Hukum Genjatan Senjata

Hukumnya boleh dengan syarat adanya kemashlahatan berkaitan dengan jihad atau dakwah juga ada batasan waktunya.

Melakukan genjatan senjata antara kaum muslimin dan kafir hukumnya adalah jawaz (boleh), karena Rasulullah pernah melakukan itu dengan suku Quraisy pada tahun Hudaibiyah. Namun dibolehkannya genjatan senjata harus dilandasi kemaslahatan yang berkaitan dengan jihad atau penyebaran dakwah. Hal itu karena Rasulullah sebelum berangkat ke Hudaibiyah mendapatkan kabar bahwa terjadi kesepakatan antara kaum Khaibar dan kaum Makkah untuk memerangi umat Islam. Sekembalinya dari Hudaibiyah, beliau berinisiatif menyerang Khaibar dan mengutus beberapa utusan kepada para raja dan pemimpin, menyeru kepada mereka untuk masuk Islam. Ini menunjukkan bahwa genjatan senjata Hudaibiyah demi kepentingan jihad dan penyebaran dakwah. Karena, dengan berdamai dengan suku Quraisy, beliau bisa berkonsentrasi untuk memerangi Khaibar dan menyebarkan dakwah terhadap para pemimpin dan kepala suku. Jika tidak ada unsur kemaslahatan seperti diatas, maka tidak diperbolehkan melakukan perdamaian, karena hal itu berarti meninggalkan peperangan yang diwajibkan, dan itu tidak boleh kecuali dalam kondisi tertentu untuk melakukan strategi. Dengan begitu, peperangan lebih terarah. Allah berfirman;

فَلَا تَهِنُوا وَتَدْعُوا إِلَى السَّلْمِ وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ وَاللَّهُ مَعَكُمْ وَلَنْ يَتِرَكُمْ أَعْمَالَكُمْ

“janganlah kalian lemah dan minta damai padahal kalianlah yang di atas dan Allah (pun) beserta kalian, dan Dia sekali-kali tidak mengurangi (pahala) amal-amal kalian”(Q.S. Muhamad: 35).

Ketika sudah dipastikan ada unsur kemaslahatan untuk genjatan senjata, maka harus ditentukan lamanya masa genjatan senjata. Tidak boleh tanpa menentukan batas waktu. Karena, genjatran senjata sifatnya temporal. Dengan tanpa menyebutkan jangka waktu, genjata senjata dianggap tidak sah, karena itu berarti melanggengkan genjatan senjata. Dan itu tidak boleh terjadi, sebab akan menghalangi jihad yang sifatnya wajib. Penetapan jangka waktu termasuk syarat sahnya genjatan senjata. Jika tidak ada, maka perjanjian itu menjadi batal. Dalam perjanjian Hudaibiyah telah ditentukan jangka waktunya.

Ketika telah terjadi kesepakatan genjatan senjata dan sah, maka kita harus menahan diri melakukan penyerangan terhadap mereka dan menjalankan kesepakatan ini sampai habisnya masa, atau mereka melanggar kesepakatan itu. Pelanggaran itu bisa dengan pernyataan mereka, penyerangan terhadap kita, membunuh seorang muslim atau dzimmi di wilayah kita, atau melakukan tindakan yang menyalahi syarat-syarat genjatan senjata dan tindakan itu tidak diingkari oleh yang lain, baik dengan ucapan atau perbuatan. Kalau itu terjadi, maka batallah perjanjian damai itu. Demikian pula, ketika negara khawatir akan penghianatan mereka melakukan tindakan-tindakan yang merusak kesepakatan itu, karena ada indikasi-indikasi kuat yang mengarah kesana. Maka ini bisa dikategorikan melanggar perjanjian damai itu. Dan jika itu terjadi, maka boleh kita menyerang mereka kapanpun, siang atau malam. Karena dengan melanggar kesepakatan, berarti mempersilahkan kaum muslimin menyerang mereka dan mencabut perjanjian damai dengan mereka. Karena, Rasululloh saw. sepakat berdamai dengan suku Quraisy. Tetapi kemudian dilanggar sendiri oleh mereka, maka halal bagi beliau apa yang sebelumnya dilarang. Lalu beliau menyerang mereka dan menaklukkan kota Makkah.

Genjatan senjata adalah perjanjian temporal, akan selesai dengan berakhirnya masa atau dengan merusak perjanjian itu. Allah berfirman:

فَمَا اسْتَقَامُوا لَكُمْ فَاسْتَقِيمُوا لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ

“maka, selama mereka berlaku lurus terhadap kalian, hendaklah kalian berlaku lurus (pula) terhadap mereka” (Q.S. At-Taubah: 7), juga firman Allah,

وَإِمَّا تَخَافَنَّ مِنْ قَوْمٍ خِيَانَةً فَانْبِذْ إِلَيْهِمْ عَلَى سَوَاءٍ

“dan jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur” (Q.S. Al-Anfal; 58), dan juga

وَإِنْ نَكَثُوا أَيْمَانَهُمْ مِنْ بَعْدِ عَهْدِهِمْ وَطَعَنُوا فِي دِينِكُمْ فَقَاتِلُوا أَئِمَّةَ الْكُفْرِ إِنَّهُمْ لَا أَيْمَانَ لَهُمْ لَعَلَّهُمْ يَنْتَهُونَ

“jika mereka merusak sumpah (janjinya) sesudah mereka berjanji, dan mereka mencerca agama kalian, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya, agar supaya mereka berhenti” (Q.S. At-Taubah: 12).

Ketika musuh merusak dan tidak mengindahkan kesepakatan dalam tindakan-tindakanya bersama kita, berarti mereka telah menghalalkan kepada kita. Darah dan harta mereka menjadi halal dan kita wajib memeranginya, kitapun wajib membalasnya saat mereka menyerang kita, kita cabut perjanjian damai saat mereka melanggarnya. Allahu A’lam. [M. Taufik. N.T]

Sumber: Syakhsiyyah Islamiyyah Juz II

Baca Juga:

Posted on 5 Desember 2012, in Fiqh, Perang/Jihad, Syari'ah. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s