saat malam ketika para pasukan sedang siap berperang satu sama lain, Khansa’ mengumpulkan keempat putranya untuk memberikan pengarahan kepada mereka dan mengobarkan semangat kepada mereka untuk berperang dan agar mereka tidak lari dari peperangan serta agar mereka mengharapkan syahid di jalan Allah SWT. Dan atas idzin Allah, keempat putranya mendapatkan kemuliaan syahid di jalan Allah.

Ketika berita syahidnya empat bersaudara itu sampai kepada ibunya yang mukminah dan sabar, beliau tidaklah menjadi goncang ataupun meratap, bahkan beliau mengatakan suatu perkataan yang masyhur yang dicatat oleh sejarah dan akan senantiasa diulang-ulang oleh sejarah sampai waktu yang dikehendaki Allah, yakni:

الحمد لله الذي شرفني بقتلهم، وأرجو من ربي أن يجمعني بهم في مستقر رحمته

“Segala puji bagi Allah yang memuliakan diriku dengan syahidnya mereka, dan aku berharap kepada Rabb-ku agar Dia mengumpulkan diriku dengan mereka dalam rahmat-Nya”.

Inilah beberapa contoh keluarga yang mulia, keluarga yang menjadikan kemuliaan akhirat sebagai tujuan sekaligus poros hidup mereka. [mtaufiknt]
*) potongan tulisan, kado dari penulis untuk  pernikahan dr. Fauzan, di cetak dalam buku “the last stage of the last jomblo” – tanpa ada tulisan arabnya, judul tdk sama dg di buku.

Baca Juga:

Posted on 24 Mei 2013, in Rumah Tangga. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s