Pendidikan Mahal, Bukti Alokasi Pendidikan 20% Hanya Jargon Politik

Pengamat pendidikan Wildan Hasan Syadzili menilai biaya yang mahal saat awal masuk sekolah baik di tingkat sekolah maupun perguruan tinggi disebabkan alokasi anggaran pendidikan sebesar 20 persen hanya menjadi jargon politik semata. “Dalam praktiknya tidak sampai 50 persen anggaran itu benar-benar untuk peningkatan mutu pendidikan. Lebih banyak untuk belanja pegawai,” kritiknya di Jakarta, Rabu (6/7)

Situasi demikian, sambung Wildan, ditunjang dengan perangkat peraturan yang mengkondisikan terjadi ketimpangan kualitas pendidikan antardaerah di Indonesia. Hal demikian disebabkan, pemerintah pusat hanya bertanggung jawab dalam pembiayaan pendidikan (education funding) terhadap satuan pendidikan yang diselenggarakan pusat. “Nah, di Pemerintah Provinsi atau Pemerintah Kabupaten/Kota mereka yang bertanggung jawab sendiri,” paparnya.
Lebih lanjut, menurut mahasiswa Educational Leadership & Management La Trobe Universitas Melbuorne Australia ini, situasi demikian terjadi karena pemegang kebijakan masih menganggap investasi pendidikan hanya dianggap hanya membuang uang. “Padahal di negara lain, pendidikan dijadikan sebagai investasi jangka panjang untuk membangun SDM demi kepentingan pembangunan ekonomi,” cetusnya.
Dia menuturkan alokasi pendidikan di sejumlah negara lainnya jauh di atas Indonesia. Seperti di Australia sebanyak 46 persen dari APBN, Malaysia 26 persen, Singapura 32 persen, dan Amerika hingga 68 persen.
Ironinya, sistem pendidikan yang tidak berpihak kepada masyarakat banyak, sambung mantan Presiden Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah ini, diperparah dengan kualitas pendidikan yang jauh dari kategori baik. “Konyolnya, masyarakat membayar biaya pendidikan yang mahal, namun tidak setimpal dengan kualitas yang didapat,” katanya menambahkan.

Sumber: Republika

***

Beberapa PTN sejak beberapa tahun terakhir telah berkreasi menciptakan jalur seleksi mahasiswa dengan biaya mahal. Fakultas kedokteran ada yang menawarkan biaya masuk hingga lebih dari Rp 150 juta. Bisa jadi, ke depan tidak ada lagi dokter dari keluarga miskin.

Jalur penerimaan mahasiswa dengan sistem reguler (berbiaya relatif murah) adalah 60 persen dari total bangku universitas. Peluang kuliah dengan biaya kelas rakyat inilah yang diperebutkan oleh ratusan ribu calon mahasiswa. Sementara 40 persen sisanya buat mahasiswa kaya.

Sumber: Kompas

***

Busyet! Seketika kata seru itu meluncur dari mulutku kemarin siang (Rabu, 25 Mei 2011). Sumbangan pendidikan minimal Rp 4 juta bagi calon siswa baru SMA RSBI. Bahkan, sumbangan itu belum menjamin bahwa calon siswa diterima secara otomatis. Ada kemungkinan calon siswa itu gugur jika masih ada calon siswa lain yang memberikan sumbangan lebih besar. (dari sini)

***

Di Unair biaya jalur mandiri mencapai 175 juta per mahasiswa. Sementara di ITS mencapai 50 juta per mahasiswa dan jumlah sebesar itu dinilai tidak mahal, tentu jika dibandingkan PTN lain (lihat, okezone,15/6). Mahalnya biaya itu ternyata juga dialami mahasiswa yang masuk melalui jalur reguler. Di UGM misalnya, untuk Fakultas Ilmu Keperawatan Gigi yang harus dibayar saat masuk mencapai 37 jutaan, fakultas Teknik Mesin 20 juta dan fakultas kedokteran mencapai 100 juta. Sementara di UNDIP Semarang, biaya daftar ulang antara Rp 8,6 juta hingga Rp 29,5 juta (lihat, kompas, 11/7) [Sumber: hti)

***

Mahasiswi di Inggris Rela Melacur demi Bisa Tetap Kuliah

Minggu, 18 Desember 2011 11:20 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON – Semakin banyak mahasiswi di Inggris beralih ke pelacuran untuk membiayai pendidikan mereka. Demikian menurut Asosiasi Mahasiswa Nasional (NUS).

NUS mengatakan ada juga mahasiswa yang beralih ke meja perjudian. Ada pula yang ikut serta dalam eksperimen medis untuk membiayai sekolah mereka.
Badan mahasiswa itu mengatakan meningkatnya biaya hidup dan pendidikan di Inggris merupakan faktor penyebab. Langkah pemerintah mengurangi tunjangan untuk mahasiswa membuat kondisi semakin sulit.

“Para mahasiswa akhirnya mengambil langkah yang lebih berbahaya,” kata Estella Hart dari NUS. ”Dalam kondisi perekonomian seperti sekarang, tidak banyak pekerjaan dan tunjangan untuk mahasiswa dipotong besar. Mereka akhirnya mencari pekerjaan informal seperti seks komersial.”

Pemerintah mengumumkan biaya pendidikan di universitas naik dari sekitar 3.000 pounsterling menjadi 9.000 poundsterling (Rp 126 juta) pertahun mulai 2012. Clare (bukan nama sebenarnya) yang berusia 18 tahun ini mulai menjadi wanita penghibur karena tunjangan pemerintah dikurangi.
“Saya tidak bisa melanjutkan ke perguruan tinggi tanpa tunjangan pemerintah. Saya tidak mau tergantung pada keluarga saya,” ujarnya.

Posted on 19 Desember 2011, in Berita, Pendidikan. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s