Hizbut Tahrir, Muktazilah?

Soal:

Siapa sebenarnya Muktazilah? Apa dan bagaimana ciri khasnya? Benarkah Hizbut Tahrir sama dengan Muktazilah? Ada apa sebenarnya di balik tuduhan Hizbut Tahrir Muktazilah?

Jawab:

Muktazilah (mu‘tazilah) secara harfiah berarti kelompok yang terisolir (i‘tizâl)[1]. Secara terminologis, pendapat yang paling masyhur dan kuat menyatakan bahwa istilah mu‘tazilah (muktazilah) digunakan untuk menyebut Washil bin ‘Atha’ dan para pengikutnya yang diisolir oleh gurunya, Hasan al-Bashri, akibat isu al-manzilah bayn al-manzilatayn[2]. Muktazilah kadangkala disebut dengan Qadariah, karena isu al-qadr yang dikemukakan oleh mazhab ini[3].

Dalam dua versi laporan Ibn al-Nadim dikatakan: Pertama, Muktazilah adalah sebutan yang diberikan oleh pengikut Hasan al-Bashri kepada Washil[4]. Laporan ini populer di kalangan Ahlus Sunnah, seperti yang ditulis al-Baghdadi[5]. Kedua, Muktazilah adalah sebutan yang digunakan setelah zaman Hasan al-Bashri, tepatnya oleh Qatadah (w. 117 H/738 M) untuk menyebut Amr bin Ubaid dan para pengikutnya. Amr menyatakan kepada para pengikutnya, bahwa kata i‘tizâl telah digunakan dalam al-Quran sebagai sifat yang dipuji oleh Allah sehingga nama ini mereka terima. Laporan yang terakhir inilah yang diterima oleh sumber Muktazilah, seperti yang tampak dalam statemen Abd al-Jabbar, dalam An-Nasysyâr, “Setiap kata al-i‘tizâl yang dinyatakan dalam al-Quran maksudnya adalah melepaskan diri dari kebatilan sehingga secara pasti dapat diketahui, bahwa kata al-i‘tizâl ini adalah terpuji (baik).[6]

Al-Baghdadi kemudian membagi Muktazilah menjadi dua puluh dua aliran: (1) Washiliyah; (2) Amrawiyah; (3) Hudhayliyah; (4) Nazzamiyyah; (5) Aswariyah; (6) Ma‘mariyah; (7) Iskafiyah; (8) Ja‘fariyah; (9) Bisyriyyah; (10) Murdariyyah; (11) Hisyamiyyah; (12) Thumamiyah; (13) Jahiziyah; (14) Khabitiyah; (15) Himariyah; (16) Khayatiyah; (17) Murisiyah; (18) Syahammiyah; (19) Ka‘biyah; (20) Jubba’iyah; (21) Basyamiyah; (22) Shalihiyah. Dua dari aliran tersebut, menurut al-Baghdadi, merupakan kelompok ekstrem. Mereka adalah Khabitiyah dan Himariyah. Adapun dua puluh yang lain adalah Qadariyah murni[7].

Secara umum, menurut al-Khayyath (w. 298 H), kelompok tersebut belum layak disebut Muktazilah jika tidak memenuhi lima prinsip pokok. Lima prinsip pokok tersebut, yang dikenal dengan ushul al-khamsah, adalah: tawhîd; al-‘adl (keadilan); al-wa‘d wa al-wa‘îd (janji dan ancaman); al-manzilah bayn al-manzilatayn (kedudukan di antara dua kedudukan); dan al-amr bi al-ma‘rûf wa al-nahy ‘an al-munkar (amar makruf dan nahi munkar).[8]

Secara detail, pandangan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Tauhid: Allah Swt. adalah Zat Yang Mahaesa, Qadîm (Mahadulu), sementara selain Dia adalah baru (muhdats). Dari sini maka zat dan sifat Allah harus sama-sama Qadîm, yakni hanya satu; tidak terpisah satu sama lain. Sebab, kalau tidak, pasti akan ada dua yang Qadîm, yaitu zat dan sifat. Padahal, yang Qadîm harus satu, dan itulah Allah.[9]

2. Keadilan: seluruh perbuatan Allah adalah baik dan adil. Allah tidak akan melakukan perbuatan buruk dan zalim[10]. Karena itulah, mereka menafikan qadar. Mereka menyatakan bahwa manusia bebas melakukan apa saja sesuai dengan kehendaknya (hurriyah al-iradah) dan dia akan bertanggung jawab di hadapan Allah kelak[11].

3. Janji dan ancaman: Allah Maha Menepati janji dan ancaman-Nya. Janji berkaitan dengan kebaikan, seperti pahala dan surga, sedangkan ancaman berkaitan dengan keburukan, seperti dosa dan neraka.[12]

4. Manzilah bayn manzilatayn (status di antara dua kedudukan): Orang yang melakukan dosa besar tidak boleh disebut Mukmin atau kafir, tetapi fasik. Karena itu, status fasik merupakan kedudukan ketiga, di luar konteks iman dan kufur.[13]

5. Amar makruf nahi munkar: Amar makruf nahi munkar adalah kewajiban; masing-masing sesuai dengan kadar kemampuannya; bisa dengan senjata dan non-fisik. Jika dengan senjata maka di situlah hukum jihad berlaku.[14]

Inilah beberapa pandangan (maqâlât) yang mereka sepakati. Selain itu, pandangan mereka berbeda-beda. Mengenai para tokohnya, antara lain, adalah Ghaylan ad-Dimasyqi dan Washil bin Atha’. Ghaylan terkenal dengan pandangannya tentang al-qadr, sedangkan Washil terkenal dengan pandangannya tentang al-manzilah bayn al-manzilatayn. Abu Hudhail al-‘Allaf dengan muridnya dan Basyar bin al-Mu‘tamir terkenal dengan konsepnya mengenai tawallud.[15] Tokoh lain adalah Abu Ali al-Jubba’i dan al-Khayyath penulis buku al-Intishâr. Tokoh Muktazilah yang terakhir adalah ‘Abd al-Jabbar, murid Abu Hasyim al-Jubba’i, anak Ali al-Jubba’i[16].

Selain beberapa pandangan di atas, hal lain yang paling menonjol adalah penggunaan akal sehingga muncul kesan seolah-olah Muktazilah adalah kelompok yang mendewakan akal. Padahal, dalam kasus ini, bisa dikatakan semua ahli kalam menggunakan akal. Bahkan, dalam kasus ini tidak bisa dipilah lagi, mana Muktazilah, Jabariah dan Ahlus Sunnah. Inilah secara umum tentang potret Muktazilah sebagai mazhab akidah.

Dari sini, jelas bahwa Hizbut Tahrir berbeda dengan Muktazilah.

Pertama: dalam konteks tauhid, khususnya yang terkait dengan sifat dan zat Allah. Hizbut Tahrir berpandangan, bahwa persoalan sifat dan zat Allah tidak bisa dikatakan satu, yakni sifat dan zat-Nya adalah sama; atau dikatakan berbeda, yakni sifat dan zat (mawshûf)-Nya jelas tidak sama, sebagaimana pendapat mazhab Ahlus Sunnah (dalam hal ini Asy’ariyyah). Yang benar menurut Hizb, persoalan ini tidak perlu dibahas, karena masing-masing sama-sama berangkat dari asumsi yang dibangun berdasarkan logika mantik, bukan fakta yang sesungguhnya, sementara ‘fakta’ tentang Allah jelas tidak bisa dijangkau oleh akal manusia. Karena itu, pembahasan tentang zat dan sifat Allah harus dihentikan, dengan kata lain, tidak perlu dibahas.

Kedua: dalam konteks keadilan Allah, yang berujung pada hurriyah al-irâdah, tawallud, dan sebagainya, Hizbut Tahrir justru telah mampu mendudukkan persoalan tersebut dengan tepat dan akurat. Pertama-tama, yang harus dijadikan sebagai obyek pembahasan adalah perbuatan manusia, bukan perbuatan Allah. Setelah itu, diketahui bahwa perbuatan manusia itu ternyata ada dua: mujbar (dipaksa) dan mukhayyar (tanpa paksaan). Dalam konteks yang pertama, di situlah wilayah Qadha’ Allah, sedangkan yang kedua tidak. Pada wilayah yang kedua itulah, manusia bebas menentukan pilihannya, dan karenanya kemudian dia akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Meski demikian, dalam konteks yang pertama dan kedua, perbuatan manusia selalu terikat dengan sesuatu berikut khashiyah-nya, di situlah wilayah Qadar, dalam konteks Qadha’ dan Qadar, dimana baik dan buruknya bersumber dari Allah.

Ketiga: masalah manzilah bayna manzilatayn yang sesungguhnya merupakan kongklusi logika mantik, dalam logika Hizb, tidak akan pernah ada dan dibahas, karena memang merupakan sesuatu yang tidak bisa dibahas oleh akal manusia.

Keempat: tentang pengagungan akal, justru Hizbut Tahrirlah yang mampu merumuskan batasan akal dengan tepat. Persoalan ini notabene belum mampu dilakukan oleh Muktazilah, Jabariah maupun Ahlus Sunnah. Akibatnya, mazhab-mazhab tersebut terjebak dalam perdebatan yang tak berujung, termasuk tentang sifat Allah, serta Qadha’ dan Qadar.

Dengan demikian, dari mana logikanya Hizbut Tahrir dikatakan Muktazilah? Jelas tidak ketemu, sebagaimana tuduhan sejenis yang lain, seperti Hizbut Tahrir adalah Wahabi, dan sebagainya. Tuduhan seperti ini mencerminkan dua hal sekaligus: kebodohan dan kejahatan penuduhnya. Dikatakan bodoh, karena jelas dia tidak memahami fakta Muktazilah dan Hizbut Tahrir. Dikatakan jahat, karena kalau dia memahami fakta masing-masing kelompok tersebut, maka tujuannya jelas adalah untuk mengaburkan fakta Hizbut Tahrir, dan menciptakan stigma terhadap Hizbut Tahrir. Tujuannya supaya Hizbut Tahrir dijauhi dan ditinggalkan oleh simpatisan dan masyarakat awam, yang kini tengah berjibaku dengannya untuk mewujudkan kembali kehidupan Islam di tengah-tengah mereka. Artinya, mereka ingin mengeluarkan Hizbut Tahrir dari pergaulan masyarakat, dikucilkan dan bahkan dimusuhi oleh umat. Itulah niat jahat mereka. Wallâhu a‘lam, wahuwa Rabb al-musta‘ân. []

Baca Juga:

[1] Ibn Manzhur, Lisân, XI/440.

[2] Al-Syahrastani, Al-Milal, hlm. 22; al-Jurjani, At-Ta‘rîfât, hlm. 282.

[3] Al-Baghdadi, Al-Farq, hlm. 131; asy-Syahrastani, Ibid, hlm. 22.

[4] Ibn al-Nadîm, Al-Fihrist, hlm. 282.

[5] Al-Baghdâdi, Al-Farq, hlm. 40-41.

[6] Al-Nasysyâr, Al-Nasy’ah, I/379.

[7] Al-Baghdadi, Ibid, hlm. 131.

[8] Al-Khayyath, Al-Intishâr, 12; al-Mas’udi, Murûj adz-Dzahab, VI/23; ‘Abd al-Jabbar, Syarh al-Ushûl, hlm. 125-126.

[9] Lebih jelas, lihat: ‘Abd al-Jabbar, Syarh al-Ushûl, hlm. 128-129 dan 131.

[10] Abd al-Jabbâr, Syarh al-Ushûl, hlm. 133.

[11] Al-Khayyath, al-Intishâr, hlm. 13.

[12] Ibid, hlm. 134-135.

[13] Abd al-Jabbar, Syarh al-Ushûl, hlm. 39-140; al-Khayyath, Al-Intishâr, hlm. 13.

[14] Ibid, hlm. 141.

[15] Lebih jelas, lihat: ‘Abd al-Jabbar, Syarh, hlm. 424; Ibn al-Nadim, Al-Fihrist, hlm. 286-287; al-Asy‘ari, Maqâlât, II/87-88.

[16] Keterangan ini sebagaimana ditulis oleh ‘Adnan Muhammad Zarzur, dosen Universitas Damaskus, Syiria, editor buku Mutasyâbih al-Qur’ân, karya ‘Abd al-Jabbar. Lihat: ‘Abd al-Jabbar, Mutasyâbih, hlm. 14.

Iklan

Posted on 5 Desember 2012, in Afkar, Aqidah. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. versi yang saya baca , Wasil bin Atha bukan diisolir tetapi mengisolir diri (memisahkan diri,) dalam bahasa historisnya i’tazala ‘anna….dan ulun minta, batasan akal yang mana versi hizb tahrir,,,,,antum, harus melihat rumusan akal menurut muktazilah, asy’ariyah, maturidiyah, syiah, sehingga bisa mengatakan bahwa hanya hizb tahrir yang mampu memberikan konsep akal,,,,,maksud ulun jangan terlalu “wah” dalam memberikan kesimpulan sebelum meneliti…
    dan yang terakhir…..Muktazilah sangat luar biasa sumbangannya terhadap ISlam,…..dan ulun tidak sepakat jika ada yang mengkafirkan bahkan menyesatkan muktazilah…..itu adalah sebuah sejarah orang-orang yang berani menentang dogma….

    Suka

  2. Artikel ini tampaknya bukan bertujuan untuk membahas persoalan, tetapi mecoba melarikan diri dari fakta-fakta, dan mengalihkan substansi.

    ==
    Komentar: Memang. Ketika persoalan itu diluar jangkauan akal, HT berupaya menjelaskan masalah tsb, lalu menganjurkan agar masalah tsb tdk dibahas dg pembahasan aqly krn memang aqal tdk sanggup menjangkaunya, seperti permasalahan sifat Allah berikut:https://mtaufiknt.wordpress.com/2010/05/01/sifat-allah/
    ==

    Pertama, istilah diisolir mendistorsi fakta sejarah bagaimana kejadian sebenarnya berlangsung. Minimal itu bisa dilihat dari ungkapan sederhana: mana Subjek (Fail) dan mana Objek (maf’ul). I’tazala bukan isolasi tetapi memisahkan diri; keluar dari suatu kelompok (baik dalam bentuk fisik, misalnya dari barisan, dan ini yang paling umum) atau nonfisik.

    ==
    Komentar: Anda sepertinya lebih tepat, memang yang saya baca Washil lah yang memisahkan diiri dari halaqahnya al Hasan al Bashri
    ==

    Kedua, persoalan dengan Mu’tazilah, Wahabi, atau Syiah tidak semata-mata persoalan Ilmu Tauhid (garis bawahi kata ILMU, yaitu pengertian-pengertian dan konsep-konsep), tetapi juga berkaitan dengan persoalan sosial politik. Jadi, jika ada orang yang coba memperbandingkan satu gerakan dengan gerakan yang lain, tidak melulu poin perbandingannya adalah soal ideologi (akidah). Bisa saja poinnya pada cara, sikap, metode, gagasan-gagasan, dll.

    ==
    Komentar: Memang bisa saja. hanya saja kalau perbandingannya bukan pada hal mendasar yang menjadi pembeda, maka ungkapan “menyamakan/menyerupakan” tersebut haruslah ditaqyid dalam hal apa. Dan penyerupaan kalau terhadap hal yang tidak pada hal mendasar yang menjadi pembeda akan kehilangan makna penyerupaan tsb. Seperti orang menyatakan, “malaikat itu sama dengan iblis”, dengan maksud menyatakan sama-sama makhluq Allah, sama-sama ghaib, sama-sama berumur panjang. “Islam dengan Nashrani dan Yahudi itu sama”, krn sama-sama agama samawi,…, “manusia sama dengan monyet”…..tentunya ungkapan seperti ini, bisa dibilang “ngawur” walaupun ada benarnya.

    Namun akan lebih tepat kalau ketika menisbahkan sesuatu kepada sesuatu yang lain itu karena memandang hal mendasar dan pokok perbedaan, bukan sekedar cabangnya.
    ==

    Misalnya, dalam sejarah Khilafah Islam, fakta yang berlangsung adalah sistem monarki. Salah satu pandangan Muktazilah, ia harus dipilih oleh rakyat secara adil, bukan dengan cara turun-temurun. Sunni diam dalam hal bagaimana proses keterpilihannya, tetapi menyatakan bahwa penguasa yang ada tidak boleh ditentang (dimakzulkan), karena khawatir pertumpahan darah terjadi. Kekhawatiran itu bukan kira-kira atau asumsi, tetapi berdasarkan fakta sebelumnya yang terjadi.

    ==
    Komentar: Saya tidak sepakat dlm hal ini. Ada perbedaan mendasar antara monarki dg sistem khilafah, coba dikaji ulang.
    Ahlus sunnah juga berpendapat bahwa khalifah harus dipilih oleh rakyat dg suka rela. https://mtaufiknt.wordpress.com/2011/03/02/sunnah-nabi-saw-atau-sunnah-hiraqlius-kaisar/

    Memang Al-Imam Abu Ja’far al-Thahawi (Ulama Sunni) menyatakan dalam al-’Aqidah al-Thahawiyyah, bahwa Ahlussunnah Wal-Jama’ah tidak memiliki konsep menggulingkan pemerintahan yang sah, meskipun mereka telah berbuat kezaliman. Akan tetapi ini adalah dalam sistem pemerintahan Islam yang memberlakukan hukum syara’, adapun kalau mau mengubah sistem dg menerapkan hukum kufur, maka menurut Ibnu Katsir (Ulama Sunni) bahwa jika pemerintah Islam mengganti atau mencampur syari’at Islam dengan syari’at lain, maka wajib untuk dilengserkan. Tafsiyr Al-Qur-aan Al-’Azhiym (tafsir Ibn Katsir) juz 3 hlm 131.

    Insya Allah nanti saya posting ttg hal ini.
    ==

    Toh, fakta juga, ketika Muktazilah di jalur kekuasaan, mereka sendiri justru refresif (lihat kasus Imam Ahmad) dan tidak melangsungkan gagasan mereka tentang pemilihan secara adil.

    ==
    Komentar: ya, itulah kekeliruan penerapan syari’ah yg terjadi, tidak hanya mu’tazilah, khalifah dari kalangan ahlus sunnah juga tdk luput dari kesalahan, krn mrk tdk maksum. tolong juga dibandingkan dg sistem selain Islam. https://mtaufiknt.wordpress.com/2010/01/27/ketidakadilan-berpikir-bertanya/
    ==

    Mungkin saja, HT dikaitkan dengan Muktazilah pada poin bagaimana mengambil alih tampuk kekuasaan itu.

    Ketiga, persoalan di atas menurut HT tidak perlu dibahas. Itu sama saja melarikan diri dari fakta. Jelas-jelas masalah itu ada, dan berkaitan dengan kehidupan. Mungkin saja benar ia tidak perlu dibahas dalam segi BERTAUHID, tetapi di dalam BERILMU TAUHID ia ada. Ada ayat-ayat dan hadis-hadis yang perlu dipahami dalam kerangka itu. Bagaimana HT menjelaskan ayat Wallahu khalaqakum wa ma ta’malun dalam kerangka sifat Mahaadil Allah, misalnya? Bagaimana HT membaca ayat Yadullahi fawqa Aydihim atau Faaynama tuwallu fa Tsamma Wajhullah? Tidak perlu dibahas. Buang aja ayat-ayat itu jika demikian.

    Benar ia tidak dibahas dalam kehidupan individual sehari-hari dan tidak perlu. Tapi bagaimana di lembaga-lembaga pendidikan, bidang-bidang kajian Tafsir, Ulumul Qur’an, dst.

    Persoalan terbesar pada kelompok-kelompok Islam umumnya dalam bidang ini: mereka tidak mau membedakan antara TAUHID dan ILMU TAUHID; ISLAM dan ILMU ISLAM; ILMU SHALAT (FIQIH) dan SHALAT. Tidak semua pembahasan dalam bab Shalat itu dipraktikkan. Tapi ia penting dan harus dibahas.

    ISLAM tentu untuk orang Islam, tapi ILMU ISLAM mungkin saja dipelajari oleh non-Muslim. setiap Muslim wajib shalat 5 waktu, tetapi tidak semuanya harus belajar ILMU Shalat hingga sedetail-detailnya. Itulah maksud ayat Tafaqquh Fiddin.

    Jadi batasan AKAL yang hebat dari HT itu apa ya? Lari dari fakta begitukah maksudnya?


    ==
    Komentar: Di HT juga dibahas lho hal-hal tersebut, sekedar mengungkapkan pandangan berbagai pihak, namun kalau sudah menyangkut Dzat Allah, Shifat Allah dikaitkan dg Dzatnya… itu hanya disampaikan saja, selanjutnya dilarang membahas itu

      dg pembahasan menggunakan akal

    , bukan berarti membuang ayat. Tentang ayat “yadullaahi fawqa aydiihim” sudah cukup para ahli tafsir membahasnya, di kitab syakhsiyyah juz 3 juga ada, kalau ada ikhtilaf itu juga sudah dijelaskan dengan baik misalnya oleh syaikh Thahir bin Shalih Al Jazairi dalam al jawaahiru al kalamiyyah, yang jelas Allah itu berbeda dengan makhluq, dan ikhtilaf dlm hal ini asal masih tidak menyerupakan Allah dengan makhluq ya tdk perlu diperuncing,… itu saja cukup dlm membahas ayat-ayat seperti ini dan yang semisal.

    Akal itu hanya bisa berfungsi syarat berfikir itu terpenuhi, kalau tidak terpenuhi satu syarat saja, maka akal tdk bisa digunakan dan kalau dipaksakan maka muncul banyak pertentangan yang seolah-olah semua masuk akal. https://mtaufiknt.wordpress.com/2010/11/14/berpikir-definisi-syarat-metode-aqliyyah-dan-ilmiyyah/

    Kalau disebut melarikan diri ya monggo, kami cuma menjelaskan jalan/metode berpikir yang selamat saja, kalau misalnya sudah dijelaskan bahwa didepan ada “jurang” yang dalam lalu kita tidak melewati jurang tsb lalu dibilang menghindar atau lari dari fakta ya nggak masalah. Lha Rasul saja ketika ditanya “kapan hari kiamat” beliau “lari/menghindar” dengan balik bertanya :”apa yag sudah engkau persiapkan untuk menghadapinya?”. Allahu A’lam.
    ==

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s