Homoseksual dan Maqoshid as Syari’ah

Menurut Ridho Triawan, pengurus LSM Arus Pelangi, sebuah yayasan yang menaungi lesbian, gay, waria dan transjender, setidaknya ada 5000 gay serta lesbian yang hidup di Jakarta.[1]

Menurut perkiraan para ahli dan Badan PBB dengan memperhitungkan jumlah penduduk lelaki dewasa, jumlah LSL (Lelaki berhubungan Seks dengan Lelaki) di Indonesia saat ini diperkirakan lebih dari tiga juta orang. Sedangkan berdasarkan perkiraan tahun 2009, angkanya hanya sekitar 800 ribu, di mana 60 hingga 80 ribu di antaranya berada di Jakarta. (healt.kompas.com)

Homoseksual, disamping merupakan bahaya terhadap kelangsungan populasi umat manusia, juga merupakan perbuatan yang melampaui batas. Allah swt berfirman berkaitan dengan kaumnya nabi Luth yang melakukan homoseks:

أَتَأْتُونَ الذُّكْرَانَ مِنَ الْعَالَمِينَ – وَتَذَرُونَ مَا خَلَقَ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ عَادُونَ

“Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia, dan kamu tinggalkan istri-istri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas”. (Asy Syu’araa’ 165 – 166)

Kerusakan perilaku seksual kaum Luth ini juga ditegaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي عَمَلُ قَوْمِ لُوطٍ

“Sesungguhnya hal yang paling aku takutkan menimpa umatku adalah perbuatan kaum Luth.” (HR at-Tirmidzi, al-Hakim, Ibn Majah).

Melakukan homoseksual jelas sebuah kerusakan, namun pemujaan, penghormatan dan pemberian penghargaan kepada pelaku homoseksual merupakan kerusakan yang lebih besar lagi.

Aktivis liberal, Nong Darol Mahmada pernah menulis artikel di Jurnal Perempuan (edisi khusus Lesbian, 2008) berjudul:Irshad Manji, Muslimah Lesbian yang Gigih Menyerukan Ijtihad. Katanya: ”Manji sangat layak menjadi inspirasi kalangan Islam khususnya perempuan di Indonesia.”

Dan kerusakan akan lebih besar lagi jika pembelaan terhadap propaganda homoseksual dikaitkan dengan Islam, bahkan dicari pembenarannya dalam Islam. Dari Ziyad bin Hudair, ia berkata, Umar r.a telah berkata kepadaku:

هَلْ تَعْرِفُ مَا يَهْدِمُ الإِسْلاَمَ؟ قَالَ قُلْتُ : لاَ. قَالَ : يَهْدِمُهُ زَلَّةُ الْعَالِمِ وَجِدَالُ الْمُنَافِقِ بِالْكِتَابِ وَحُكْمُ الأَئِمَّةِ الْمُضِلِّينَ

Apakah kamu tahu apa yang merobohkan Islam? Ia (Ziyad) berkata, aku berkata: Tidak. Ia (Umar) berkata: Yang merobohkan Islam adalah tergelincirnya orang alim (ulama), bantahan orang munafik dengan al-Qur’an, dan keputusan pemimpin-pemimpin yang menyesatkan. (Riwayat ad-Darimi, dan berkata Syaikh Husain Asad: isnadnya shahih).

Sungguh, kemaksiatan adalah pangkal kerusakan, namun propaganda untuk melakukan kemasiyatan adalah lebih besar, dan propaganda untuk melegalkan kemaksiyatan jika dilakukan oleh “’ulama” dan di ‘stempel’ dengan kebijakan penguasa yang membuat peraturan yang rusak tentunya lebih besar lagi.

Adalah patut disayangkan jika Prof. Dr. Siti Musdah Mulia — guru besar UIN Jakarta, dalam sebuah diskusi yang diadakan di Jakarta hari Kamis 27 maret 2008, mengeluarkan pernyataan bahwa homoseksual dan homoseksualitas adalah kelaziman dan dibuat oleh Tuhan, dengan begitu diizinkan juga dalam agama Islam. Tak hanya itu, Siti Musdah melanjutkan bahwa sarjana-sarjana Islam moderat mengatakan tidak ada pertimbangan untuk menolak homoseksual dalam Islam, dan bahwa pelarangan homoseks dan homoseksualitas hanya merupakan tendensi para ulama.[2]

Yang lebih mengkhawatirkan lagi, saat ini berkembang pengkaburan pemahaman al Qur’an, menurut pendukung homoseksual, para ahli hukum Islam selama seribu tahun lebih telah salah paham dalam soal penafsiran kisah Luth, menurut mereka selama ini pelarangan terhadap praktik homoseksual itu merupakan kekeliruan dalam menafsirkan Alquran. Padahal, katanya, kaum Luth dihukum oleh Allah, bukan karena mereka homo, tetapi karena mereka kafir dan membangkang. Ditambah lagi dengan logika asal-asalan yakni, kalau kaum nabi luth disiksa karena homo, lalu kenapa sekarang kaum homo tidak disiksa?.

Sebagaimana yang dilakukan seorang tokoh partai yang berwarna Islam (walau sudah jadi partai terbuka), yang berkaitan dengan Manji, dalam akun twiternya menyatakan, antara lain:

1. Secara subtantif UUD45 sudah menjamin kebebasan berpendapat (#freedomofspeech) jadi diskusi apapun bebas. #Polisi.

2. Jangan kan negara Tuhanpun membela #freedomofspeech. Salah satu tujuan syariat adalah hifdzul al aql (memilihara akal)

3. Kalau Tuhan aja membiarkan setan hidup kok kita menentang#freedomofspeech ? Negara harus dilarang membatasi kebebasan berbicara.

Tulisan Ini akan membahas dua hal, yakni keharaman homo seksual dan yang berkaitan, serta maqoshidus syara’ berkaitan dengan memelihara aqal.

Keharaman Homoseksual

Tentang haramnya homoseks (liwath) bukan hanya ditunjukkan oleh nash al Qur’an, namun juga ditunjukkan oleh hadits Rasulullah. Dari ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abbâs ra berkata, “Rasulullah saw. bersabda,

مَنْ وَجَدْتُمُوهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ، فَاقْتُلُوا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُولَ بِهِ

”Barangsiapa yang kalian dapati sedangkan melakukan perbuatannya kaum Luth, maka bunuhlah pelaku dan objeknya.” (HR. Ibnu Majah dari Ibnu Abbas r.a dg sanad shahih, juga diriwayatkan oleh at Tirmidzi, Abu Dawud, Ahmad, ad Daruquthni, al Hakim dan al Bayhaqi).

Memang para sahabat berbeda pandangan dalam menetapkan bagaimana cara membunuh pelaku liwath, namun mereka berijma tentang haramnya liwath ini dan mereka sepakat hukumannya adalah hukuman mati. Demikian juga ‘ulama setelah mereka (sebelum era liberal ini) juga tidak ada perbedaan tentang haramnya liwath.[3]

Namun demikian, Islam melarang kita main hakim sendiri, melakukan perusakan dan aksi anarkis lainnya. Seharusnya negaralah yang menindak mereka, bukan rakyat. Kewajiban kita adalah mengingatkan, termasuk berupaya agar negara ini segera tunduk kepada aturan-aturan Allah swt.

Kebebasan Berpendapat (Freedom of Speech)

Islam tidak mengekang pendapat seseorang selama pendapat itu tidak bertentangan dengan Islam, adapun pendapat yang bertentangan dengan Islam maka negara harus meluruskan dan mencegah itu, tatkala Ibrahim, putra Rasulullah, wafat kebetulan terjadi gerhana, maka orang-orang mengatakan bahwa gerhana terjadi karena meninggalnya Ibrahim, maka Rasul bersabda:

“Sesungguhnya gerhana matahari dan bulan tidak terjadi karena kematian atau kelahiran seseorang, akan tetapi keduanya termasuk tanda-tanda kekuasaan Allah, dengannya Allah memperingatkan hamba-hamba-Nya. Apabila kalian melihat kejadian yang demikian maka shalatlah dan berdo’a, sampai keadaan yang kalian lihat itu kembali seperti sedia kala” (HR. Bukhari dan Nasa’i).

Kontrol terhadap pendapat ini dilakukan oleh para penguasa semenjak Rasulullah sampai khalifah terakhir, saat Khilafah memudar sekalipun Khalifah Abdul Hamid II masih bisa menghentikan rencana pementasan teater yang bertentangan dengan Islam—bukan di dalam negeri, melainkan diluar negeri, yakni Perancis dan Inggris–, berikut peristiwanya: …Perancis pernah merancang mengadakan pementasan drama teater yang diambil dari karya Voltaire (seorang pemikir Eropa) yang menghina Rasulullah SAW. Drama itu bertajuk “Muhammad atau Kefanatikan” dan disamping mencaci Rasulullah SAW, ia juga menghina Zaid dan Zainab. Begitu mengetahui berita pementasan itu, Abdul Hamid memberi perintah kepada pemerintah Perancis melalui dutanya di Paris supaya memberhentikan pementasan drama itu dan mengingatkan akan akibat politik yang bakal dihadapi oleh Perancis jika ia meneruskan pementasan itu. Perancis dengan serta merta membatalkannya. Kumpulan teater itu datang ke Inggris untuk merancang melakukan pementasan yang serupa dan sekali lagi Abdul Hamid memberi perintah kepada Inggris. Inggris menolak perintah itu dengan alasan tiket-tiket telah dijual dan pembatalan drama itu adalah bertentangan dengan prinsip kebebasan (freedom) rakyatnya. Perwakilan Uthmaniyah di Inggris mengatakan kepada Inggris bahwa walau pun Perancis mengamalkan ‘kebebasan’ tetapi mereka telah mengharamkan pementasan drama itu. Inggris juga menegaskan bahwa kebebasan yang dinikmati oleh rakyatnya adalah jauh lebih baik dari apa yang dinikmati oleh Perancis. Setelah mendengar jawapan itu, Abdul Hamid sekali lagi memberi perintah: “Saya akan mengeluarkan perintah kepada umat Islam dengan mengumumkankan bahwa Inggris sedang menyerang dan menghina Rasulullah kami! Saya akan kobarkan Jihad al-Akbar (Jihad yang besar).” Britain dengan serta merta melupakan keinginannya mengamalkan “kebebasan berpendapat” (freedom of speech) dan pementasan drama itu dibatalkan[4]

Maqashid Asy-Syari’ah

Maqaashid asy-syariah ini adalah maksud-maksud syariah sebagai satu kesatuan, maksud dari dien Islam sebagai satu kesatuan, bukan yang dimaksud dari setiap hukum itu sendiri. Dalil yang menunjukkan hal tersebut adalah bahwa rahmat yang akan dihasilkan merupakan hasil dari syariah sebagai satu kesatuan dan bukan merupakan hasil dari masing-masing hukum, sebab Dia berfirman:

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”(TQS Al Anbiyaa'(21):107)

Maksudnya adalah risalah tersebut merupakan rahmat, dan firman-Nya: “Dan Kami turunkan dari Al Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.”(TQS Al Israa'(17):82)

Pemeliharaan akal memang merupakan salah satu maqashid syari’ah, hal ini karena Islam telah mensyari’atkan hukum-hukum yang melarang pengkonsumsian segala sesuatu yang dapat mempengaruhi akal manusia. Misalnya, segala sesuatu yang dapat memabukkan dan melemahkan ingatan. Pada saat yang sama Islam menganjurkan untuk menuntut ilmu, merenung (tadabbur), dan berijtihad sebagai usaha untuk mengembangkan kemampuan akal pada diri manusia. [QS. Al Ma’idah : 90]

Oleh karena itu, tidak tepat kalau dengan alasan menjaga akal, lalu orang dibiarkan bebas merusak ajaran Islam, memutar balikkan ayat, atau bahkan menghina Rasul saw.

Adapun Allah membiarkan Iblis untuk menggoda manusia bukan berarti kita diperintahkan untuk memberinya jalan menyebarkan kesesatannya, justru Allah menyuruh kita untuk memusuhinya. Allahu A’lam.

Disampaikan di masjid Mujahidin Banjarmasin, tgl 19 Mei 2012. Download pdf-nya di .::sini::. (isinya hampir sama dengan yg di khutbah jum’at, ditambah sedikit).
Lebih lengkap tentang Maqashid Asy-Syari’ah bisa dilihat di sini

[1] http://www.eramuslim.com/berita/analisa/di-balik-keberanian-kongres-gay-di-surabaya.htm Sabtu, 27/03/2010

[2] http://www.hidayatullah.com/read/11195/27/03/2010/homoseksual-dan-lesbian-dalam-perspektif-fikih.html – Sabtu, 27 Maret 2010

[3] إحكام الأحكام شرح عمدة الأحكام 4 / 124، والإفصاح عن معاني الصحاح 2 / 238، والأم 7 / 183، والمبسوط 9 / 77، والمغني لابن قدامة 8 / 187، وكشاف القناع عن متن الإقناع 6 / 94، والكافي لابن عبد البر 2 / 1073

[4] Buletin Khilafah, Edisi 15, 23 Jun 1989, England & Ar-Raya, Jilid 3, Isu 4, April 1994

Posted on 25 Mei 2012, in Makalah, Syari'ah. Bookmark the permalink. 6 Komentar.

  1. Assalamu’alaykum.

    Sebenarnya yang jadi masalah adalah “Hak Asasi Manusia” ,
    yang selalu di jadikan benteng atau tembok penghalang di saat kaum muslimin sedang melakukan ‘ammar ma’ruf.

    Stigma negatif seringkali muncul, Seolah-olah kaum muslimin sedang merampas hak seorang manusia.

    Wallohul Musta’an

    eniwei ..

    menurut antum, bagaimana dengan penyimpangan seksual yang -katanya- di derita sebagian orang sejak mereka lahir ?

    sebagian dari mereka mengatakan bahwa hal tersebut adalah “gift” yang harus di terima.

    sebagian mengatakan, bahwa tidak mengapa mempunyai orientasi seksual yang berbeda (menyimpang), asalkan tidak terjatuh ke dalam perbuatan yang di haramkan Allah, yaitu hubungan badan antar sejenis (homo seksual).
    dengan kata lain,
    menyayangi dan mencintai antar lelaki maka boleh saja, asal tidak berhubungan badan.

    karena yang di haramkan adalah perbuatan liwath`nya

    Wallohu ta’alaa a’lam

    sumber :
    http://www.facebook.com/Gay.Muslim.Indonesia

    Baraakallahu fiik

    Suka

    • wa’alaykumussalaam …
      Tentang HAM saya sepakat bahwa itulah yang mereka ‘berhalakan’ sehingga syari’at yg jelaspun mereka bisa tolak dg alasan HAM.

      Tentang bagaimana dengan penyimpangan seksual yang -katanya- di derita sebagian orang sejak mereka lahir ? saya tidak punya informasi tentang ini, apakah memang faktanya ada atau tidak. Dalam benak saya penyimpangan itu terjadi karena salah pendidikan dan pergauan, atau salah dalam menyikapi permasalahan yang pernah mereka hadapi (misal kecewa dengan mantan suami…). Islam mengajarkan kepada orang tua untuk mendidik anaknya, laki-laki tdk boleh menyerupai wanita dll, pergaulannya juga diatur.

      Namun SEANDAINYA ADA dan Allah menciptakannya sejak lahir, sekali lagi SEANDAINYA ADA, maka ini masuk wilayah qodho yang manusia tidak diberi pilihan sehingga tidak berdosa, hanya saja mereka tetap harus ‘diobati’ dan tidak dibenarkan melanggar hukum syara’. Allahu A’lam.

      Suka

      • Bismillah

        Menurut keterangan para pelaku / penderita, yang ada di dalam grup Facebook diatas, kondisi penyimpangan sejak lahir memang ada.

        Wallohu ta’alaa a’lam

        hanya saja, yang saya sesalkan, pemakaian kata muslim di grup tersebut.

        seolah-olah di dalam Islam kaum Gay di legalkan.

        Wallohul Musta’an

        Suka

        • Kalaupun memang ada, tidak setiap pengakuan mereka bisa diterima, apakah memang benar mereka sejak lahir demikian atau tidak. Kalau kelaminnya ganda ya dia tdk berdosa, jenis kelaminnya ditentukan mana yang lebih dominan. Ini tentu berbeda dengan berpura-pura banci.

          Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata:

          لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُتَشَبِّهِيْنَ مِنَ الرِّجاَلِ بِالنِّساَءِ، وَالْمُتَشَبِّهاَتِ مِنَ النِّساَءِ بِالرِّجاَلِ

          “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki.” (HR. Al-Bukhari no. 5885, 6834)

          Al-Imam An-Nawawi rahimahullah memang menyatakan: “Ulama berkata, mukhannats (bencong) itu ada dua macam.

          Pertama: hal itu memang sifat asal/ pembawaannya bukan ia bersengaja lagi memberat-beratkan dirinya untuk bertabiat dengan tabiat wanita, bersengaja memakai pakaian wanita, berbicara seperti wanita serta melakukan gerak-gerik wanita. Namun hal itu merupakan pembawaannya yang Allah Subhanahu wa Ta’ala memang menciptakannya seperti itu. Mukhannats yang seperti ini tidaklah dicela dan dicerca bahkan tidak ada dosa serta hukuman baginya karena ia diberi udzur disebabkan hal itu bukan kesengajaannya. Karena itulah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada awalnya tidak mengingkari masuknya mukhannats menemui para wanita dan tidak pula mengingkari sifatnya yang memang asal penciptaan/ pembawaannya demikian. Yang beliau ingkari setelah itu hanyalah karena mukhannats ini ternyata mengetahui sifat-sifat wanita (gambaran lekuk-lekuk tubuh wanita) dan beliau tidak mengingkari sifat pembawaannya serta keberadaannya sebagai mukhannats.

          Kedua: mukhannats yang sifat kewanita-wanitaannya bukan asal penciptaannya bahkan ia menjadikan dirinya seperti wanita, mengikuti gerak-gerik dan penampilan wanita seperti berbicara seperti mereka dan berpakaian dengan pakaian mereka. Mukhannats seperti inilah yang tercela di mana disebutkan laknat terhadap mereka di dalam hadits-hadits yang shahih.

          Adapun mukhannats jenis pertama tidaklah terlaknat karena seandainya ia terlaknat niscaya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membiarkannya pada kali yang pertama, wallahu a’lam.” (Syarah Shahih Muslim, 14/164)

          Adapun Perbuatan menyerupai lawan jenis secara sengaja haram hukumnya dengan kesepakatan yang ada (Fathul Bari, 9/406) dan termasuk dosa besar, karena Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu dan selainnya mengatakan: “Dosa besar adalah semua perbuatan maksiat yang ditetapkan hukum had-nya di dunia atau diberikan ancaman di akhirat.” Syaikhul Islam menambahkan: “Atau disebutkan ancaman berupa ditiadakannya keimanan (bagi pelakunya), laknat9, atau semisalnya.” (Mukhtashar Kitab Al-Kabair, Al-Imam Adz-Dzahabi, hal. 7)

          Suka

  2. oya .. statement ;
    “menyayangi dan mencintai antar lelaki maka boleh saja, asal tidak berhubungan badan”

    bagaimana menurut antum ?

    Jazakallahu khayr

    Suka

    • Kalau cinta karena Allah ya hukumnya sunnah, baik kepada lelaki maupun wanita, mahram ataupun tidak. Dan bukti cinta karena Allah itu adalah ketundukan kepada syari’at Allah, kalau tidak tunduk itu namanya cinta krn nafsu yang dilarang. Allahu A’lam.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s