Khutbah Jum’at – Homoseksual Menghancurkan Generasi

Oleh: M. Taufik N.T          download lengkapnya (pdf) di <<sini>>

Minggu ini kita disuguhi pemberitaan tentang Irshad Manji, seorang tokoh penggerak dan praktisi lesbianisme (homoseks wanita) dari Kanada yang diundang ke Indonesia untuk berdiskusi tentang bukunya ‘Allah, Liberty and Love’ dalam edisi Indonesia.

Menurut Ridho Triawan, pengurus LSM Arus Pelangi, sebuah yayasan yang menaungi lesbian, gay, waria dan transjender, setidaknya ada 5000 gay serta lesbian yang hidup di Jakarta.[1]

Ma’âsyirol Muslimîn Rahimakumullâh

Homoseksual, disamping merupakan bahaya terhadap kelangsungan populasi umat manusia, juga merupakan perbuatan yang melampaui batas. Allah swt berfirman berkaitan dengan kaumnya nabi Luth yang melakukan homoseks:

أَتَأْتُونَ الذُّكْرَانَ مِنَ الْعَالَمِينَ – وَتَذَرُونَ مَا خَلَقَ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ عَادُونَ

“Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia, dan kamu tinggalkan istri-istri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas”. (Asy Syu’araa’ 165 – 166)

Kerusakan perilaku seksual kaum Luth ini juga ditegaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي عَمَلُ قَوْمِ لُوطٍ

“Sesungguhnya hal yang paling aku takutkan menimpa umatku adalah perbuatan kaum Luth.” (HR at-Tirmidzi, al-Hakim, Ibn Majah).

Ma’âsyirol Muslimîn Rahimakumullâh

Melakukan homoseksual jelas sebuah kerusakan, namun merupakan kerusakan yang lebih besar lagi jika pelaku homoseksual dipuja, dihormati, dan dijadikan inspirasi.

Aktivis liberal Nong Darol Mahmada pernah menulis artikel di Jurnal Perempuan (edisi khusus Lesbian, 2008) berjudul:Irshad Manji, Muslimah Lesbian yang Gigih Menyerukan Ijtihad. Katanya: ”Manji sangat layak menjadi inspirasi kalangan Islam khususnya perempuan di Indonesia.”

Jika disimak dari kualitas dan prestasi akademik serta kualitas bukunya, Irshad Manji tampak dengan sengaja dibesar-besarkan namanya. Majalah Ms. menobatkan dia sebagai “Feminis Abad ke-21”. Maclean’s memberinya penghargaan Honor Roll di tahun 2004 sebagai “Orang Kanada yang Sangat Berpengaruh”.[2]

Dari Ziyad bin Hudair, ia berkata, Umar r.a telah berkata kepadaku:

هَلْ تَعْرِفُ مَا يَهْدِمُ الإِسْلاَمَ؟ قَالَ قُلْتُ : لاَ. قَالَ : يَهْدِمُهُ زَلَّةُ الْعَالِمِ وَجِدَالُ الْمُنَافِقِ بِالْكِتَابِ وَحُكْمُ الأَئِمَّةِ الْمُضِلِّينَ

Apakah kamu tahu apa yang merobohkan Islam? Ia (Ziyad) berkata, aku berkata: Tidak. Ia (Umar) berkata: Yang merobohkan Islam adalah tergelincirnya orang alim (ulama), bantahan orang munafik dengan al-Qur’an, dan keputusan pemimpin-pemimpin yang menyesatkan. (Riwayat ad-Darimi, dan berkata Syaikh Husain Asad: isnadnya shahih).

Ma’âsyirol Muslimîn Rahimakumullâh

Sungguh, kemaksiatan adalah pangkal kerusakan, namun propaganda untuk melakukan kemasiyatan adalah lebih besar, dan propaganda untuk melegalkan kemaksiyatan jika dilakukan oleh “’ulama” dan di ‘stempel’ dengan kebijakan penguasa yang membuat peraturan yang rusak tentunya lebih besar lagi.

Adalah patut disayangkan jika Prof. Dr. Siti Musdah Mulia — guru besar UIN Jakarta, dalam sebuah diskusi yang diadakan di Jakarta hari Kamis 27 maret 2008, mengeluarkan pernyataan bahwa homoseksual dan homoseksualitas adalah kelaziman dan dibuat oleh Tuhan, dengan begitu diizinkan juga dalam agama Islam. Tak hanya itu, Siti Musdah melanjutkan bahwa sarjana-sarjana Islam moderat mengatakan tidak ada pertimbangan untuk menolak homoseksual dalam Islam, dan bahwa pelarangan homoseks dan homoseksualitas hanya merupakan tendensi para ulama.[3]

Ma’âsyirol Muslimîn Rahimakumullâh

Yang lebih mengkhawatirkan lagi, saat ini berkembang pengkaburan pemahaman al Qur’an, menurut pendukung homoseksual, para ahli hukum Islam selama seribu tahun lebih telah salah paham dalam soal penafsiran kisah Luth, menurut mereka selama ini pelarangan terhadap praktik homoseksual itu merupakan kekeliruan dalam menafsirkan Alquran. Padahal, katanya, kaum Luth dihukum oleh Allah, bukan karena mereka homo, tetapi karena mereka kafir dan membangkang. Ditambah lagi dengan logika asal-asalan yakni, kalau kaum nabi luth disiksa karena homo, lalu kenapa sekarang kaum homo tidak disiksa?.

Padahal tentang haramnya homoseks (liwath) bukan hanya ditunjukkan oleh nash al Qur’an, namun juga ditunjukkan oleh hadits Rasulullah dan ijma’ shahabat. Dari ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abbâs ra berkata, “Rasulullah saw. bersabda,

مَنْ وَجَدْتُمُوهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ، فَاقْتُلُوا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُولَ بِهِ

”Barangsiapa yang kalian dapati sedangkan melakukan perbuatannya kaum Luth, maka bunuhlah pelaku dan objeknya.” (HR. Ibnu Majah dari Ibnu Abbas r.a dg sanad shahih, juga diriwayatkan oleh at Tirmidzi, Abu Dawud, Ahmad, ad Daruquthni, al Hakim dan al Bayhaqi).

Memang para sahabat berbeda pandangan dalam menetapkan bagaimana cara membunuh pelaku liwath, namun mereka berijma tentang haramnya liwath ini dan mereka sepakat hukumannya adalah hukuman mati.

Namun demikian, Islam melarang kita main hakim sendiri, melakukan perusakan dan aksi anarkis lainnya. Seharusnya negaralah yang menindak mereka, bukan rakyat. Kewajiban kita adalah mengingatkan, termasuk berupaya agar negara ini segera tunduk kepada aturan-aturan Allah swt.

Semoga Allah swt menjaga kita, zuriyat kita dan umat ini dari melakukan dosa tersebut, mempropagandakannya, atau ikut-ikutan membela kemaksiyatan. Sungguh ikut melakukan propaaganda maksiyat diancam oleh Rasulullah saw:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ يَنْزِلُ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ.

‘Adakalanya seorang hamba mengucapkan satu kalimah (satu kata) yang menyebabkan dia tergelincir ke dalam Neraka yang jarakdalamnya antara timur dan barat’.” (Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah r.a)

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ – اعوذ بالله من الشيطان الرجيم – وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْاَنِ الْعَظِيم، وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الاَيَاتِ وَ الذِّكْرِ الحَكِيْم اَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَاَسْتَغْفِرُاللهَ الْعَظِيمْ – لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ فَاسْتَغْفِرُوهُ اِنَّهُ هُوَالْغَفُوْرُ الرَّحِيمِ


[1] http://www.eramuslim.com/berita/analisa/di-balik-keberanian-kongres-gay-di-surabaya.htm Sabtu, 27/03/2010

[2] http://www.hidayatullah.com/read/22467/01/05/2012/irshad-manji-sepatutnya-diobati!.html 1 Mei 2012 – diakses 11 Mei 2012

[3] http://www.hidayatullah.com/read/11195/27/03/2010/homoseksual-dan-lesbian-dalam-perspektif-fikih.html – Sabtu, 27 Maret 2010

Posted on 11 Mei 2012, in Fiqh, Khutbah Jum'at. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. bagaimana mungkin kita bisa berharap kepada negara yang sekular ini untuk menindak mereka . . , . . .yaa Allah ampunilah dosa-dosa kami yang tak mampu mencegah kemaksiatan seperti itu. jangan Engkau timpakan musibah kepada kami sebagaimana yang Engkau timpakan terhadap kaum Nabi Luth.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s