Isra’ Mi’raj dan Perubahan Kepemimpinan Manusia

Oleh: M. Taufik N.T *)

Dalam peristiwa Isra’ Mi’raj ada isyarat akan berpindahnya kepemimpinan manusia dari bani Israil kepada Nabi Muhammad dan umatnya. Isyarat ini dijelaskan oleh Syeikh Shafiyyurrahmân al-Mubârakfûriy (w. 1427H), pemenang hadiah pertama pertandingan seerah (sejarah kehidupan Rasul), Rabitah Alam Islamy, Mekkah, dalam kitab sirohnya, Ar Rahîqum Makhtûm… dalam surat al Isra yang berisi 111 ayat, ternyata yang menceritakan peristiwa isra’ hanya satu ayat, yakni ayat pertama, setelah itu ayat berikutnya justru berbicara tentang kejahatan bani Israil dan informasi kehancuran mereka akibat kejahatan mereka.


سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ ءَايَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hambaNya (Muhammad SAW) pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjdil Aqsha yang telah kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. Al Isra:1).

Waktu Terjadinya

Ada ikhtilaf tentang waktu terjadinya peristiwa ini, ada yg menyatakan saat diangkat sebagai Nabi (pendapat At-Thabari), tahun kelima kenabian (An Nawawi & Al Qurthuby), malam 27 Rajab tahun 10 kenabian (Al Manshurfury), ada juga yg menyatakan tahun 12 kenabian di bulan Ramadhan, atau satu tahun dua bulan sebelum hijrah[1].

Adapun Khadijah (r.a) telah wafat pada bulan Ramadhan tahun ke sepuluh kebangkitan Baginda, wafatnya beliau adalah sebelum shalat lima waktu difardukan, dan tiada khilaf bahwa shalat itu memang difardukan di malam berlakunya Isra’ dan Mi’raj, sehingga lebih beralasan kalau menyatakan Isra’ dan mi’raj itu terjadi masa-masa akhir sebelum hijrah. Sebelum khadijah wafat, Abu Thalib, paman beliau yang melindungi dakwah beliau juga wafat. Ditambah dengan tekanan dakwah yang semakin kuat sehingga tahun tersebut dikenal dengan ‘âmul huzn (tahun duka cita).

Beberapa Pelajaran & Isyarat dalam Isra’ & Mi’raj

Banyak pelajaran yg dapat dipetik dari isra’ dan mi’rajnya nabi Muhammad saw. Namun disini hanya akan diungkap 2 hikmah saja, yakni:

1. Isra’ mi’raj telah menyaring mana yang benar-benar beriman dan mana yang imannya ada kelemahan, sehingga yang tersisa hanyalah orang yang benar-benar imannya kuat, sedangkan yg imannya lemah kembali murtad ke agama nenek moyangnya.

2. Adanya Isyarat akan berpindahnya kepemimpinan manusia dari bani Israil kepada Nabi Muhammad dan umatnya. Isyarat ini dijelaskan oleh Syeikh Shafiyyurrahmân al-Mubârakfûriy (w. 1427H), pemenang hadiah pertama pertandingan seerah (sejarah kehidupan Rasul), Rabitah Alam Islamy, Mekkah, dalam kitab sirohnya, Ar Rahîqum Makhtûm. Beliau melihat bahwa dalam surat al Isra yang berisi 111 ayat, ternyata yang menceritakan peristiwa isra’ hanya satu ayat, yakni ayat pertama, setelah itu ayat berikutnya justru berbicara tentang kejahatan bani Israil dan informasi kehancuran mereka akibat kejahatan mereka.

Untuk mengemban amanah kepemimpinan umat ini adalah wajar kalau Allah menyeleksi diantara umat Islam di Makkah sehingga tinggal yang imannya kuat saja. Bahkan dalam situasi apapun, lemahnya aqidah merupakan atau keyakinan adanya faktor lain yang lebih berpengaruh terhadap kesuksesan daripada pertolongan Allah adalah penyakit yang berbahaya yang akan mengantarkan kepada kegagalan dan kehancuran. Allah mengingatkan akan salahnya anggapan sebagian sahabat yang bangga akan jumlah yang besar, yang disangka akan memberikan kemenangan namun jumlah yang besar tersebut tidak berguna. Ketika mereka menyadari, bahwa mereka berangkat untuk berjihad, ikhlas karena Allah SWT, mereka pun segera merapatkan kembali barisannya. Sesudah itu, Allah SWT menurunkan pertolongan-Nya.

لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الارْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ

Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikit pun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai. (At Taubah 25)

Dan tidak hanya berbangga dengan jumlah yang banyak saja, namun sebagian kaum muslimin (yang baru masuk Islam, jumlahnya sekitar 2000 orang dari 12.000 pasukan) keimanannya juga belum murni kepada Allah SWT. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Waqid Al Laitsi bahwa tatkala sekelompok kaum mu’minin dari para sahabat Rasulullah SAW keluar dari Makkah menuju (perang) Hunain (di mana sebagian mereka baru masuk Islam). Ketika sampai di sebuah pohon yang disebut Dzâtu Anwâth, mereka melihat kaum musyrikin menggantungkan senjata-senjatanya pada pohon itu dalam rangka meminta berkah. Abu Waqid mengatakan: “Maka tatkala kami melewati pohon yang hijau dan besar, kami berkata:”

يَا رَسُولَ اللَّهِ اجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْوَاطٍ

“Wahai Rasulullah, jadikan (pohon ini) Dzâtu Anwâth untuk kami”, dalam riwayat lain “Wahai Nabi Allah, jadikan pohon ini Dzâtu Anwâth untuk kami seperti halnya mereka memiliki Dzâtu Anwât” Rasulullah saw. menjawab

قُلْتُمْ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ كَمَا قَالَ قَوْمُ مُوسَى {اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةً قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ}

Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh kalian telah mengatakan seperti perkataan kaum Musa padanya (Musa AS): Buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala), sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala), Musa menjawab: "Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui" (QS Al A’râf: 138), (HR Ahmad No. 20892).

Oleh karena itu tidaklah mengherankan ketika dalam perang Hunain mereka awalnya tercerai berai, bahkan sebagian mereka berkata dengan perkataan yang menunjukkan penyakit hati yg masih ada di dadanya.

Oleh karena itu, sebelum Allah memberi kemenangan yang gemilang dengan berhasilnya umat Islam Hijrah ke Madinah dan menegakkan seluruh ajaran Islam di sana, adalah hal yang sangat penting membersihkan aqidah mereka dahulu.

Kenapa Bani Isra’il Digantikan?

وَقَضَيْنَا إِلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ فِي الْكِتَابِ لَتُفْسِدُنَّ فِي الْأَرْضِ مَرَّتَيْنِ وَلَتَعْلُنَّ عُلُوًّا كَبِيرًا

Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israel dalam kitab itu: "Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali [2]dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar. (Al Isra: 4)

Kemungkaran, kemaksiyatan, pengingkaran dan penyimpangan pelaksanaan hukum-hukum Allah SWT merupakan sebab kemunduran dan kehancuran umat manusia. Sejarah telah membuktikan bahwa Bani Israel yang berkuasa sejak 975 SM, karena penyimpangannya dari aturan Allah, 250 tahun setelah berjaya, kemudian berhasil diruntuhkan oleh raja `Asyur namanya Syanharib, dan ketika sudah hancur, mereka tidaklah bertaubat sehingga Allah mengerahkan tentara Babilonia di bawah pimpinan Bukhtanassar (Nebukadnezar), yang menawan dan menjadikan mereka sebagai budak[3].

Kehancuran karena kemaksiatan ini bukan hanya berlaku untuk Bani Israel, namun berlaku untuk siapa saja. Negeri Saba yang berkembang kira-kira tahun 1000 SM, negeri yang sangat makmur, namun karena kekufuran yg menyebar, maka Allah menghancurkan mereka.

فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِنْ سِدْرٍ قَلِيلٍ

Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr. (QS. Saba’: 16)

Dalam konteks keadaan kaum Saba ini Allah berfirman:

ذَلِكَ جَزَيْنَاهُمْ بِمَا كَفَرُوا وَهَلْ نُجَازِي إِلَّا الْكَفُورَ

Demikianlah kami memberi balasan kepada mereka disebabkan kekufuran (kengganan bersyukur) mereka. kami tidak menjatuhkan siksa yang demikian kecuali kepada orang-orang yang kufur (QS. Saba [34]: 17).

Tidak ada cara untuk berjaya kembali kecuali dengan taubat yang sebenarnya, yang diiringi dg sesegera mungkin menjalankan ketaatan sepenuhnya kepada Allah SWT. Sejarah membuktikan bahwa tatkala Bani Isreal bertaubat, maka Allah memberikan giliran kejayaan bagi mereka untuk berkuasa kembali pada tahun 536 SM, Allah berfirman:

إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا …

Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri (QS. Al Isra’ : 7). Kemudian Allah mengancam kalau mereka kembali durhaka maka Allah juga akan kembali menghinakan mereka:

عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يَرْحَمَكُمْ وَإِنْ عُدْتُمْ عُدْنَا وَجَعَلْنَا جَهَنَّمَ لِلْكَافِرِينَ حَصِيرًا

Mudah-mudahan Tuhanmu akan melimpahkan rahmat (Nya) kepadamu; dan sekiranya kamu kembali kepada (kedurhakaan), niscaya Kami kembali (mengazabmu) dan Kami jadikan neraka Jahanam penjara bagi orang-orang yang tidak beriman. (QS. Al Isra : 8)

*) Disampaikan di Masjid Mujahidin, 18 Juni 2011

Baca Juga:


[1] Al Mubarakfury, ar Rahîqum Makhtûm, hal 124, Maktabah Syamilah

[2] Menurut Tafsir Al Maraghi, yang dimaksud dengan membuat kerusakan dua kali ialah pertama menentang hukum Taurat, membunuh Nabi Syu’ya dan memenjarakan Armia di kala ia mengingatkan mereka akan kemurkaan Allah. dan yang kedua membunuh Nabi Yahya dan Zakaria, dan bermaksud membunuh Nabi Isa a.s. Akibat dari perbuatan itu, Yerusalem dihancurkan**. Mereka bukan hanya menentang hukum taurat, bahkan merubahnya, Allah Katakan:

فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُونَ

“Maka celaka besarlah bagi siapa saja orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya ‘Ini wahyu dari Allah’ (yang maksudnya tidak lain hanyalah) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit degan perbuatannya itu. Celaka besarlah bagi mereka tuliskan oleh tangan mereka sendiri, dan celaka besarlah bagi mereka akibat apa yang mereka kerjakan itu “ (TQS Al Baqarah 79)

[3] Tafsir Depag RI

Posted on 3 Juli 2011, in Makalah, Politik. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s