Imam Ibnul Jauzy Rahimahullah (w. 597 H)

Nama lengkap beliau adalah ‘Abdurrahman bin Abil Hasan ‘Ali bin Muhammad bin ‘Ubaidillah al-Qurasyi. Kakeknya terkenal dengan sebutan Ibnul Jauzi (anak kelapa), karena kelapa yang ia miliki di Wasith, di mana di sana sama sekali tidak ada kelapa selain milik beliau.

Beliau lahir pada tahun 510 H. Ayahnya meninggal ketika beliau berumur tiga tahun, lalu beliau diasuh oleh bibinya (dari pihak ayah). Ketika beliau mulai tumbuh, bibinya membawa beliau kepada al-Hafizh Ibnu Nashir, lalu beliau belajar kepadanya dan menghasilkan ilmu dalam memberikan wejangan yang tidak dihasilkan oleh seorang pun selainnya, bahkan diceritakan bahwa sebagian majelisnya dihadiri oleh lebih dari 100.000 orang.

Ibnul Jauzi menulis buku 2.000 jilid dengan tulisan tangan beliau, 100.000 orang telah bertaubat dengan perantaraannya dan 20.000 orang masuk Islam dengan perantaraannya pula.

Ibnul Jauzi rahimahullah memiliki perawakan yang lembut, tabiat yang manis, suara yang merdu dan gerakan yang teratur, beliau tidak pernah menyia-nyiakan waktu sedikit pun, sehingga beliau dapat menulis empat buku tulis setiap hari.

Beliau memiliki peran dalam semua bidang ilmu, beliau adalah seorang yang sangat menonjol dalam bidang tafsir, memiliki gelar al-Hafizh dalam bidang hadits, termasuk ulama yang sangat luas dalam bidang sejarah, bahkan beliau memiliki satu buku dalam bidang kedokteran yang diberi nama “kitab al-luqath”.

Beliau wafat pada tahun 597 H, mendekati 90 tahun dari usianya dan dimakamkan di pemakaman Bab Harb. Semoga Allah Ta’ala merahmatinya, amin.

Ibnul Jauzi Dan Shifaatush Shafwah

Salah seorang murid Ibnul Jauzi berkata kepada beliau, “Ketika aku membaca kitab Hilyatul Auliaa’ karya Abu Nu’aim al-Asbahani, aku sangat kagum akan cerita orang-orang shalih yang ada di dalamnya, dan aku melihat obat bagi penyakit jiwa yang ada di dalamnya, hanya saja aku sangat menyayangkan akan pengungkapan beliau terhadap beberapa hadits yang tidak layak dan pengungkapan beliau akan perkataan beberapa orang yang sedikit manfaatnya.

Sang murid memohon kepada Ibnul Jauzi agar meringkas buku tersebut dan mensarikan kebaikan-kebaikan yang ada di dalamnya, lalu Ibnul Jauzi menanggapi permintaan tersebut dengan berkata:

“Aku sangat kagum akan kebenaran penelitianmu, hanya saja engkau belum membuka semua tirai yang ada di dalamnya, dan aku akan membukanya sekarang. Maka aku katakan, ketahuilah sesungguhnya kitab al-Hilyah banyak mencakup hadits dan hikayat dalam jumlah yang bisa dikatakan bagus, hanya saja buku tersebut telah terkotori dengan beberapa hal, ada sepuluh masalah yang telah mengotorinya.”

Lalu beliau menuturkan sepuluh hal tersebut dengan terperinci, di antaranya adalah biografi yang campur aduk antara satu dengan yang lainnya, beliau (Abu Nu’aim) mencampur adukkan biografi para ulama dengan perkataan mereka di dalam buku-buku mereka, di mana biografi Mujahid dipenuhi dengan tafsir beliau, biografi ‘Ikrimah dipenuhi dengan tafsirnya, dan biografi Ka’ab bin al-Ahbar dipenuhi dengan kilasan tentang Taurat, beliau pun banyak mengungkapkan hadits marfu’ yang hanya diriwayatkan oleh satu orang.” Ibnul Jauzi mengisyaratkan bahwasanya Abu Nu’aim banyak mengungkapkan hadits-hadits bathil yang palsu dengan tujuan memperbanyak hadits dan agar riwayat-riwayat beliau laku.

Di antara aib Hilyatul Auliaa’ yang diungkapkan oleh Ibnul Jauzi adalah sajak yang hampa ketika beliau mengungkapkan sebuah biografi yang hampir saja mengandung makna yang tidak benar, terutama ketika beliau mengungkapkan definisi Tashawwuf sebagaimana beliau juga menghubungkan Tashawwuf dengan para tokoh seperti Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, al-Hasan, Syuraih, Sufyan, Syu’bah, Malik dan asy-Syafi’i, padahal mereka sama sekali tidak memiliki cerita yang berhubungan dengan Tashawwuf.

Jika ada seseorang yang berkata, “Yang dimaksud dengan Tashawwuf adalah zuhud dan mereka ini adalah orang-orang yang zuhud.” Maka, sesungguhnya Tashawwuf adalah sebuah aliran yang terkenal dan tidak hanya terkenal dengan sikap zuhudnya, akan tetapi Tashawwuf adalah sebuah aliran yang memiliki ciri khas dan akhlak yang diketahui oleh para pemimpin mereka, Tashawwuf adalah sebuah aliran yang berdasarkan atas asas kemalasan, (yang) seandainya seseorang menempuh jalan Tashawwuf pada pagi hari, maka dia tidak akan datang pada waktu Zhuhur kecuali dalam keadaan pandir.

Di antara aib Hilyatul Auliyaa’ yang diungkapkan oleh Ibnul Jauzi bahwa sesungguhnya beliau meriwayatkan perkataan beberapa orang yang tidak benar dalam perkataannya dan tidak ada manfaatnya, sebagaimana beliau mengungkapkan hal-hal yang berhubungan dengan Tashawwuf yang tidak layak untuk diungkapkan.

Ibnul Jauzi mengomentari kitab Hilyatul Auliyaa’ dengan ungkapannya bahwasanya beliau (Abu Nu’aim) telah mencampur adukkan dalam mengurutkan para tokoh, beliau mendahulukan orang-orang yang seharusnya diakhirkan dan mengakhirkan orang-orang yang seharusnya didahulukan, beliau tidak mengurutkan para Sahabat sesuai dengan keutamaan mereka, atau sesuai dengan urutan tanggal lahir mereka, beliau pun tidak mengumpulkan sebuah kaum dengan negeri yang sama dalam satu kelompok, walaupun terkadang beliau melakukannya dalam satu kesempatan, lalu kembali mencampur adukkan dalam kesempatan yang lain, terutama di akhir kitab, maka hampir saja seseorang tidak dapat menemukan tokoh yang ia cari dalam buku tersebut.

Ibnul Jauzi berkata:

Ada tiga hal yang luput dari Abu Nu’aim di dalam kitabnya Hilyatul Auliyaa’, yaitu:

Pertama, beliau tidak menyebutkan tokoh utama dalam hal zuhud, pemimpin untuk semua dan teladan bagi yang ada setelahnya, dia adalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliaulah yang jalannya harus selalu diikuti dan diteladani keadaannya.

Kedua, beliau tidak menyebutkan banyak tokoh yang terkenal dalam ibadah dan perjuangan.

Ketiga, hanya sedikit beliau mengungkapkan tokoh wanita di dalam ibadah.

Karena sebab-sebab di atas, Ibnul Jauzi menulis sebuah kitab yang lebih memuaskan daripada kitab Hilyatul Auliyaa’, di dalam bukunya itu beliau menceritakan orang-orang yang shalih dan keadaan mereka, bahkan beliau menambahkan cerita orang-orang yang tidak diungkapkan oleh Abu Nu’aim dan sekelompok orang yang lahir setelah beliau wafat, kitab itu adalah SHIFAATUSH SHAFWAH, Ibnul Jauzi di dalam kitab tersebut menuturkan kebaikan para kaum sesuai dengan nama kitabnya itu sendiri, SHIFAATUSH SHAFWAH (Sifat-sifat Orang-orang Pilihan), orang-orang yang diungkapkan di dalam buku tersebut kira-kira mencapai seribu orang, di antaranya adalah dua ratus wanita.

_______

Disalin dengan sedikit diringkas dari kitab Jawaahiru Shifatish Shafwah, karya Ahmad Salim Ba Duwailan, penerbit Daruth Thawiiq lin Nasyr wat Tauzi, cet. th’1994, Riyadh – Saudi Arabia, edisi Indonesia: Teladan Hidup Orang-orang Pilihan, penerbit Pustaka Ibnu Katsir, cet. th’2004, Bogor. == via copas dari sini

Baca Juga:

  • Imam An Nawawi
  • Ibnu Hajar Al-’Asqalani
  • Posted on 12 Desember 2011, in Kisah & Motivasi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s