Musafir Menjadi Imam/Makmum Bagi Penduduk Asli

Oleh: M. Taufik N.T

1. Musafir Menjadi Makmum, Orang Yang Muqim Menjadi Imam

Dalam kasus ini, menurut pendapat jumhur imam madzhab, yakni Imam Abu Hanifah, Asy Syafii dan Ahmad, musafir wajib shalat dengan sempurna, tidak diringkas/di qoshor. Namun musafir masih bisa menjama (menggabungkan shalat). Imam Malik dalam Al Muwaththa’ meriwayatkan bahwa shahabat Abdullah ibnu Umar r.a shalat di belakang imam di Mina (penduduk lokal) empat rakaat dan apabila ia shalat sendirian, ia mencukupkan dengan dua rakaat saja.

2. Musafir Menjadi Imam, Orang Yang Muqim Menjadi Makmum.

Dalam hal ini, musafir boleh shalat sempurna (tanpa di qoshor), namun jika musafir mengqoshor shalatnya, maka makmum harus menambah kekurangan raka’atnya tersebut setelah imam salam.

Imam Abu Dawud meriwayatkan bahwa pada saat Fathu Makkah (th 8 H), Nabi SAW tinggal di Makkah selama 18 malam dan mengimami shalat dua-dua rakaat. Kemudian Nabi SAW bersabda kepada penduduk Makkah (yang tidak bersafar),”Hai penduduk Makkah, shalatlah kamu sekalian dua rakaat lagi. Sebab kami adalah orang-orang yang sedang dalam safar.” (HR Abu Dawud, lihat Ibnu Qudamah, Al Mughni, Juz I, hal. 130). Allahu A’lam

Posted on 14 Agustus 2012, in Ibadah and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s