Buat Yang Berwajah Cantik & Tampan; Buat Kepala Negara …

Suatu ketika, saat sedang mencek kondisi rakyatnya dalam patroli malam, langkah Khalifah Umar bin Khattab r.a terhenti, ketika terdengar wanita bersenandung dari bilik sebuah rumah:

هل من سبيل إلى الخمر فأشربها؟

أو هل من سبيل إلى نصر بن الحجاج

Adakah jalan untuk minuman memabukkan, agar aku meminumnya

Atau adakah jalan kepada Nashr bin Hajjaj?


أنظـر إلى السحـر يجـري في نواظـره

وانظر إلى دعـجٍ في طـرفـه الساجـي

Perhatikanlah akan sihir yang mengalir pada tatapan-tatapannya

Dan lihatlah akan mata hitamnya dalam kedipannya yang tenang (kalem)

وانظــر إلـى شعــرات فـوق عـارضــــه

كأنـــهـن نمــال دب فـي عـاجــي

Dan perhatikan pula akan rambut diatas mukanya

Seolah-olah dia semut yang mengisi gading.

Saat itu, Beliau r.a lama terdiam, menghafal sebuah nama asing dalam hatinya, Nashr bin Hajjaj. Selanjutnya patrolinya dilanjutkan, hingga waktu fajar sebentar lagi menjemput.

Pagi harinya, Khalifah Umar bin Khattab r.a mencari tahu nama yang didapatinya tadi malam. Salah seorang pembantunya menghadapkan seorang laki-laki dari suku Sulaym, Nashr bin Hajjaj. Berdiri tegap sang pemuda. Beliau r.a memandangnya lekat-lekat. Pemuda yang menakjubkan, ketampanannya mempesona, rambutnya indah. Beliau r.a mengingat syair wanita semalam. Akhirnya sang pemuda diperintahkan untuk memotong rambut, ketika kembali, Nashr tampak lebih tampan. Umar kemudian mendengar sya’r wanita tentang eloknya Nashr setelah rambutnya dipotong:

حلـقوا رأســه ليـــكـسـب قــبـحاً

غيرة مـــنـهــــم عـليـه وشـحـــا

كـان صـبـحـا عـلـيـه لـيـل بـهـيـم

فمحــوا لـيـلـه وأبـقــوه صـبـحـــا

Beliau r.a pun menyuruhnya mengenakan ikat kepala, kali ini pun Nashr terlihat lebih mempesona. Karena Khalifah khawatir timbulnya banyak fitnah dan kemudharatan di tempat berdiamnya pemuda tersebut selama ini, Beliau r.a pun menyuruh Nashr bin Hajjaj keluar dari Madinah dan pindah ke Bashrah (Irak).

Kisah tentang Nashr bin Hajjaj dapat di baca pada Bada’i al Fawaid (Ibn Qayyim Al Jauziyyah), Rûhul Ma’âni (Al Alusi), Adlwâ’u al Bayân (Asy Syinqithi), dan Ibnu Hajar menshahihkan sanadnya dalam Al Ishobah.

***

Pelajaran:

1. Keelokan paras, walaupun itu karunia Allah, tidak selalu membawa bahagia. Di Bashrah, Nashr dititipkan pada sebuah keluarga yang terdiri dari sepasang suami istri yang telah bahagia kehidupannya. Namun lagi-lagi ketampanan Nashr menimbulkan masalah, karena istri dari tuan rumah tersebut jatuh hati pada Nashr. Dan lebih parah lagi, Nashr ternyata juga jatuh hati pada kecantikan dan kebaikan budian istri keluarga tersebut.

Suatu ketika, Nashr berkumpul dengan tuan rumah yang terdiri dari suami dan istri tersebut. Nashr menulis sesuatu dengan tangannnya diatas tanah yang kemudian dijawab oleh sang istri dengan tulisan juga. Karena buta huruf, suami yang sudah curiga itupun memanggil sahabatnya untuk membaca tulisan itu setelah acara berkumpul tersebut selesai. Sahabatnya mengatakan bahwa tulisan yang terdapat ditanah yang ditulis oleh istrinya dan Nashr berbunyi : “Aku Cinta Padamu..” . Karena malu (walaupun tidak selingkuh) akhirnya Nashr memutuskan meninggalkan rumah keluarga itu, dan hidup sendiri disebuah gubuk terpencil. Namun, perasaan cintanya pada sang istri keluarga tersebut tak mampu dia hapus. Nashr menderita karenanya cintanya yang tdk bisa terwujud.

2. Kepala Negara mempunyai kewajiban menjaga akhlaq rakyatnya,  dengan menjauhkan hal-hal yang bisa menimbulkan fitnah(bukan hanya mengurus kesejahteraan duniawi, apalagi hanya  ngurus diri dan kelompoknya). Adalah hal yang ironis menggunakan kemolekan dan kepopuleran artis hanya untuk mencari dukungan dan mendulang suara.

3. Hati-hati berprilaku, jangan menebar pesona yang akhirnya bisa menimbulkan fitnah dan membuat diri/orang lain menderita.

Allahu A’lam. [M. Taufik N.T]

Baca juga:

Posted on 10 Desember 2011, in Akhlaq, Politik. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Menurut ustadz, bagaimana dengan pencitraan dalam Politik Islam. Pencitraan mutlak diperlukan dalam sistem apa pun.

    Sebagian ulama mengharuskan ibadah wajib semacam zakat bagi pejabat dilakukan terang-terangan untuk mencegah fitnah. Apakah ini juga bisa disamakan dengan pencitraan?

    Suka

  2. Kalau melaksanakan kewajiban dg niat tulus krn Allah, itu memang sudah seharusnya, siapapun dia, rakyat ataupun pejabat.

    Yang tidak boleh adalah pencitraan dengan melakukan kebohongan, faktanya X namun dipromosikan Y, termasuk juga meelakukan sesuatu karena manusia, bukan krn Allah, kalau sudah begini, yakin saja kalau Allah justru akan merusak citranya. Allahu A’lam.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s