Hadd Pencurian

Pencurian adalah perbuatan mengambil harta yang dipelihara [disimpan] yang telah sampai nishab, secara sembunyi-sembunyi.

Allah berfirman:

وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا

Dan laki-laki yang mencuri serta perempuan yang mencuri maka potonglah tangan keduanya. (QS. Al-Maidah[5]: 38).

Diriwayatkan dari Nabi saw. bahwa beliau saw. bersabda,

«إِنَّماَ هَلَكَ مَنْ كاَنَ قَبْلَكُمْ بِأَنَّهُمْ كَانُوْا إِذاَ سَرَقَ فِيْهِمُ الشَّرِيْفُ تَرَكُوْهُ، وَإِذاَ سَرَقَ فِيْهِمُ الضَّعِيْفُ قَطَعُوْهُ»

“Kehancuran orang-orang sebelum kalian karena jika pembesar-pembesar mereka mencuri, mereka biarkan, akan tetapi jika orang yang lemah mencuri mereka memotongnya.” (HR. Muslim)

Para Ulama telah sepakat bahwa sanksi bagi pencurian adalah potong tangan, namun mereka berbeda pendapat tentang tempat memotongnya, ukurannya, cara memotongnya, pemotongan kalau pencuri mengulangi perbuatannya lagi. dll.  Mayoritas ulama madzhab syafi’i, Hanafi, Maliki dan Hanbali  menyatakan bahwa pemotongan di bagian pergelangan, hal ini merupakan kewajiban jika terpenuhi syarat-syarat berikut:

Syarat-syarat dijatuhkan hadd bagi pencuri:

1. Pencuri tersebut baligh, berakal, mukallaf, baik dia itu sebagai kafir dzimmi atau seorang muslim.

2. Bagi pencuri tidak ada syubhat (kesamaran) yang sebenar-benarnya pada harta yang dicuri, seperti misalnya harta bapaknya, anaknya, syariikah (partner kerja)-nya, ataukah baitul maal umat Islam.

3. Harta yang dicuri telah sampai nishaab-nya seperti sabda Rasul saw:

لاَ تُقْطَعُ الْيَدُّ إِلاَّ فِي رُبْعِ دِيْناَرٍ فَصاَعِداً- أخرجه مُسلم

Tidak dipotong tangan kecuali (dalam pencurian) sebesar ¼  dinar ke atas. (HR. Muslim)

Maksud dari dinar adalah dinar emas yang syar’iy (legal). 1 dinar = 4, 25 gram emas.

4. Harta yang dicuri tengah berada dalam penjagaan. Seperti di rumah, di toko atau di dalam peti.

5. Jika harta yang dicuri adalah barang yang diharamkan secara syar’iy untuk dimiliki maka tidak dipotong. Seperti bila mencuri daging babi dan khamer jika dicuri dari umat Islam. Adapun jika dicuri dari kaum nasrani maka dipotong tangannya karena al-Syaari’ (pembuat hukum, yakni Allah, penerj.) membolehkan mereka (Nasrani) untuk memilikinya.

5. Pencurian tersebut ditetapkan dengan pengakuan (iqraar) atau kesaksian dua orang adil.

6. Harta tersebut diambil secara sembunyi-sembunyi. Oleh karena itu, perampasan tidak bisa dikatakan sebagai pencurian. Sabda Rasul saw:

لَيْسَ عَلَى خَائِنٍ وَلاَ مُنْتَهِبٍ وَلاَ مُخْتَلِسٍ قَطْعَ – أخرجه التِّرْمِذِيّ وَصَححهُ – والنسائي

Tidak ada potong tangan atas pengkhianat (khaa-in), perampas (muntahib), dan pencopet (mukhtalis). (HR. at Tirmidzi dan an Nasa’i, At Tirmidzi menshahihkannya).

Seorang yang mengingkari barang titipan (wadî’ah) tidak dikenai potong tangan. Sebab fakta orang yang mengingkari barang titipan berbeda dengan fakta pencurian. Orang tersebut adalah pengkhianat bukan pencuri. Sedangkan pengkhianat tidak dipotong tangannya, berdasarkan sabda Nabi saw. diatas.

Tetapi mereka (perampas dan pencopet) akan diberi sanksi ‘uquubat ta’ziiriyyah yang kadang bisa sampai pada pemotongan tangan.

7. Tidak ada pemotongan tangan pada pencurian buah-buahan yang diambil untuk dimakan meskipun jumlahnya sudah mencapai nishab pencurian.

Bacaan: Muhammad  Husain abdullah, Diroosaat Fil Fikril Islaamy, lebih lengkap dg dalil-dalilnya di kitab Nidzomul ‘Uqubat

Posted on 4 Agustus 2011, in Pidana, Syari'ah. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s